Menemukan Kesamaan

Fergie A Esmirelda
Jul 21, 2017 · 2 min read
source: tumblr.com

Kadang-kadang bila kita melihat hal-hal di sekitar kita yang tidak kita sukai, atau ketika kita berjumpa dengan orang-orang yang memiliki pandangan tidak sama dengan pandangan kita dan memiliki nilai-nilai yang sangat berbeda dari kita, reaksi pertama kita adalah merasa negatif.

Hal ini tergantung pada seberapa kuat kita merasakan suatu isu, perasaan negatif itu bisa bervariasi, mulai dari agak jengkel, kritis, benci, sampai marah, sakit hati, dan bahkan perasaan terancam. Dan percakapan yang disertai perasan negatif itu hampir selalu menuju kepada perdebatan.

Apakah itu tentang selera musik, keyakinan agama, sudut pandang politik, perbedaan ideologi, atau apapun yang menimbulkan silang pendapat dan perbedaan pemikiran. Sesungguhnya semua itu hanyalah hal-hal yang abstrak. Pun begitu, kita merasa yakin bahwa emosi-emosi yang mereka tanamkan di hati kita benar-benar nyata dan memprovokasi reaksi-reaksi yang konkrit.

Sering kali acara makan malam rusak oleh perdebatan semacam itu, begitu pula pertemanan dan hubungan. Seolah-olah ketika kita berjumpa dengan orang lain dan mendapati mereka mempunyai pandangan yang sama sekali berbeda dengan kita, bahkan ketika tidak ada implikasi praktisnya terhadap keyakinan dan pendapat mereka, entah mengapa dalam pandangan kita, mereka jadi mencurigakan. Lalu kita bisa jadi agak meremehkan mereka, menghakimi mereka sebagai sesat, keras kepala, atau tidak berpengetahuan.

Namun seringkali keyakinan dan opini yang kita anut itu bahkan bukan milik kita sendiri, melainkan kita pungut dari lingkungan terdekat kita, yaitu apa yang disampaikan kepada kita oleh orang tua, guru, teman-teman, media, dan juga dari pengalaman dan informasi yang terpapar pada kita.

Seringkali memiliki opini dan keyakinan tersebut tidak membuat kita menjadi lebih baik, terutama bila kita terpaksa berbagi ruang dengan orang-orang yang memiliki keyakinan berbeda.

Begitulah, kita cenderung berhati-hati memilih orang yang akan bergaul dengan kita dan yang akan menjalin pertemanan dengan kita. Supaya hubungan bisa langgeng, kebanyakan orang tua lebih suka anak-anaknya memilih dari suku, strata, atau paling tidak agama yang sama, bahkan bila perlu salah satu dari pasangan harus berpindah agama.

Karena ada keyakinan bahwa kesamaan kitalah yang mengikat kita sebagai pasangan, sebagai keluarga, dan sebagai kelompok komunitas. Kita hanya bahagia bila kita memiliki nilai-nilai yang sama.

Namun ini berarti kita mendefinisikan mereka yang berbeda dengan kita sebagai yang “lain”, tidak seperti kita: tidak sama rupa, pakaian, dan keyakinannya dengan kita atau tidak sama cara hidupnya. Tak masalah bila kita bisa saling menghormati dan menerima perbedaan-perbedaan dalam diri orang lain.

Namun, bila kita merasa perbedaan itu tidak bisa ditenggang , maka kita bisa tidak bahagia dan penuh kebencian. Itu membuat hidup kita tidak nyaman dan rumit karena selalu akan ada orang yang berbeda dengan kita dalam satu atau lain hal.

Jika kita hanya melihat perbedaan-perbedaan dari diri orang lain, maka kita akan merasa takut, curiga, dan terintimidasi. Kita menjadi gampang curiga dan menjaga jarak terhadap sekeliling kita.

)
Fergie A Esmirelda

Written by

25 year old woman who writes her unrest | gender and sexual diversity.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade