Perjodohan Ini

Erin Triyogo
Sep 4, 2018 · 5 min read

Aku melirik jam tanganku. Sudah 2 jam aku menunggu Kevin, tapi belum juga ada tanda-tanda kedatangannya. Beberapa kali juga kulirik smartphone milikku tapi sama saja hasilnya. Masa bohong lagi? Pikirku. Ini sudah yang ketiga kalinya dia mengajak bertemu, dua sebelumnya dia tidak jadi datang dengan berbagai alasan. Aku sendiri cukup lelah ditipu seperti ini, tapi mau bagaimana lagi, jika dia bukan anak teman papa, aku pasti langsung menolak.

Ceritanya, kami pertama bertemu di reuni akbar kampus papa. Ya, kebetulan Kevin anak sahabat baik papa di zaman kuliah kedokteran. Kevin sendiri sekarang sedang kuliah jurusan Hukum, sedangkan aku kuliah Komunikasi. Kalau tidak karena acara reuni itu, tentu saja mustahil buatku untuk mengenal Kevin meskipun kampus kami bersebelahan. Di acara itu aku dan Kevin sama-sama menemani ayah kami karena kebetulan ibu kami memiliki kesibukan lain. (Ya, ibuku mengurus toko baju muslim milik keluarga kami yang lumayan maju setiap hari). Kami berbicara banyak. Kevin sangat pandai bercerita dan melontarkan jokes-jokes yang sama sekali ga jayus. Gaya berpakaiannya yang agak british dan rambutnya yang ikal membuatku sedikit.. tertarik dengannya. Well, biarpun agak kepedean, aku bisa bilang aku termasuk cewek populer di kampus. It will be good if we can be together, batinku saat itu.

Alasan konyol kenapa aku mau-mau saja menjadi plus one papa ke reuni akbar itu juga karena aku butuh penawar sakit hati. Kemarin sorenya, pacarku, eh salah, mantanku yang sudah menjalin hubungan denganku setahun belakangan ini minta putus. Alasannya sepele, katanya aku terlalu banyak marah-marah. Pucuk dicinta, ulam tiba. Bertemu dan ngobrol panjang dengan Kevin membuat perasaanku jauh lebih baik, padahal juga baru patah hati sehari.

Papa yang saat itu dari kejauhan melihatku ngobrol asik dengan Kevin hanya senyum-senyum saja. Begitu sampai rumah, beliau langsung bertanya kepadaku, “Na, kamu mau ga kalau Papa jodohin sama anaknya Om Ricky?”. Mukaku langsung merah padam. “Ih, Papa kok bisa ngomong gitu. Kayak Kevin mau aja sama aku,” jawabku sambil tertawa kikuk, malu banget ketauan Papa. “Ya, itu urusan belakangan. Nanti Papa bilangin Om Ricky ya.” “Jangaaan Pa, aku kan malu. Masa aku yang agresif ? Please, ga usah, Pa.”. Dalam hati sih aku senang-senang saja. Ga ada ruginya juga kalau beneran dijodohin sama Kevin. “Papa ga akan bilang kamu naksir, kok. Pokoknya biar Papa yang atur, kamu tau beres,” jawab Papa sambil senyum-senyum. Yeah that is so my dad..

Kejadian itu pun berulang kali ku-rewind dalam pikiran. Sudah sebulan berlalu sejak Papa berkata demikian. Dalam sebulan itu, dengan ini, sudah 3 kali pula dengan ini Kevin mengajak bertemu, namun membatalkan tanpa penjelasan lebih lanjut. Di dua momen yang sebelumnya, dia menghilang seharian dan baru muncul keesokannya dengan sebatang coklat dan meminta maaf. Bagaimana mungkin aku ga memaafkan senyumnya yang kekananakan itu? Namun, ya begitu. Kejadian yang sama pun terus berulang. Aku memasukkan smartphone dan dompetku ke dalam tas. Baru saja kubayar bill cappuccino yang lagi-lagi hanya habis untuk menunggu, bukannya teman bercakap-cakap dengan si tampan.

Ketika aku siap berdiri dari sofa, sesosok bayangan terlihat di sebelahku. Aku menengok ke samping. Kevin.

“Irena, maaf ya aku terlambat. Kali ini 3 jam. Tapi aku ga mau harus ketiga kalinya ke rumahmu membawa coklat dan meminta maaf lagi,” ucap Kevin sambil tersenyum. Aku diam dan sedikit bingung harus berbuat apa. Rasanya, emosi sudah memenuhi ruang di dadaku. “Sekarang apa lagi, Kev?”. Aku mencoba bersuara biasa saja, namun suaraku masih terdengar getir.

There is something I should’ve told your from the first time we met, Na. Cuma aku bingung bagaimana mesti mulai cerita sama kamu. Bagaimana harus menjelaskan ke ayah dan Papa kamu.” Kevin pun duduk di sofa seberang tempatku duduk. Aku menatap matanya lekat. Mata jenaka yang biasa terlihat ceria itu kini agak redup sinarnya.

I have a girlfriend, Na. Her name is Saski.”

Aku langsung bergegas bangun dari sofa dan mengambil tasku. Sungguh terlalu Kevin. Dia membuatku menunggu, dia membuatku berharap, dan dengan mudahnya saja dia berkata seperti itu!

“Na, please, listen first, after that you’re free to go or choose what to do with us.”

“There is no us, Kev,”jawabku sambil menahan tangis.

“Na, jangan nangis.. Aku mohon, dengerin dulu. Ada sesuatu yang harusnya aku ceritain ke kamu dari pertama kita ketemu. But at that time, I felt happy too, I just didn’t want to ruin our happiness”. Aku mencoba menghormati Kevin dan menenangkan diriku sendiri. Aku menatapnya tajam. Don’t you dare to lie to me, Kev.. batinku.

“Aku berpacaran dengan Saski sejak kelas satu SMP, Na. Dia gadis yang periang dan pandai melukis. Kami bertemu di galeri seni langganan Ayah. Waktu itu, dengan usia semuda itu, lukisan Saski sudah dijual disana.”

Sekarang dia malah membangga-banggakan wanita lain? Good, Kev.

“Ayah membeli lukisan Saski dan menaruhnya di kamarku. Lukisan itu bergambar mercusuar dengan latar belakang berwarna putih. Berulang kali aku bertanya kepada Saski apa makna di balik lukisan tersebut tapi dia tidak pernah mau menjawab.”

“Kami menjalani kehidupan seperti biasa, sampai setahun yang lalu, sesaat setelah wisuda SMA, Saski pingsan dan dilarikan ke rumah sakit.”

“Hingga detik ini, Saski masih di rumah sakit, Na”. Aku pun tercekat. “Saski memiliki jantung yang sangat lemah bawaan sejak lahir., Na. Dia pasien papa kamu sejak dulu, tapi rahasia itu terjaga dengan baik karena kondisi Saski sangat prima. Tapi sejak ia pingsan saat itu, kondisinya malah makin melemah dari hari kehari.”

“Kev, aku begitu bersimpati dengan ceritamu, dengan pacarmu yang tengah sakit. Aku percaya, Papa merupakan salah satu dokter spesialis jantung terbaik di kota ini. Tapi kenapa, Kev, di saat kamu tahu, pacar kamu membutuhkan kamu lebih dari apapun, kamu malah membuang-buang waktu kamu denganku?”, tanyaku sambil kembali menangis.

“Saski, semenjak kejadian itu, berubah sekali, Na. Dia sudah bukan lagi Saski yang periang. Sepanjang waktunya ia habiskan untuk marah dan menolak kenyataan. Dia menolak kedatanganku, memperlakukanku dengan kasar. I’m no longer happy, Na. Then, came the moment when I met you. Kamu berhasil menerangkan cahaya hatiku yang sudah redup, Na. Saat bertemu kamu, aku sudah sebulan berhenti menyambangi Saski di rumah sakit. Tapi setelah ngobrol panjang denganmu, aku punya kekuatan lagi. Meski yang kutemui di rumah sakit adalah cacian dari Saski ataupun perilakunya yang kasar. Saski iri kepadaku yang sehat dan dapat menikmati dunia. Dia benci kalau aku harus ikut stay di rumah sakit sepertinya, padahal aku tidak sakit.”, Kevin terlihat berkaca-kaca.

I really want to choose to be with you, Na. Fulfilling my promise and stuffs. Dua pertemuan sebelumnya yang gagal ingin rasanya kutebus dengan lebih dari ucapan maaf serta sebatang coklat. Dua kali itu, aku di rumah sakit, menemani Saski yang kondisinya melemah dan melemah. Amarah yang menyelimutinya memakan habis energinya, Na. Dia semakin kurus dan sakit. Dia semakin marah. Hal tersebut seperti lingkaran setan yang semakin hari semakin menggerogotinya.”

“Kevin, I appreciate your story and I really wish Saski will get better. I am here to help you,” jawabku sambil menggenggam tangannya. “Tapi aku ga akan menunggu kamu, Kev. Perjodohan and the whole other stuffs mungkin hanya akan memberatkan kamu. If we were meant to be, we will be.”, jawabku sambil kemudian mengambil tas dan berjalan pergi.

No matter how tough it is, Kevin should choose. I know he can handle it, just like how good I handle my broken heart right now.

Erin Triyogo

Written by

I enjoy writing about life, love, and fiction, too.