Hai, Dimas!
“iya saya dari Kediri tante” jawabku dari pertanyaan ibu Samid. Setelah membahas perdebatan bola volly yang menjadi hobbyku diakhir masa SMA. Iya ternyata ibu Samid atlet volly…
Hari pertama kuliah masih sangat tidak bersemangat. Ya, setelah pembagian kelas pasca ospek memang gak sesuai harapan tapi yaudahlah ya (niat hati ingin masuk di International Class). Kulihat dipapan pengumuman nama-nama yang asing, beberapa sudah kutahu dan dengar-dengar dari kabar orang yang “ah asik kelasmu ada dia…blabla”. Btw ada 5 kelas di kampusku, dan yak saya di kelas A. Entah itu artinya bagus atau buruk yaitulah kelas saya.
Masuk kelas pagi mungkin udah biasa lah ya, dari zaman ospek juga pagi buta coy (ngga buta-buta banget si). Pintu kubuka, wajah-wajah asing terlihat, seperti masuk di kantor cabang bank swasta dengan antriannya dihari senin, iya, sangat asing. Mungkin saya bukan orang yang dipandang ketika ospek, seringnya nongol dibalik layar aja, ngasih solusi-solusi sok bijak ke komting serta anak-anak terpandang. Jadilah saya duduk disatu kursi disamping teman yang sejujurnya ga begitu kenal juga. Sepanjang menuju kursi “mahasiswa”, banyak tersaut suara yang memanggil, iya, temen sekelompok ospek pasti yang udah kenal lumayan deket. Bagiku yaudahlah, beberapa temen ospek emang sekelas lagi.
Duduk dideretan belakang emang udah kewajiban mendasar menjadi cowok kali ya. Entah alasan apa yang menjadikan pejantan mendedikasikan sekolah eh kuliahnya dikursi depan. Paling juga gegara lagi pdkt-in cewek nyari muka hahaha. Ketika satu persatu wajah kutelusuri, pertama-tama pengennya nyari temen searah, iya, searah sama pemikiran. Tapi gausah dulu lah, dunia kuliah yang katanya berbeda ini coba kunikmati dulu. Singkatnya hari pertama jujur cuma mengenal lima temen baru, iya, cuma lima.
Pukul 07.00 keesokannya, duduk dibangku yang hanya bergeser ke kiri satu tempat dari hari kemarin. Tetap disekelilingku segerombol mahasiswa yang harusnya beberapa tahun kedepan akan menjadi teman se-genk. Mencoba meleburkan obrolan dengan bahasan yang paling standard bagi cowok, iya, bokep!!! Otak mesum kami emang nancep dikodrat dari lahir kayaknya. Mengenal satu persatu nama yang sering kudengar, paling sering kudengar satu nama, Dimas. Seperti didunia ini nama Dimas adalah paling pasaran setelah Bagus dan Putra. Setidaknya semasa hidup pasti pernah ada nama-nama tersebut. Dimas ini gelagatnya selow, tapi mesumnya ya tetep aja jalan. Usut diusut dia anak pondok, maksutnya lulusan SMA yang semisemi pondok begitulah. Obrolan santai diakhiri dengan menceritakan kembali tentang ospek, yang sebenernya ospek dikampus kami belum sepenuhnya usai.
Hari rabu dihari yang bagiku mungkin cukup menggembirakan dan dilema (untuk skip kuliah wkwk) karena kuliah pagi dibayar dengan mata kuliah yang agak selow, Agama. Sebenernya gapapa juga sih, cuman kok ya pagi…
Kuliah siang balik dikampus asal, iya, kuliah agama emang beda gedung. Beda wilayah malah, tapi tetep sealmamater. Masuk kelas udah disediain tempat duduk aja ditengah gerombolan biasanya. “Lagi ngobrol apanih?” tanyaku. “Ini bingung dikelas ada 2 Dimas, enaknya dipanggil apa nih satunya” jawab satu cecunguk. Lah, Dimas yang kemarin kenalan ini anak pondok, terbesit dipikiran panggil aja “gus”. “Ini dimas satunya asal mana ini?” tanyaku lagi. “Malang bos” saur Dimas satunya. Panggil aja “samid” ceplosku. Sampe kami semester satu akhir pun akhirnya dia dipanggil “samid”.
Pernah satu saat pengen main ke Malang barengan sama dua temen dan pasti, ada Samid. Yaiya rumah dia yang kita singgahi selama 2malam itu. Kupikir didalam bus kota menuju kota Malang yang kiranya 2jam dari Surabaya, bagaimana suasana dirumah Samid ini, apa keluarganya baik, apa mereka acuh, apa mereka bakal keberatan kalo kita nginep 2malam disana, ada kamar gak disana buat kita. Selepas angan dipikiran yang tersadar karena bus udah sampai, kami naik taksi ke rumah Samid, iya taksi (dibayar si Samid kok akhirnya wkwk). Dari jalan menuju rumah samid yang sejujurnya saya belum begitu hafal juga dari terminal Arjosari, Malang. Tiba dirumah Samid ternyata disambut hangat, eh sebenernya ya biasa sih, seperti ibu seorang cowok yang didatangi temen-temen cowok anaknya. Rumah Samid cukup sepi, dia hanya 2 bersaudara, ayahnya kerja di Batam, ibunya tinggal berdua dengan adik perempuannya. Tenang, kami dapet kamar kok disana.
Dari obrolan singkatku bersama ibu samid diesok paginya, yang tentang pacar lah, rumah lah, sampe ibu Samid yang mantan atlet volly, kesimpulan pendek dariku mungkin Samid ini orangnya selow yang banget. Tapi apa dia yang bener-bener klop sama saya? Belum tentu.
Hingga awal semester tiga yang akhirnya kita punya junior pun panggilan “samid” masih nempel didiri seorang Dimas hahaha. Nama yang seharusnya sangat pasaran itu sudah ganti dengan nama yang terceplos dari mulutku yang mudah nyeplos ini.
Oiya, untuk jawaban dia temen yang searah atau bukan, belum juga terjawab. Tapi ya akhir-akhir ini kami bertiga sering ngumpul dan jalan-jalan aja dikampus gajelas, iya bertiga. Ada satu temen sekelas juga dari luar jawa yang sering nongkrong bareng bersama gerombolan cecunguk, dia dari Sulawesi entah kota antah berantah macam apa Pinrang ini, sebut aja dia Acar. Acar ini kayak ustad di genk bgst ini (padahal jarang sholat juga dia, cuma gegara lulusan SMA pondok juga), dia sering memberi pencerahan tapi ya seringnya dibully sama kita-kita soal kakinya yang bau bahaha. Baunya udah kayak bangkai tirex 2000 tahun SM yang dikubur bareng sama telur busuk. Sepatu Acar ini kalo dibuka dan ditaruh ditengah gazbar (gazebo baru; tempat cozy dikampus buat mejeng dan cari muka ke junior), pas pak dekan lewat, udah di DO dibalikin ke kampungnya paling dia.
Mencari temen searah dikampus adalah seleksi alam. Iya, semester satu dua kita masih euforia nyari temen, nongkrong bareng, ngampus bareng, gerombol bareng gitu lah pokok. Yang dunia kampus masih kayak milik kepala cecunguk yang padahal itungannya masih “maba” ini. Sekarang, udah semester tiga, mulai ngerti sifat-sifat temen, mulai ada yang dapet pacar, mulai banyak kesibukan, mulai jarang nongkrong bareng. Ketemunya cuma dikelas dan paling nongkrongnya sama anak-anak terdekat. Mulai ngegap yang biasanya satu gerombolan gede, mulai ada yang misah jadi genk kecil (termasuk Saya, Samid, Acar). Ya namanya juga seleksi. Pernah denger dari seseorang, jadi, “orang yang masih dekat dengan anda sampai sidang skripsi, membantumu hingga titik terjatuhmu, dan menyiapkan segala printilan wisudamu, itu baru teman searahmu”. Akhir kata ditulisan pertama saya, ya, cari teman!!! Terimakasih.
Dikamar kontrakan bersama Acar & Samid, menyanyikan lagu Zona Nyaman — fourtwnty. Surabaya, 28 Agustus 2017.
