Mimpi di Jeda Waktu

Semarak pagi membubuhi senyum kala itu.

Subuh nian semakin syahdu.

Dengan balut air wudhu yang sedikit asin terlewatkan.

Tepat di depan gerbang kami berdiri.

Beberapa siswa mulai datang dengan lantang.

Dengan tangan terulur salam meminta restu untuk belajar.

Dengan tangan terulur tuk menjamu bekal makan siang.

Dengan tangan terulur mengambil dua ribu rupiah pada tangan ayahnya.

Namun tawa optimis mereka, mengalahkan segala keraguan untuk dapat bermimpi lebih besar.

Apa cita-citamu?

Sontak tangan mereka menggaruk kepalanya.

Namun banyak diantara mereka yang segera mengacungkan tangan.

“Saya ingin jadi dokter, bu.”

“Saya ingin jadi kiyai, bu”

“Ibu saya ingin jadi polisi, biar bisa tangkap maling.”

“Saya ingin jadi penghafal al-quran.”

“Saya ingin jadi pemain bola.”

“Saya ingin jadi model bu!”

“Saya ingin jadi ABRI supaya bisa jagain negara ini.”

Lugunya lontaran itu membuat saya tertegun.

Pagi itu kami banyak berbincang tentang mimpi, tentang cita-cita yang tinggi.

Datangnya kami disana, bermaksud tuk membuka lagi jendela mereka bahwa cita-cita itu masih lebih luas lagi.

Keyakinannya untuk maju ternyata lebih luas bak samudera.

Sayangnya yang besar tertera kala kelas telah usai namun beberapa dari mereka tetap memanggil namamu.

Berharap ada pertemuan lain yang didambakan.

Darinya saya banyak belajar.

Sebab ini tak hanya menjadi hari inspirasimu kawan, juga menjadi pengajaran bagi saya tentang hidup yang lainnya.

Kelas Inspirasi Tangerang 2,

Sukadiri, 9 September 2017.