Apakah Perempuan Ditakdirkan Selalu Benar?

Perempuan Selalu Benar dan Laki-laki Selalu Salah Seharusnya Tidak dianggap Sebuah Kebenaran

Fergie A Esmirelda
Jul 28, 2017 · 4 min read

source: tumblr.com

Bayangkan ketika kamu sedang berdebat dengan lawan bicaramu yang kebetulan seorang laki-laki lalu tiba-tiba ia mengeluarkan pernyataan seperti ini:

“ Ah cowok kan selalu salah di mata cewek! ya mau gimana lagi?”

“Iya-iya cewek emang selalu bener, kita cowok ngalah aja deh”

“kamu kenapa sih? lagi PMS ya?”

Saya yakin kita sering mendengar pernyataan-pernyataan seperti di atas dalam kehidupan sehari-hari. Pernyataan-pernyataan itu bisa ditemukan di selal-sela obrolan saat sedang kongkow, lirik lagu, puisi, atau bahkan dalam bentuk jokes receh yang di-post di media sosial sebagai memes.

Kedengarannya memang seperti lelucon yang tidak berbahaya. Tapi, coba perhatikan isi komentar negatif di atas. Hanya karena satu macam stigma, si pemberi komentar yang sepertinya baru saja kalah berdebat karena kehabisan argumen logis ini langsung memainkan kartu truf: berdebat dengan perempuan pada dasarnya tak ada gunanya, karena perempuan adalah makhluk cengeng ngeyelan yang tidak punya logika. Ego dan harga diri si pemberi komentar yang tidak mengizinkannya dikalahkan perempuan rupanya memberinya amunisi pembenaran klasik khas patriarki: levelnya sebagai laki-laki ada di atas perempuan. Maka ia menertawakan dan meremehkan perempuan.

Duh! Sebenarnya saya cukup gerah dengan pernyataan-pernyataan ini. Loh, tapi kenapa kamu gerah, toh kamu kan perempuan seharusnya kamu senang dong.

Seriously tho, saya sama sekali tidak merasa senang dan diuntungkan dengan stigma bahwa perempuan selalu benar. Kenapa? Ya karena itu seksis. Mungkin ada yang masih bertanya-tanya what the hell is ‘sexist’? Jadi menurut google dictionary, seksis itu:

adjective: sexist

relating to or characterized by prejudice, stereotyping, or discrimination, typically against women, on the basis of sex

Atau kalau boleh saya terjemahkan seksis (sexist) adalah bentuk bahasa atau perlakuan yang memosisikan salah satu jenis kelamin (sex) pada tataran subordinasi (inferior) atau tidak setara. Kebanyakan para pakar linguis mendefinisikan seksis sebagai bentuk ketidakadilan gender karena bahasa yang digunakan merepresentasikan posisi laki-laki lebih dominan(superior) ketimbang perempuan.

Nah, jadi sekarang jelas kan mengapa saya tidak senang dianggap selalu benar hanya karena saya perempuan. Perempuan seringkali dicap sebagai makhluk emosional sehingga diremehkan ketika ia berbicara atau mengeluarkan pendapatnya. Bagaimana perempuan bisa maju, jika pendapatnya dianggap tidak logis dan dikaitkan dengan stereotip bahwa perempuan itu sensitif, sedang PMS, suka iri dengan kecantikan perempuan lain, dan seterusnya.

Apakah karena tubuh perempuan mengalami yang namanya PMS, lantas semua perempuan adalah makhluk moody, emosional, dan tidak/kurang rasional dibandingkan laki-laki? Apakah karena perempuan terkadang sulit menentukan pilihan (misalnya antara dua model baju yang sama-sama keren), lantas laki-laki tidak mungkin melakukan hal yang sama? Apakah karena beberapa perempuan punya sifat ngeyelan, lantas semua perempuan adalah makhluk tak logis yang harus selalu dibuat merasa benar hanya agar dia merasa senang? Apakah karena perempuan menikmati perasaan disayang dan dimanjakan, lantas semua perempuan adalah makhluk cengeng dan rapuh yang harus selalu diemong dan dituntun oleh laki-laki?

Unfortunately, sayang beribu sayang banyak perempuan yang “berlindung” di balik kenyataan ini. Perempuan seringkali dengan senang hati mengiyakan dengan menganggapnya sebagai keuntungan atau privilege, mengiyakannya sebagai kodrat, dan menggunakannya sebagai modal tawar agar memperoleh apa yang dikehendaki sehingga membuat laki-laki serasa mati kutu. Bahkan menganggapnya sebagai klarifikasi tentang mengapa perempuan itu spesial dan harus diperlakukan spesial pula.

Tapi apakah benar bahwa emosional, plinplan, tukang ngeyel yang susah diberi tahu, senang dimanja dan disayang merupakan sifat spesifik perempuan sebagai satu gender tersendiri, atau sifat yang bisa dimiliki manusia mana saja? Ya jelas bisa dimiliki oleh manusia mana saja. Tidak selamanya saya benar, tentu saja saya bisa salah, atau emosional, atau jadi cranky karena tidak enak badan saat menstruasi, atau senang dimanja. Tapi itu karena saya manusia, bukan karena saya perempuan.

So, girls apakah kita rela jika kapasitas otak dan kemampuan kita sebagai perempuan diremehkan hanya karena lelucon sehari-hari yang tidak penting dan tidak krusial untuk hidup siapa pun? apakah kita rela jika kita dianggap makhluk tak logis hanya karena kita mengalami menstruasi dan perubahan hormonal sebulan sekali?

I don’t think so.

Bayangkan jika semakin banyak orang yang memercayai generalisasi atas sifat-sifat perempuan. Dulu, Megawati Soekarnoputri dipandang tidak layak untuk menjadi presiden Republik Indonesia karena ia perempuan dan perempuan katanya makhluk emosional. Dalam banyak jajaran direksi perusahaan-perusahaan besar, jumlah perempuan yang menjabat hanya segelintir, karena katanya kemampuan memimpin dan manajerial seorang perempuan tidak sebaik lelaki.

Juga kepada Malala Yousafzai, seorang gadis Pakistan yang pernah ditembak di kepala oleh tentara Taliban karena tulisannya soal hak-hak pendidikan kaum perempuan di negerinya? Atau R.A. Kartini, yang di tengah keterbatasannya untuk melawan sistem feodal masyarakatnya saat itu, tetap sanggup memiliki pemikiran-pemikiran yang jauh lebih progresif dari kebanyakan kaum lelaki ningrat di zamannya?

Tapi saya percaya bahwa yang mendebat argumen perempuan dengan bawa-bawa stereotip itu cuma laki-laki seksis kok. Saya yakin di luar sana masih banyak mas-mas cerdas dan yang paling penting tidak seksis, yang mau menghargai pendapat perempuan. Kalau mau mendebat perempuan pakai cara-cara yang seksi kek, pakai argumentasi yang logis, wawasan yang seluas samudera, adu teori dan pemikiran. Bukan malah seksis. Atau jangan-jangan, saya menulis begini dikira sedang PMS. Duh!

Fergie A Esmirelda

Written by

25 year old woman who writes her unrest | gender and sexual diversity.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade