Proses, Selfless dan Kamu

Feraldo Lorenzo
Nov 4 · 6 min read

Bulan Oktober ini tengah diadakan PEMIRA HIMATIKA ITB, yang bertujuan untuk mencari calon formatur tunggal yang nantinya akan menjadi Ketua HIMATIKA ITB, serta merealisasikan tujuan-tujuan lain yang dimiliki oleh sang ketua panitia pelaksana PEMIRA HIMATIKA ITB. Dan tahun ini, adalah giliran untuk angkatan CONVERGENT (Matematika 2017) untuk menerima obor kepengurusan HIMATIKA ITB. Dan jika boleh jujur bercerita, keadaan angkatanku ini tidak begitu baik. Aku memerhatikan angkatanku dengan baik, dan bisa kukatakan hal ini dengan cukup keyakinan : Tidak ada orang di angkatanku yang cukup sayang dengan himpunan ini untuk menjadi seorang ketua himpunan. Memang kami cukup senang bersenda gurau, bercanda sambil menunjuk-nunjuk siapa yang nantinya akan mengambil berkas dan mencalonkan diri sebagai ketua himpunan. Namun masing-masing dari kami tahu kenyataan pahit yang tengah terjadi, bahwa tidak ada yang memiliki keseriusan untuk melakukan hal tersebut.

Mengapa hal ini bisa terjadi?

Sejujurnya angkatanku adalah sekumpulan orang yang cukup dikecewakan dengan sistem kaderisasi di HIMATIKA ITB, yang apesnya, memiliki kualitas buruk pada saat kami menjadi calon anggota HIMATIKA ITB. Tugas-tugas yang tidak jelas esensinya, perlakuan buruk dari panitia osjur, dan kekurangan-kekurangan lainya yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Dan kekecewaan ini tidak berhenti hanya sampai pada saat FOKUS HIMATIKA ITB (sebutan untuk osjur HIMATIKA ITB) selesai, karena bahwasanya, terlepas kekecewaan selama osjur, masih ada orang-orang yang memiliki mimpi dan harapan besar di HIMATIKA ITB. Namun kenyataan yang kami terima pada saat menjadi anggota himpunan, berbeda jauh dengan apa yang diceritakan kepada kami pada saat FOKUS. Segala hal baik yang disebutkan oleh kawan-kawan HIMATIKA ITB, rasanya menjadi kebohongan besar setelah melihat realita yang ada di dalam himpunan ini.

Asas dari HIMATIKA ITB adalah “Kekeluargaan yang didasari nilai-nilai pancasila”. Tidak perlu perhatikan nilai-nilai pancasila yang ada pada kalimat tersebut, cukup perhatikan kata kekeluargaan. Ironisnya, himpunan yang mengaku-ngaku menjunjung tinggi kekeluargaan ini, memiliki tidak sedikit anggotanya yang dengan mudah membuang muka pada saat disapa ketika bertemu di area kampus. Kakak tingkat kami menunjukkan individualisme yang tinggi serta begitu terlihat lingkaran-lingkaran yang terbentuk dalam angkatan di HIMATIKA. Lantas sering aku bertanya : “Kekeluargaan dimananya?”

Dan kekecewaan yang ada, menumpuk hingga keadaan menjadi seperti sekarang. Terlepas bahwa tidak adanya calon ketua himpunan, angkatanku mayoritas merasa aman-aman saja, bahkan tidak merasa adanya masalah. Bukankah itu bentuk tertinggi dari suatu masalah? Di saat orang-orang tidak lagi peduli dengan keadaan yang ada?

Awalnya kukira keadaan yang terjadi sekarang merupakan hal yang wajar mengingat apa yang telah kami lewati selama berhimpun di HIMATIKA ITB. Namun sekarang aku merasa, bahwa kami hanya memakai alasan kekecewaan sebagai pembenaran atas kondisi yang terjadi. Kekecewaan memang terjadi, namun kami tidak berusaha belajar dari kekecewaan tersebut, dan terus bersembunyi di balik alasan itu. Bukankah pada saat surat keputusan dibacakan, bahwa kita semua telah dinyatakan sebagai anggota sah HIMATIKA ITB, bukan hanya jaket himpunan yang kita terima, namun juga segala kedinamisan yang ada di dalamnya? Baik itu merupakan hal yang baik maupun buruk? Bukankah kita juga menerima amanah untuk menjalankan serta menjaga himpunan ini dengan baik, serta menjadi teladan bagi adik-adik kita yang menyusul nanti?

Tidakkah segitiga merah di lengan kanan kita tidak hilang, meskipun jaket himpunan tidak dikenakan?

Kalimat yang menggoyahkan hati

Sudah beberapa minggu terakhir, hampir sebulan, setiap kali aku berjalan di kampus dan bertemu dengan teman-teman di luar jurusan matematika, mereka semua menanyakan hal yang sama : “Kapan ambil berkas?”

Semua kuanggap sebagai candaan biasa, sampai aku kembali menatap angkatanku, himpunanku, dan menyadari bahwa ada krisis kepemimpinan yang tengah terjadi. Dan entah kenapa, ada sedikit percikan dalam hati yang membisikkan rasa tanggung jawab, yang mulai membesitkan pikiran untuk mengambil berkas. Mungkin karena proses seleksi Komandan Lapangan KAT ITB 2019 yang sudah aku lewati, aku merasa bahwa mungkin aku akan cukup kuat menghadapi tantangan yang menanti di depan jika aku menjadi ketua himpunan. Teman-teman angkatanku tidak melewati proses yang sama, mungkin mereka pernah menjalani proses yang lain, yang bahkan mungkin lebih berat dari apa yang telah aku lewati, tapi hal itu kurasa amat asumtif. Yang aku tahu pasti, proses yang kulewati akan membantuku menghadapi kesusahan yang ada jika aku menjadi ketua himpunan. Karena seperti kata para penyeleksi seusai diumumkan bahwa aku tidak lolos seleksi : “Sekarang kamu udah punya modal untuk berkontribusi dimanapun, manfaatkan pembelajaran yang didapat dengan baik dan teruslah menebar kebermanfaatan!”

Lucunya, hal yang membuatku sempat terpikirkan untuk mencalonkan diri sebagai ketua himpunan, justru juga menjadi hal yang menahanku. Aku merasa bahwa aku tidak layak, atau paling tidak belum layak untuk menjadi ketua himpunan. Karena kegagalanku pada saat seleksi, aku merasa tidak cukup kompeten untuk menjadi seorang pemimpin yang baik. Betul banyak orang berkata bahwa diriku mampu dan kegagalanku di seleksi komandan lapangan tidak ada hubungannya dengan kelayakan sebagai seorang pemimpin. Namun percayalah, bahwa hal ini sudah menghantuiku sejak lama. Setiap kali bertemu dengan teman-teman seperjuangan seleksi yang berhasil menjadi komandan lapangan, aku selalu merasa minder dan tidak percaya diri untuk berbincang dengan mereka. Ketika bertemu dengan Bang Royyan (Presiden KM ITB saat ini) yang dulu selalu kusapa sambil tersenyum ketika proses seleksi komandan lapangan, kini muncul pikiran negatif setiap kali bertemu dengan beliau. Aku merasa tidak setingkat dengannya, merasa bahwa aku berada pada taksonomi lebih rendah darinya. And please don’t look at this as some sort of self pity, but trust me, i can’t help it. Karena tidak seperti mereka-mereka yang berhasil memimpin OSKM ITB, tidak seperti beliau yang memimpin pergerakan melawan pelemahan terhadap KPK,

Aku cuma orang gagal.

Nilai penting, untuk kalian yang bersedia berpikir

“Himpunan engga pernah ngasih apa-apa, semua pembelajaran yang kalian dapat disini, semuanya kalian cari sendiri. Kalau kalian masuk himpunan cuma karena ingin jahim, silahkan ambil punyaku sekarang. Itu cuma jaket. Tapi ingat bahwa cuma itu yang kalian dapat, engga lebih.”

Begitu kataku, ketika diminta pesan oleh calon anggota HIMATIKA ITB saat wawancara kawan di rangkaian tugas FOKUS. Kalimat di atas merupakan manifestasi dari apa yang kurasakan di HIMATIKA ITB. Aku merasa bahwa HIMATIKA tidak memiliki apa-apa untuk diberi, anggotanya yang harus mencari pembelajaran secara mandiri untuk mendapatkan sesuatu dari HIMATIKA. Nilai ini kupegang teguh hingga sekarang, dan berusaha aku tanamkan kepada setiap anggota HIMATIKA ITB terutama pada adik-adikku yang baru saja menjadi anggota himpunan. Sebab aku tidak bersedia menurunkan idealismeku hanya karena angkatanku gagal berlaku demikian. Aku ingin berhenti bersembunyi di balik alasan kekecewaan.

“Jangan lupa selfless!”

Wawancara kawan selalu kututup dengan pesan tersebut kepada calon anggota HIMATIKA ITB. Aku percaya, disabilitas terbesar dalam hidup adalah sikap yang buruk. Berintelektual tinggi, berharta banyak, dan segala kelebihan lain yang kita miliki tidak akan ada gunanya jika kita lupa untuk membantu orang lain. Saat kita sudah lupa untuk memikirkan orang lain, menurutku kita sudah gagal sebagai manusia. Aku percaya bahwa kunci untuk menjadi seorang pemimpin yang baik adalah Selfless, aku percaya bahwa mengurangi kenyamanan diri sendiri untuk membantu orang lain bukanlah suatu kerugian.

Berdasarkan pengalaman-pengalaman di atas, aku merumuskan seorang pemimpin bukanlah seseorang yang paling tahu, bukanlah seseorang yang berdiri di atas, yang paling berwibawa, atau yang paling kuat dan pintar dari semuanya. Buatku, pemimpin adalah seseorang yang selfless, yang tidak tahan untuk tinggal diam saat melihat orang lain butuh bantuan, orang yang pertama kali bergerak saat melihat sesuatu yang salah, seseorang yang ramah dan selalu melempar senyum pada orang lain. 3 tahun di kampus Ganesha ini, and that’s my take on what a leader is.

Sebagai penutup, mungkin tulisanku terlihat tidak terstruktur dan lompat sana-sini. Tapi yang ingin aku sampaikan bagi yang membaca, adalah : Ini prosesku, dan amanah tidak pernah menjadi suatu hal yang mudah untuk diemban.

Mungkin kalian telah menjalani proses yang berbeda, memiliki pemikiran yang berbeda dan memiliki keberanian yang berbeda. Percayalah bahwa amanah datang bagi mereka yang senantiasa ingin belajar dan menebarkan kebermanfaatan. Jadi untukmu yang merasa tidak layak, tidak mampu, ataupun masih dalam keadaan bingung,

Jika kamu setuju dengan apa yang kukatakan, maka kamu sudah menjadi seorang pemimpin saat kamu bersedia mengesampingkan egomu untuk orang lain.

Semoga bisa memantik hati-hati yang tengah mencari inspirasi

    Feraldo Lorenzo

    Written by

    Data Scientist in the making

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade