In an Ideal World, My Future Could be All About Me

“But, is it what you really want to do?”

Pertanyaan dari seorang teman malam itu membuat saya terdiam. Pertanyaan yang muncul setiap kali berbincang tentang karir, masa depan, dan rencana-rencana hidup. Pertanyaan yang muncul setelah saya menjabarkan berbagai macam keinginan saya di masa depan, yang kemudian diakhiri dengan, “…tapi kayaknya orang tua gak akan setuju.”

Di usia 23 tahun dan sudah memiliki penghasilan sendiri, orang-orang akan langsung mengernyitkan dahi setiap mendengar saya mengeluarkan kalimat tersebut. Seolah mereka baru saja ditarik ke masa-masa di sekolah dasar dan mereka baru saja mengajak saya bermain sepulang sekolah.

Lo kan sudah dewasa, sudah bisa menentukan pilihan lo sendiri?”, adalah pertanyaan skeptis yang sudah sangat bosan saya dengar. Karena akan susah sekali menjelaskan pada beberapa orang, bahwa terkadang menentukan pilihan sendiri itu akan menjadikan saya seseorang yang sangat egois.

Di dunia dan kehidupan yang ideal, tentu saja masa depanmu adalah tentang dirimu sendiri. Tapi terkadang untuk beberapa orang: karir, rencana hidup, pilihan, keputusan dan masa depan tidak selalu tentang dirimu sendiri.

Kata mereka, orang tua selalu tahu apa yang terbaik untuk anaknya. Apalagi orang tua sudah lebih dulu melalui berbagai macam kesulitan hidup, sudah pasti mereka lebih tahu.

Orang tua saya adalah orang berpendidikan, orang yang meraih kesuksesan dengan betul-betul berjuang dari bawah. Itulah mengapa orang tua saya adalah sosok yang sangat ambisius, pembelajar dan selalu mencermati peluang. Sehingga bagaimanapun juga saya percaya, apa yang menurut mereka adalah pilihan yang tepat sebetulnya bisa saja benar. Namun entah bagaimana, pilihan dan ambisi milik mereka tetap saja bukan ambisi saya, sehingga rasanya salah.

Tapi lagi-lagi, kewajiban seorang anak adalah untuk menghargai dan menghormati orang tua. Meskipun saya sering mempertanyakan, di mana batas kewajiban tersebut? Karena terkadang di beberapa saat, keputusan dan pilihan yang ingin saya buat — hal yang membuat saya merasa lebih hidup sebagai diri saya sendiri — akan membuat saya seolah-olah menjadi anak yang egois dan tidak patuh.

Selain itu, saya yang juga adalah anak pertama — tidak hanya menanggung ambisi-ambisi orang tua di bahu saya sendiri — tapi juga menanggung kewajiban untuk menjadi contoh bagi adik-adik saya. Jadi, kalau saya bersikeras dengan pilihan saya sendiri, apakah saya siap gagal dan menjadi contoh buruk? Tidak. Jadi sebaiknya manut, bukan?

Jadi kalau saya ditanya, memangnya itu yang kamu mau? Ya tentu saja bukan.

Kalau kita berbicara tentang apa yang saya mau,

Saya mau pergi keliling Indonesia — atau bahkan dunia — untuk menulis. Saya ingin mendengar dunia bersuara, saya ingin tahu dunia kita ini punya cerita apa.

Saya ingin diberi kesempatan untuk belajar hal-hal baru dan bertemu dengan banyak orang. Hal yang mungkin mendasari mengapa saya suka belajar marketing. Marketing adalah dunia yang sangat dinamis. Selalu ada hal baru yang bisa saya pelajari, dan tidak semua hal yang berlaku di satu orang, dapat berlaku ke orang lainnya. Kombinasi dari manusia — makhluk yang sangat kompleks — dan marketing yang dinamis adalah dua hal yang ingin saya pelajari dan lakukan.

Apakah hal yang ingin saya lakukan itu akan membuat saya merasa bahagia dan terpenuhi? Tentu. Tapi apakah hal tersebut akan pasti membuat saya sukses, kaya di usia muda, lalu membuat orang tua saya bahagia? Belum tentu.

Jadi, kalau sekarang saya ditanya lagi, memangnya itu yang kamu mau?

Tidak, tapi lagi-lagi, ini bukan tentang diri saya sendiri.