Sebuah terima kasih dan jari tengah untuk Malang

Ah, aku baru saja menyeduh kopi ke 3 ku ketika menulis ini, sehari sebelum aku benar benar meninggalkan kota yang telah jadi tempat tinggal untuk 4.5 tahun…..

Ah, kopi di malam hari untuk menulis sesuatu yang melankolis terkadang dramatis juga, andai paru-paru ku tak ngadat akhir akhir ini, mungkin ada sebatang rokok berputar di jari.

Mari kita bercerita tentang perjalanan naik turun dan pait pait selama di Malang.

Malang, bakal menjadi bagian dari cerita paling buruk dan paling ngehek selama selama 23 tahun hidup tapi juga menjadi bagian dimana aku belajar

Ya, Malang menjadi bagian bagaimana seorang Ferry Fadhlurrahman belajar, belajar dan belajar. Aku…. belajar tentang hidup selama di Malang.

Masuk kuliah sebagai cowok introvert yang hobi galau dan sok keren jadi laki-laki brewokan filosofis dan idealis yang udah nyepeleiin hidup. Dari bocah yang merasa kalau materi adalah sebuah makna dari kesuksesan jadi orang yang mikir uang itu adalah nomor 5 dan yang paling penting itu adalah karya.

Aku masih ingat bagaimana rasanya memimpin sebuah kelompok kerja dalam tugas sampe mimpin event dengan kontrak puluhan juta, di mata orang dan tim mungkin hasilnya memuaskan. Tapi dalam proses memimpinku berantakan, cara komunikasiku gak karuan dan aku menganggap semua project yang pernah aku pimpin itu gagal, karena aku. Sifat self-critism itu, yang membuat aku menjadi pemimpin yang lebih baik seterusnya. Selanjutnya, gak ada kata gagal lagi.

Hmmmmmmm, aku kadang bingung kenapa asam lambungku tak pernah kumat padahal aku minum kopi bisa 2–4 kali sehari.

Ngomong soal kopi, mungkin tempat yang paling sering aku belajar adalah teman diskusi ku di tempat ngopi. Ya, aku jatuh cinta kepada teman teman diskusiku. Semua. Nya. Mau teman diskusi bola, karir, politik, sex, filosofi, pop culture ataupun jodoh. Aku jatuh cinta kepada mereka semua. Mereka bakal jadi hal yang paling sering aku rindukan nanti, bahkan aku masih di Malang pun aku sudah rindu mereka.

Diantara teman-teman diskusi yang selalu ada. Diantaranya ada beberapa yang hanya datang selewat, yaitu para gebetan, hahaha. Mungkin aku benar benar harus berterima kasih kepada mereka satu per satu sudah bersedia menemani dan aku temani selama 4.5 tahun. Nampaknya pelajaran yang paling aku senangi selama di Malang adalah pelajaran tentang berbicara/mendekati dengan perempuan. Temanku pernah bilang

Pey, kamu jangan keseringan bikin cewe baper coba

Aku tertawa dengar itu. Tak ada niat aku seperti itu, hanya terkadang lebih menyenangkan untuk makan atau nonton dengan perempuan daripada dengan lelaki.

Dan ya, bagaimanapun ceritaku selama di Malang atau bahkan kalau mau aku bilang selama 6 tahun terakhir, cuman satu orang yang benar benar berhasil menggenggam tangaku. Aaaand it doesnt work out well. And it sucks. Fuck.

By the waaaaay. Ah, iya. Teman teman diskusi ku, aku bakal rindu mereka. Mungkin hal yang paling di rindukan dari Malang adalah orang-orang nya. Sebagai seorang yang menghargai hubungan, agak berat juga pergi dari mereka.

Hingga akhirnya, aku pikir Malang seperti dosen pembimbing killer yang bijaksana, kamu bakal benci dengan mereka tetapi sekaligus bersyukur karena di bimbing mereka.

Karena itu, untuk Malang tercinta, aku ucapkan terima kasih sebesar besarnya dan jari tengah setinggi tingginya.

Sampai berjumpa lagi.

Salam cinta,

Ferry Fadhlurrahman