Anne’s Frank

Aku menggenggam tangannya seperti memegang erat tali sebuah balon. Kupikir aku takkan membiarkannya terbang jauh tinggi. Mengingat malam ini bulan terlihat lebih besar, mungkin gravitasi bulan akan begitu cepat menerbangkannya saat aku mulai melepas tangannya.

"Jangan terbang sebab aku tak ingin kau terbang, cukup aku saja yang kau buat terbang."

Lampu-lampu kota tua yang meredup, seolah mendukung penjahat untuk melakukan aksinya. Ku pikir aku akan menjadi penjahat juga ketika selalu mencuri waktunya untuk bersamaku. Namun itu tak mungkin, disini terlalu ramai, klakson kendaraan selalu angkuh berlalu lalang. Orang-orang tak memperhatikanku, hanya fokus ke depan berambisi supaya mereka menguasai jalannya lebih cepat. Menurutku mereka tak bisa mengerti bagaimana menikmati akhir pekan.


Dia membawaku ke suatu tempat. Sepi. Tenang. Rumah yg cukup kuno dengan desain arsitektur 70an, dekorasi yang masih sangat orisinil keklasikannya teringat rumah nenek yang ada di kampung. Berebut setoples popcorn, sampai tangan yang saling berpegangan di dalam toples dengan mata yang masih terpusat pada film kesukaannya, drama korea. Ah aku benci film romantis, terlalu klise. Tapi aku ingin menyenangkannya. Coba pikir mana mungkin ada happy ending? Itu hanya akal-akalan dari orang jaman dulu untuk membuat anaknya tetap berfikir positif. Seolah itu yang akan mensugesti bahwa diakhir cerita hidup mereka semuanya akan jauh lebih baik dari kemarin. Hidupku tak sebercanda itu, sungguh benar aku berharap banyak hal di hari esok, sungguh benar aku berharap banyak keajaiban di hari esok, dan aku tau tak pernah bisa memprediksinya. Bahkan aku mulai menutup gambaran-gambaranku soal hari esok, sebab menurutku lebih baik melakukan apa yang sebisa mungkin aku lakukan hari ini, ketimbang melamun terlena dan terlarut dalam bayangan ekspektasiku soal hari esok.


"Frank, kau darimana saja kemarin?"
"Kau tau gadis yang sering aku ceritakan?"
"Siapa?"
"Anne"
"Kau bercanda"
"Tidak tidak, aku habis bercumbu dengannya semalam. Mata itu. Senyum itu. Kulit putih dengan aroma bedak bayi. Kau tak akan percaya"
"Kau tak apa kan?"
"Dia bersamaku semalam"
"Berhentilah membual!"
"Aku tak pernah bohong, dia tersenyum padaku. Lihat!"
"Lupakan dia. Kau perlu istirahat"

Kenapa mereka tak mengerti? Bahkan sahabatku sendiri, orang yang harusnya saling terikat pikirannya denganku. Menurutku sebenarnya bukan dimensi yang pemisah. Aku pun tau batasan antara dunia sini dan dunia sana. Kematian tak membuatku gentar, selama doaku masih bisa mencapainya. Selama surya masih mampu membara, tak ada batasan aku bersamanya. Realitanya begini, sukmanya di sana, raganya di tanah, cahyanya di jannah. Tapi tak menutup kemungkinan untuk kita terus bersama, karena aku yang mau. Dia bersemayam dalam tubuhku, dia mengalir dalam darahku, dia meracuni semua pikiranku, dan dia yang memiliki kuasa penuh atas hatiku. Karena sekarang dia adalah aku. Anne kekasihku, bagian dari diriku.

Soerabaja, 14 September 2017
One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.