Catcalling : Keramahan Palsu

Fergie A Esmirelda
Jul 20, 2017 · 4 min read
source: pinterest.com

“Mbak mau ke mana? kok jalan sendirian?”

“Mbak senyum dong, cemberut aja”

“Hai cantik, udah punya pacar belum?”

“Assalamualaikum”

“Mau ditemenin ga?”

Bagaimana kalau ungkapan-ungkapan di atas dilontarkan dari segerombolan laki-laki atau seorang laki-laki yang tidak kamu kenal di jalan? Apakah hal tersebut bisa dikategorikan “ramah”? Jawabannya tentu tidak. Keramahan yang ditunjukkan dengan melontarkan pernyataan-pernyataan di atas adalah bentuk dari keramahan yang palsu. Mengapa palsu? karena memiliki makna negatif yang terselubung.

Ungkapan-ungkapan di atas tepatnya dikategorikan sebagai bentuk dari street harassment, atau istilah populernya “catcalling”. Definisi catcalling yang saya kutip dari kamus online adalah sebagai berikut :

catcalling (verb)
3rd person present: cat-calls
make a whistle, shout, or comment of a sexual nature to a woman passing by.

Dari definisi di atas bisa disimpulkan bahwa catcalling merujuk pada sebuah ungkapan verbal yang menjurus pada hal-hal yang bersifat seksual kepada perempuan di jalan. Catcalling juga bisa dalam bentuk non verbal seperti lirikan mata dan senyuman menggoda (flirtting).

Catcalling seringkali dilakukan oleh pria dan tak jarang yang menjadi korban adalah perempuan, walau demikian tidak dipungkiri bahwa laki-laki pun juga bisa menjadi korban catcalling.

Catcalling sering terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Saking seringnya ini terjadi sehingga catcalling dianggap sepele, wajar, dan tidak penting untuk dibahas. Ketika ada segerombolan laki-laki yang duduk atau sekedar nongkrong di pinggir jalan, seringkali membuat kaum perempuan merasa insecure untuk bisa melewati jalan tersebut. Ya inilah fakta pahit yang harus dihadapi setiap perempuan dalam kehidupan mereka setiap hari.

Saya ingin berceritra sedikit mengenai pengalaman saya. Suatu hari saya dalam perjalanan pulang dari kampus menuju ke rumah. Pada waktu itu saya mengendarai motor. Dalam perjalanan, saya dihadapkan dengan beberapa laki-laki yang duduk di atas mobil bak terbuka dengan menggunakan menggunakan helm. Waktu itu mobil tersebut berjalan terlalu lama sehingga saya dipaksa untuk tetap berada di belakang mobil tersebut dengan tatapan-tatapan para pria yang bagi saya pada waktu itu mengganggu kenyamanan saya. Mereka sempat senyum kepada saya dan melontarkan godaan yang menurut saya tidak pantas. Saya terus mencari kesempatan untuk bisa melewati mobil itu karena sudah tidak tahan dengan perlakuan mereka. Akhirnya kesempatan itu pun ada, lalu saya dengan buru-buru dan kesal menyalib mobil tersebut dan mengacungkan jari tengah saya pada mereka. Sungguh hari yang sangat menjengkelkan.

Dari pengalaman saya itu, dapat disimpulkan bahwa catcalling tidak hanya terjadi ketika perempuan berjalan kaki saja. Bahkan dengan mengendarai kendaraan sekalipun perempuan tetap menjadi korban catcalling. Saya yakin bahwa setiap perempuan pernah mengalaminya.

Jalanan saat ini sudah tidak aman lagi bagi pejalan kaki khususnya perempuan dikarenakan adanya “kucing-kucing” lapar ini. Dengan melakukan catcall, laki-laki berpikir bahwa mereka telah melakukan pujian terhadap perempuan. Padahal sama sekali tidak benar apabila catcall dianggap sebagai pujian. Tidak hanya laki-laki yang menganggap catcalling adalah bentuk pujian, perempuan sendiri yang menjadi korban bahkan beberapa menganggapnya sebagai pujian. Ketika mereka dikatakan cantik oleh pria yang tidak dikenal, mereka merasa bangga bahkan senang. Tidak tahukah mereka bahwa mereka sedang diejek? dilecehkan? direndahkan? Don’t be proud girls. Just don’t.

Laki-laki pun tidak berpikir bahwa apa yang dilakukannya adalah sebuah bentuk pelecehan seksual. Mengapa catcalling dikategorikan sebagai bentuk pelecehan seksual? karena laki-laki menempatkan diri sebagai pihak superior sementara perempuan menjadi inferior di mana laki-laki menjadikan tubuh perempuan sebagai objek seksual mereka. Tubuh perempuan tidak dihormati dan dihargai sehingga laki-laki terus menerus menganggap catcalling ini wajar karena memang sudah “kodratnya” laki-laki sebagai makhluk visual. But let me say that this is so damn wrong on many levels. Perempuan bukan objek seksual. Sekali lagi perempuan bukan objek seksual. Apapun yang dipakai perempuan tidak sedikit pun membuat laki-laki berhak untuk melecehkan atau merendahkan perempuan.

Kadang saya merasa salah menjadi perempuan karena harus menghadapi catcalls. Saya marah. Saya benci. Rasanya saya ingin memaki kepada orang-orang yang melakukan catcall. “Ya! Saya emang cewek!! Terus kenapa??”.

Saya tidak pernah paham mengapa mereka, para lelaki yang melakukannya kemudian tertawa setelahnya, seolah-olah itu adalah sebuah lelucon. Memangnya apa yang lucu?

Mengutip artikel dari slate.com, “Catcalling and fatcalling aren’t so different after all: They’re both products of a culture that treats women’s bodies as public property, and they both have more to do with the harasser’s insecurity and desire to exert dominance over women than they do about the harassee’s looks”.

Semua orang, perempuan dan laki-laki, punya hak untuk dapat berjalan dengan rasa aman dan nyaman. Tanpa adanya siul-siul dari orang yang tidak kenal dengan komentar mengenai tubuh kita. Tanpa adanya panggilan-panggilan tidak pantas. Tanpa adanya rasa takut dan malu menjadi perempuan.

Dan kini saya ingin bertanya, apakah pantas catcall masih dianggap sebagai pujian? Apakah catcall harus terus dibiarkan dan dimaklumi? Ketika kita memaklumi dan berkompromi dengan catcalls, maka tanpa disadari kita membiarkan rape culture terus mengakar kuat dalam kehidupan kita.

)

    Fergie A Esmirelda

    25 year old woman who writes her unrest | gender and sexual diversity.

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade