Yang Tak Terlihat

Hidup memang tak selalu tentang apa yang ada di depan mata. Apa yang tak terlihat justru jauh lebih bermakna dalam kehidupan ini. Dulu aku pernah bertanya mengapa orang lain sangat ingin mengakhiri hidupnya padahal ia terlihat baik-baik saja. Pada saat itu aku hanya menjadi penonton yang melihat di depan kaca, tapi bukan sebagai sutradara yang melihat di balik layar.
Saat itu aku tak memiliki hati yang besar untuk berusaha berada di posisinya. Pikiranku dipenuhi hal negatif mengenai orang yang ingin mengakhiri hidupnya. Aku hanya menilainya dari kulit. Aku begitu egois. Aku merasa sebagai orang paling optimis, agamis, dan kuat. Saat itulah aku merasa memiliki privilege untuk menghakimi seseorang. Padahal Aku lupa bahwa Tuhan begitu besar sehingga Ia mampu membolak-balikkan kenyataan.
Waktu itu aku mencoba meyakinkan diriku dengan berpikir bahwa betapa Tuhan begitu baik dengan memberikan kita kehidupan ini. Namun lagi, aku lupa bahwa Tuhan juga menciptakanku untuk maksud tertentu. Bukannya mencoba untuk menjadi apa yang diinginkan Tuhan, aku justru membuat Tuhan sedih karena gagal menjadi alat-Nya bagi sesama manusia. Betapa dengan mudahnya aku menghakimi seseorang atas keputusannya untuk mengakhiri hidup.
Aku berusaha untuk membuatnya sadar dengan kata-kata penghakimanku, aku meremehkannya, aku memarahinya, dan menganggapnya berlebihan. Percaya atau tidak, aku sama sekali tidak meringankan bebannya. Sama sekali tidak.
Lalu apa yang sudah kulakukan? Aku memutuskan harapannya untuk hidup. Untuk tetap hidup, seseorang memerlukan sebuah harapan. Harapan yang nyata. Harapan yang dipegang sebagai sebuah jaminan untuk dapat melanjutkan hidupnya. Tapi aku telah membuatnya kehilangan harapan dengan menghakiminya. Aku sadar bahwa yang kulakukan adalah sebuah kejahatan besar. Ketika semuanya telah terjadi, aku dihantui rasa bersalah.
Aku di sini adalah kita semua yang dengan mudah menghakimi seseorang. Kita takkan pernah tahu apa yang sedang dihadapi seseorang dalam hidupnya. Mungkin yang kita tahu hidupnya baik-baik saja setelah mendengarnya tertawa atau setelah melihatnya tersenyum. Kita tak tahu bahwa di balik senyum itu ada penderitaan yang tak kunjung selesai. Kita tak pernah tahu di balik tawanya ada kepahitan yang mendalam tentang hidup.
Kalau kita tidak benar-benar tahu beban yang dipikul seseorang, maka jangan mudah menghkimi. Kita tidak berhak untuk mengatakan hal-hal berdasarkan sudut pandang kita. Semua itu tidak akan diterima dengan mudah olehnya. Dengan mengatakan seperti “kamu berdosa” atau “ada yang salah dengan dirimu”, bahkan “seharusnya kamu lebih mendekatkan diri pada Tuhan”, semuanya akan sia-sia. Tak berguna.
Jangan berbicara mengenai Tuhan kepada seseorang apabila kita sendiri tidak memiliki kasih. Karena kasih itu tidak menghakimi. Cukup dengan mencurahkan seluruh perhatianmu, maka mereka akan melihat kasih itu dalam dirimu. Selanjutnya, untuk dapat mengetahui apa yang sedang dihadapi seseorang, maka kita harus ‘berdiri di atas sepatunya’. Ikut merasakan apa yang sedang dirasakan seseorang memang tidak mudah. Kita dituntut untuk melepaskan ego kita, standar, dan sudut pandang kita.
Seseorang yang sedang putus asa kadang tidak menginginkan nasihat dari kita. Hanya dengan mendengar keluh kesahnya, itu sudah cukup dari pada harus mengeluarkan pendapat yang menghakimi. Memang tak mudah apabila kita tak benar-benar tulus untuk itu. Sudah seharusnya kita memperlakukan orang lain sama seperti kita memperlakukan diri kita sendiri. Menjadi orang lain itu perlu dalam hal ini.
Sebab bukan tanpa alasan Tuhan memberimu telinga, mulut, hati, bahu,dan tangan.
Tuhan memberimu telinga untuk mendengar, pergunakanlah itu dengan tulus dan bijak. Tuhan memberi mulut untuk menyejukkan hati, bukan untuk menghakimi,mencela, dan menjatuhkan. Tuhan memberimu hati untuk dapat merasakan kesedihan orang lain, pergunakanlah dengan ikhlas. Tuhan memberimu bahu untuk dapat meminjamkannya kepada orang yang sedang menangis, pinjamkanlah dengan sukacita. Dan Tuhan memberimu tangan untuk dapat menghapus air mata orang yang sedang beruduka hatinya.
