Basa Basi Memang Basi

Berita mengenai seorang perempuan bernama Dini yang dibilang cantik oleh seorang driver ojek online sempat viral di media sosial belakangan ini. Diberitakan bahwa Dini lompat dari motor yang ditumpanginya setelah driver ojek online “memujinya” dengan mengatakan “kamu cantik mbak.” Awalnya saya melihat berita ini pada laman akun Instagram OPINI.id dan reaksi saya pada waktu itu sangat kesal. Ya kesal. Reaksi saya ini tentunya punya alasan. Saya kesal dan marah ketika melihat komentar-komentar dari netizen yang tidak lain merujuk pada victim blaming.
“ Ceweknya kelebayan, najissss”
“ Lebay”
“Terlalu baper dia”
“Ceweknya aja kepedean! hahaha LOL!!!”
“Dibilang jelek juga ntar salah, ya Allah”
“Lebay kali kau sampai lompat”
“Dibilang cantik salah, gimana kalo dibilang jelek?”
“Efek ga pernah ada yang muji kayaknya si mbaknya, PD banget bakal diapa2in. mbaknya oke banget ya?”
Orang-orang yang melakukan victim blaming ini tidak jarang adalah kaum perempuan sendiri. Di situlah saya merasa sedih karena kaum perempuan bukannya menjadi penyejuk bagi perempuan lainnya tetapi ikut-ikutan membuli dan menyalahkan korban. Komentar — komentar di atas jelas bukan komentar yang baik. Komentar-komentar ini justru mewajarkan tindakan pelecehan seksual kepada perempuan dan mengiyakan invasi ruang personal perempuan. Jelas “pujian” yang dilontarkan kepada korban tidak pada tempatnya.
Dalam kasus di atas pelaku sempat memberi pembelaan bahwa dia hanya sekedar membuat suasana menjadi santai atau tidak kaku. Ungkapan “mbak kamu cantik” dianggap pelaku sebagai ungkapan wajar karena sekedar basa-basi atau sekedar untuk mencairkan suasana. Padahal untuk mencairkan suasana tidak harus menjurus pada hal-hal pribadi seseorang. Seseorang dianggap melanggar privasi orang lainnya ketika pernyataan yang dilontarkan sudah pada masuk ranah personal dan menimbulkan ketidaknyamanan. Tidaklah benar ketika driver ojek online tersebut melontarkan ungkapan cantik kepada perempuan yang baru saja ditemuinya. Sayangnya hal ini sudah biasa dilakukan oleh laki-laki dengan alasan sekedar “memuji”.
Saya rasa seseorang tidak memiliki hak untuk memuji seorang lainnya apabila pujian tersebut dilontarkan dalam kondisi dan situasi yang tidak tepat. Dalam kasus ini misalnya, driver ojek online memberikan “pujiannya” di saat kondisi jalan yang sepi dan bukan pada rute jalan yang diinginkan oleh penumpang. Apakah lantas ini memberikan kesempatan pelaku untuk memberikan “pujiannya’? Tidak salah apabila korban merasa terancam sehingga memutuskan untuk melompat dari motor. Tindakan yang dilakukan korban memang sudah benar karena melakukannya sebagai bentuk pertahanan diri.
Tetapi masih banyak orang yang menganggap kejadian ini adalah kejadian yang konyol karena menganggap korban teralau nekat untuk melompat dari motor. Inilah permasalahan masyarakat kita yang cenderung egois. Tidak memiliki rasa empati sehingga tidak mau untuk memosisikan diri mereka pada posisi korban. Perempuan akan merasa terancam apabila ada sesuatu yang tidak sesuai dengan consent-nya. Consent adalah bentuk persetujuan, jadi bagaimana mungkin ada consent di antara dua orang berbeda jenis kelamin yang baru saja bertemu? Maka tidak heran ketika perempuan merasa terancam dan nekat untuk menyelamatkan diri dengan cara apapun.
Kasus serupa juga pernah terjadi pada saya belakangan ini,tetapi perbedaannya adalah yang melakukan adalah seorang perempuan. Pada waktu itu saya ke salon untuk treatment rambut. Kebetulan salon tersebut mewajibkan pelanggannya untuk mengganti pakaian (atasan) dengan kemben yang sudah disediakan dengan alasan agar tidak terganggu dengan pakaian pada saat dipijat.
Saya awalnya tidak ingin mengganti kemben karena memang saya tidak nyaman memakai kemben di ruangan terbuka dan penuh dengan orang asing. Tetapi kapster meminta saya untuk tetap memakai kemben dan akhirnya saya bersedia menggganti baju saya dengan kemben yang sudah disediakan. Setelah itu saya diarahkan ke shower room untuk keramas. Belum sempat duduk, kapster lalu tiba-tiba menanyakan berat badan saya. Saya sempat kaget karena hal ini jarang ditanyakan kepada saya bahkan oleh orang-orang terdekat saya. Lalu saya bertanya balik kepada kapster tersebut “memangnya kenapa mbak?”, lalu kapster itu menjawab “itu mbaknya udah ada stretchmarks, berarti udah kelebihan berat badan.” I was like “seriously?” walaupun hanya dalam hati karena menurut saya ini sudah lancang dan tidak seharusnya diucapkan. Saya menyayangkan ucapan tersebut karena jelas ini merupakan body shamming yang dilakukan kepada perempuan bertubuh gemuk seperti saya. Rasanya tidak nyaman memang, walaupun saya sebenarnya bukan tipe orang yang give a shit about what people say about me, tapi kali ini berbeda. Saya seperti direndahkan hanya karena bentuk tubuh yang gemuk.
Mungkin bagi sebagian orang kasus saya dan penumpang gojek online ini kedengarannya sepele. Tapi poin saya dalam tulisan ini adalah bahwa tidak semua orang senang dengan basa-basi. Tidak semua orang menganggap basa-basi adalah bentuk keramahan. Dalam kasus Dini, tentunya dia tidak menganggap pujian “cantik” sebagai bentuk keramahan, tapi sebuah ancaman. Sedangkan dalam kasus saya, body shamming yang dilontarkan kapster tersebut bukanlah bentuk dari kepedulian, bahkan saya menganggapnya sebagai sebuah ejekan. Seharusnya kita dituntut untuk paham dengan situasi dan bijak untuk memilih kata-kata dan kalimat apalagi dengan orang yang baru saja kita temui.
Saya selalu merasa sebagian orang Indonesia membawa keramahan dan kesopanan ke dalam level yang baru. Saya mengharagai setiap perspektif yang berbeda dari saya mengenai hal berbasa-basi ini. Namun saya akan lebih menghargai orang yang bersikap sopan dan tidak melampaui batas privasi saya. Mungkin wajar bahwa tidak semua orang tahu mengenai konsep self disclosure karena adanya beberapa faktor. Tetapi apakah sikap empati dan kepekaan sudah mulai memudar di diri setiap orang? Ini yang perlu direnungkan. Bagaimana jika sebaiknya “budaya” masyarakat Indonesia untuk mempertanyakan hal-hal yang bersifat pribadi harus dihentikan? We decide.
