Pergulatan Pemikiran Tentang Tuhan

Sebenernya ini tulisan tahun 2016 yang berbentuk catatan pribadi

renaissance

Membaca humanisme bak berjalan dipinggir sungai yang deras. Pemikiran dan gagasan yang diusung humanisme adalah meletakkan batu tonggak kebebasan tanpa batas yang katanya adalah kodrat manusia. Humanisme berusaha menjebol dinding batas batas manusia, dan agama adalah musuh besar humanisme.

Secara sejarah paham humanisme ini bermula dari Yunani dan berkembang pesat saat zaman renaissance (pencerahan), dimana pendobrakan nilai nilai agama yang dirasa mengekang dan mengontrol manusia (agama kristiani saat itu). Pemahaman humanisme dilakukan oleh sekelompok orang yang mengagungkan rasionalisme dan ilmuwan. Penyebabnya adalah terjadi pertentangan antara ilmu pengetahuan dengan pemahaman konteks agama kristiani saat itu. Pertentangan ini semakin menyuburkan paham humanisme dan paham humanisme semakin menjadi jadi dengan penghapusan Tuhan sebagai sesuatu yang diyakini.

Momentum renaisaance dan suburnya pemahaman humanisme inilah mendorong pemahaman ateisme terbentuk. Bahkan pada abad 19, Ludwig Feuerbach berkata bahwa manusialah yang menciptakan Tuhan. Manusialah yang melalui akalnya menjelaskan sebab musabab suatu peristiwa dengan menghadirkan Tuhan. Jadi tuhan tercipta karena akal manusia katanya.

Buya hamka dalam bukunya yang berjudul “Pandangan Hidup Muslim” juga menyinggung masalah tentang ini meski tidak secara eksplisit. Beliau menulis bahwa pemahaman pemahaman ateisme yang semakin subur dikarenakan pandangan hidupnya yang hanya terbatas materi. Terbatas pada sesuatu yang bisa dilihat, diukur, dan praktis pada kehidupannya. Sedangkan mereka melupakan bahwa manusia sendiri memiliki aspek aspek imateri, seperti spiritualitas, ketenangan, dan ketentraman. Sungguh kesalahan yang amat mutlak jika memandang kehidupan ini hanya sebatas materi. Penglihatan, pendengaran, dan pemikiran manusia bukanlah satu satunya yang menjadi patokan. Sungguh secara aspek materi saja kita masih banyak memiliki kecacatan ketika memandang langit keatas sana yang amat sempurna.

)

    Fithratullah Habibie

    Written by

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade