Kebijaksanaan Sexual Kita

Manusia Indonesia bisa serius belajar soal Agama, Politik, Ekonomi, hingga Ilmu Alam, namun tidak pernah serius dalam mengenali nafsu selangkangannya sendiri.

Saya barusan membaca sebuah dua artikel yang membahas tema pelecehan sexual di lingkungan perguruan tinggi. Kasus pertama bercerita tentang pelecehan sexual mahasiswa kepada mahasiswi pada waktu KKN dan kasus kedua menarasikan cerita seorang mahasiswi yang dipaksa berhubungan sexual oleh dosen dengan ancaman melalui kekuasaan dan penyebaran foto telanjang si mahasiswi.

Kedua kasus itu terjadi pada dua institusi pendidikan tinggi yang berbeda satu di Jogjakarta satu lagi di Bali. Kedua kasus itu memiliki kesamaan, yaitu sikap institusi yang berusaha menutupi kasus dengan alasan menyelamatkan nama baik Kampus. Institusi pendidikan tinggi berusaha mengelak terhadap tuduhan dengan melemparkan kasus kepada “oknum” dan menyangkal tindakan tersebut tidak berkaitan dengan institusi karena dilandasi oleh sikap pribadi pelaku. Beberapa pejabat kampus tidak kalah ekstrim dalam menanggapi kasus, dengan melemparkan sebagian tanggungjawab kepada korban dengan dalih korban yang memancing kejadian pemerkosaan.

Kasus-kasus yang berhubungan dengan pencederaan terhadap kehormatan merupakan momok menakutkan bagi perguruan tinggi sebagai lembaga pendidikan puncak peradaban manusia, yang merasa sudah tidak sepatutnya mengurus ajaran mengenai “moral-moral dasar manajemen selangkangan” karena berasumsi ranah itu sudah diambil oleh lembaga keagamaan, keluarga dan pendidikan dasar, namun benarkah begitu?

Saya teringat kembali kepada kenangan masa pendidikan dasar mulai dari MI hingga SMA, dalam usaha mengingat satu-satunya bab yang paling dekat dengan sexualitas hanya pelajaran biologi mengenai sistem reproduksi manusia pada tingkat MTs. Selain pelajaran biologi, masalah sexualitas dipelajari lewat ancaman api neraka pelajaran agama, komik mini siksa neraka, dan penemuan terbesar manusia abad 21 “Internet”(silakan dimaknai sendiri).

Pelajaran sexualitas dari sumber sekolah yang sifatnya normatif nan pasif dan Internet liberal merupakan kombinasi sempurna untuk memicu rasa ingin tahu remaja yang sedang dalam puncak masa puber untuk “praktek”. Sepanjang menempuh masa sekolah saya mendengar banyak cerita tentang “praktek” teman-teman mulai dari proses ciuman,pembuatan adegan porno, tanpa rekaman, teknik hitungan agar tidak hamil, hingga tips mencegah kehamilan ketika ejakulasi di dalam alat kelamin. Semua cerita itu berkeliaran secara natural dikalangan siswa tanpa rasa takut ketahuan Guru, padahal kesepakatan normanya tidak berubah “sex pranikah itu amoral dan berbahaya.” Begitu sempitnya ruang pendidikan untuk membicarakan sexualitas dan resiko atasnya menjadikan generasi saya memiliki kesimpulan yang relatif sama “sex adalah bagian dari hiburan anak muda.”

Tutup mata lembaga pendidikan terhadap masalah sexualitas membentuk generasi yang hobi bersetubuh tapi gagap dalam tanggungjawab. Pendidikan Indonesia membentuk manusia yang terampil dalam bekerja, mantap dalam prestasi, dan lanyah dalam bicara baik mengenai bidang keilmuan maupun mengenai norma, namun dalam mananjemen selangkangan tidak lebih bijaksana dari bocah usia 5 tahun.