Kiai Mad, Kiai Berwajah Teduh Itu Telah Pergi | M Syamil Basyayif LA

Sejak beberapa hari terakhir, berkali-kali saya mendengar kabar, beliau, KH. Ahmad Qusyairi, sedang gerah “sanget”, berpindah dari satu Rumah Sakit ke Rumah Sakit demi mendapat perawatan terbaik. Kabar yang beredar, beliau sakit liver kronis. Beliau juga didiagnosa komplikasi, lambung beliau kena dampaknya. Menurut teman-teman yang sudah menjenguk beliau, tubuhnya lemas, badannya tampak semakin kurus. Ketika bersalaman dengan tamu, tulangnya benar-benar terasa. Kabar terakhir yg saya dengar, beliau dirujuk ke ruang ICU RSUD Blambangan malam Jumat kemarin.
Jumat siang. Cuaca di Blokagung amat panas. Terik matahari menyelinap masuk melalui celah-celah rerimbunan. Sepoi angin tak banyak membantu meski sekedar membawa hawa sejuk. Para santri beraktivitas seperti biasa. Ada yang bermain sepak bola, bersantai ria, bercengkrama, sebagian juga ada yang melangsungkan khataman al-Qur’an, instruksi dari Keluarga ndalem, untuk mendoakan Kiai Mad.
Tapi, suasana yang semula ramai mendadak hening, sepi, syahdu, dan “suwung”. Ketika speaker utama Masjid Darussalam bersuara dengan lantangnya. Suaranya memecah semua keramaian yang ada. Semua aktifitas santri mendadak berhenti, total tanpa terkecuali. Seolah mantra magis mencerabut perhatian mereka. Wajah mereka tampak cemas, telinga mereka menyimak dengan penuh was-was, mata mereka menatap penuh awas.
“Telah meninggal dunia, Al-Mukarrom KH Ahmad Qusyairi Syafa’at. Pada Jam 13.00 WIB, di RSUD Blambangan. Semoga amal ibadah beliau diterima di sisi Allah Swt. Al-Faatihah”. Suara pengumuman di “speaker” menggaung di segala penjuru.
Baca kisah selengkapnya hanya di www.fenoblog.com.
