Manisku

Menilik rasa yang muncul saat kita duduk bersama di sebuah kafe di tengah Jakarta membuatku ingin tertawa kecil. Beberapa ratus hari kemudian kita ternyata masih menjadi orang-orang yang sama, yang menemukan arti dan kebahagiaan di tempat yang mungkin tidak seharusnya. Aku yakin bahwa adalah sebuah kesalahan untuk mencari kebahagiaan karena dia sebenarnya hanya tersimpan rapi di dalam hati, kamu kadang perlu satu dua rupa yang membawanya mudah hadir ke permukaan.

Sekian ratus hari yang tidak diwarnai dengan jutaan kata-kata indah dalam bahasa Indonesia. Tidak ada rayuan, tidak ada ungkapan-ungkapan penuh kebohongan, tidak ada manipulasi perasaan. Dalam sepersekian detik aku sadar bahwa cinta yang manis dan renyah dan ingin terus kulahap bukan cinta yang baik. Tidak ada yang salah dengan janji manis, tidak ada yang salah dengan membawa hamparan harapan, hanya saja ketika yang manis kemudian disandingkan dengan jutaan cerita lain yang tidak manis,

tidak ramai,

tidak berhias romansa

namun selalu ada,

selalu bisa disandarkan,

selalu melindungi,

selalu bisa dipercaya,

selalu di nomor satu entah jam satu siang atau lebih sering jam satu pagi,

di antara cerah dan panas kota Jakarta atau angin dingin kota Coventry,

di sisipan pulang jam 11 malam atau tidak ngapa-ngapain seharian,

semua yang manis dan menyenangkan tadi kontan berubah arah, jadi seperti kosong atau nol besar.

Hey, ada yang lebih baik dari kata-kata lembut yang ku tulis, dan ada yang lebih indah dari momen-momen kita yang manis,

setia dari tahun satu sampai tahun sejuta.

Oh tidak, kamu tidak akan menemukannya dari wajah cantik.

Atau dari otak pintar.

Atau dari rasa posesif.

Atau dari ambisi ingin seperti orang lain. Atau dari keinginan untuk kelihatan berbeda.

Atau dari sebersit pengakuan.

Atau dari rasa takut kehilangan.

Atau dari kecemburuan.

Atau dari memaksa untuk A B C.

Atau dari menghindari kenyataan.

Kenyamanan mahal punya kita

yang tidak perlu ditukar dengan kata rindu atau kata selamanya.

Tidak perlu ditukar dengan cincin atau ungkapan serius atau booking gedung kawinan.

Untukku manis, sekarang bukan itu parameternya.

Kamu bisa saja serius dan menikah

tapi tidak benar-benar serius dan juga tidak benar-benar menikah.

Lebih penting yang lain,

bukan janji dan status, dan buku kawin.

Bersama berbahagia. Boleh ditambah satu dua semprot Santal 33. Secangkir latte lagi. Satu jam telpon lagi. Sambil tertawa.

Lebih jelas.

Dan cukup.

Coventry, Winter 2018