Ignition Gerakan 1000 Startup Digital Nasional

Startup adalah sebuah kata yang dulu asing di telinga, namun belakangan ini menjadi ‘hip’. Secara definisi, startup adalah sebuah perusahaan rintisan. Seseorang yang mendirikan startup dapat dikatakan seorang wirausahawan, atau bahasa kerennya entrepreneur. Saya adalah satu dari sekian orang yang percaya bahwa dengan persentase entrepreneur di suatu negara dapat mempengaruhi ekonominya. Sebagai contoh, negara maju seperti Amerika Serikat atau Jepang lebih dari 10% penduduknya adalah pengusaha. Menengok negara tetangga kita Singapura, di sana 7% penduduknya berwirausaha. Bahkan Malaysia 4% penduduknya berwirausaha. Di Indonesia, tidak sampai 2% penduduknya menekuni jalan ini. Dari situ saya berpikir, negara ini butuh lebih banyak entrepreneur. Beruntung saya bisa mengikuti Gerakan 1000 Startup Digital Nasional yang diadakan oleh pemerintah. Di Bandung sendiri, tahap pertama atau Ignition dari gerakan ini baru diadakan pada 5 November lalu. Ignition berisi talkshow dan diskusi mengenai startup dengan berbagai orang yang berpengalaman di bidangnya. Kerap kali kita disuguhkan cerita-cerita manis kesuksesan sebuah perusahaan, misalnya bagaimana Go-Jek dapat menjadi unicorn company dengan valuasi 17 triliun rupiah kini. Tapi jarang yang mengetahui atau mau tahu bagaimana kisah sulit dibalik kesuksesan itu. Dibagi menjadi 5 sesi, para peserta disadarkan mengenai hal-hal esensial mengenai bagaimana membangun startup di tahap ignition ini. Mulai dari bagaimana entrepreneurial mindset, bagaimana memberi dampak bagi dunia, mengapa kita perlu menyelesaikan masalah, bagaimana berinovasi, dan bagaimana pola pikir yang benar untuk menjadi seorang founder startup.

Sesi pertama adalah sesi bertemakan entrepreunerial mindset dengan pembicara Yamsen Kamto. Startup baginya adalah suatu usaha rintisan berbasis teknologi yang ‘ngawur’. Ide-ide gila, tidak masuk akal, tidak pasti, itulah startup. Namun karena itu pulalah startup dapat mengubah dunia. Karena startup kecil dan cepat, startup dapat membabat perusahan-perusahaan raksasa. Ia bercerita tentang Go-Jek yang dapat mempekerjakan puluhan ribu driver. Sebuah startup sangat potensial memberikan perubahan, dan membuka lapangan pekerjaan. Indonesia 50% penduduknya berusia di bawah 30 tahun, yaitu usia yang produktif. Jika potensi ini dimaksimalkan dengan teknologi, niscaya Indonesia akan berkibar. Jika dilihat sepintas, ia merupakan sosok yang unik, dengan gaya khas celana pendek dan kepala botak serta bicara ceplas-ceplos. Dibalik penampilan yang terkesan ‘semau gue’ itu, ia punya mimpi besar untuk Indonesia. Mimpinya melihat Indonesia berkibar dengan teknologi. Karena itu ia mendirikan Kibar, yang fokus dalam pembinaan. Harapannya supaya Indonesia dapat disegani di dunia karena teknologinya. Dari Yamsen Kamto, saya mempelajari bahwa kita sepantasnya bangga dan membanggakan Indonesia.

“Jangan bangga lo kerja di perusahaan multinasional. Lo dapet 3000 dollar, mereka dapet 3 juta dollar. Harusnya lo ga bangga cuma jadi pasar. Harusnya lo bangga kalo bisa bikin Go-Jek kayak Nadiem Makarim terus lo bawa ke luar negeri, misalnya”.

Satu lagi, ia berpesan untuk segera mewujudkan mimpi kita.

“Potensi tanpa aksi lama-lama jadi impotensi”.

Sesi kedua dibawakan oleh Alamanda Shantika, ex-Vice President Go-Jek yang kini menjadi ‘female activist’ (self-declared though). Sempat dimuat di berbagai media karena meninggalkan Go-Jek yang ia rintis sejak awal, ia bercerita bahwa ia punya mimpi jadi menteri pendidikan. “Gue percaya kalo pendidikan adalah akar dari semuanya”. Ia memaparkan dengan lugas, kalau acara ini bukan ajang unjuk gigi. “Disini adalah tempat produk kalian disampah-sampahin”. Suatu produk bisa jadi menurut kita sudah bagus. Sering kita sudah merasa cukup dan puas diri, namun lupa pertanyaan yang penting. Apakah memang itu yang dibutuhkan masyarakat? Apa benar sudah bagus? Ala mengajarkan kita untuk selalu menantang diri sendiri, selalu memperbaiki diri dan tidak cepat puas. Daripada terlanjur dibuat dan tidak laku mending ditolak dari sekarang, prinsipnya. Ia menekankan beberapa hal. Pertama, be willing to listen. Terbukalah pada saran, minta feedback dari orang. Kedua, miliki dasar yang jelas. Kebanyakan startup gagal karena mereka mulai dari ide, tanpa dasar jelas apakah ide tersebut dibutuhkan. Ketiga, chase your own vision, not money. Money will end up following you.

Sesi ketiga menjelaskan hal esensial yang kerap kali luput oleh kita. Do not start a business, solve a problem. Pada dasarnya, semua bisnis adalah aksi menyelesaikan masalah dari pelanggannya. Suatu aksi dimana ada value lebih yang membuat orang rela mengeluarkan uang untuk itu. Dan itu menjawab masalah pelanggan. Jika tidak, maka itu bukan bisnis, melainkan hobi. Hampir 80% orang yang memulai bisnis tidak berangkat dari problem yang ada (data dari Labtek Indie, Bandung). Kemudian Gibran, CEO eFishery, menceritakan bagaimana ia baru menemukan problem ketika terjun langsung ke bidang perikanan. Setelah menggeluti bidang tersebut, ia menemukan masalah yang menjadi peluang bagi startupnya kini. Pelajaran terpenting dari sesi ini ialah: jangan asal ngide! Memulai bisnis diawali dengan menemukan masalah dan menyelesaikannya.

Sesi keempat mengenai inovasi disampaikan oleh CEO Agate Studio, Founder dari Prima Rasa Group (Nasi Goreng Mafia, Warunk Upnormal, Baso Boedjangan), dan pimpinan redaksi Goal.com Asia. Inovasi adalah sesederhana menemukan masalah dan menemukan solusinya. Solusi tersebut tentu harus punya nilai lebih. Untuk berinovasi, pertama harus jelas terlebih dahulu siapa target pasar yang kita sasar. Jangan lupa dalam proses inovasi ini apa yang ingin kita ubah, dan siapa yang ingin kita bantu. Inovasi perlu pula menghasilkan competitive advantage dibanding pesaing-pesaing kita. Buatlah suatu produk yang membuat orang ingin kembali lagi dan terus menerus memakai produk itu. Satu lagi, perhatikan konten.

Sesi kelima, atau disebut sesi pamungkas, membahas topik how to think like a founder. Karakteristik yang harus dipunyai seorang founder yang pertama adalah pantang menyerah. Masalah adalah makanan sehari-hari di dunia startup. Untuk itu paradigmanya harus diubah, problem is happiness. Pekerjaan seorang founder adalah menemukan masalah, bergumul dengan masalah, dan menyelesaikannya. Bagaimana membangun sikap ini? Oleh Wirjadi L. (CEO Oktagon) hal ini dianalogikan seperti berenang menyeberang pulau. Sekali jalan, jangan toleh belakang, maju terus. Menurut Ken Ratri (CEO GeekHunter), seorang founder harus bisa menemukan peluang dalam masalah, harus jeli. Kita hidup di Indonesia yang punya segudang potensi. Bukan sumber daya alam, bukan sumber daya manusia, tetapi ribuan masalah di negara ini merupakan potensi. Masalah-masalah tersebut menunggu untuk diselesaikan. Seorang founder harus jeli melihat masalah, apa yang dapat dikembangkan, dan mengubahnya menjadi opportunity. Menurut Atun (CEO Sembilan Matahari), seorang founder harus dapat mengubah cara pandangnya.

“Change the things by changing the way we think”.

Setelah itu dibahas pula karakteristik yang dapat menghambat. Yang pertama adalah tidak fokus. Seseorang yang tidak fokus membangun bisnis akan kalah dengan orang yang lebih fokus dan siap. Yang kedua, jangan sampai founder tidak yakin dengan produknya sendiri. Yang ketiga, yaitu being a smartass. Ketika seseorang merasa sudah cukup pintar, ia tidak akan berkembang dan akan ketinggalan dengan orang lain yang terus maju membenahi diri. “We have to be humble”.

Kemudian para pembicara menyampaikan pesan bagi anak-anak muda. Yang pertama yaitu carilah mentor, seseorang yang lebih berpengalaman yang bisa membantu untuk meminimalisasi kesalahan. Yang kedua, jangan buang-buang waktu untuk hal yang tidak berfaedah. Yang ketiga, pikirkan lagi dengan masak-masak. Mendirikan startup bukanlah hal mudah, seperti membalikkan telapak tangan. Terakhir disampaikan sebuah closing statement: jangan sampai startup ini hanya menjadi sebuah tren. Tidak banyak startup yang berhasil menjadi besar karena mendirikan perusahaan memang sulit. Jika sudah memilih jalan ini tekuni dengan baik. Semoga ini bisa menjadi movement bagi kemajuan Indonesia.

1000 Startup Digital Indonesia

#1000StartupDigital

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.