Perjalanan Rasa Fikri RA #2: Mengapa Harus Pop Mie?

Pop Mie siap untuk diseduh. Oh, iya. Ada adik saya si Faruq Ardi! Haaaai… (Sumber: foto sendiri, 2016.)

Apa makanan terbaik manusia Indonesia selama perjalanan jauh dari suatu tempat ke tempat lainnya? Menurut penulis, Pop Mie adalah jawaban paling ideal untuk itu.

Bagi Anda yang baru pertama kali mengenal kata “Pop Mie”, saya akan beri sedikit selayang pandang tentang makanan satu ini.

Bagi yang merasakan kehidupan tahun 2000-an awal, kita mengenal bungkus Pop Mie Rasa Ayam seperti ini. (Sumber: ptindofood.blogspot.jp)

Pop Mie adalah merek mi instan dalam kemasan gelas yang diproduksi oleh PT Indofood (beserta perusahaan tingkat Cibitung dengan menambahkan kata “CBP”) Sukses Makmur, Tbk., perusahaan yang membuat Indomie, merek mi instan bungkus ternama Indonesia. Konon terlahir tahun 1987, Pop Mie mengubah cara memakan mi instan bagi manusia Indonesia dengan kemasan gelasnya. Ada dua varian bungkus: stirofoam dan plastik. Varian mi-nya pun serupa seperti Indomie: mi goreng dan mi kuah. Ukurannya pun disesuaikan dengan kebutuhan: ukuran sangat tanggung (Pop Mie Mini dengan massa 35 gram) dan Pop Mie biasa (massa 75 gram). Rasanya pun bermacam-macam. Ada mi goreng, mi goreng pedas, kari ayam, ayam bawang, ayam spesial, soto ayam, baso, dan ayam (hingga 2016). Dua nama terakhir konon paling banyak dijual.

Dus Pop Mie di sepanjang jalan tol yang didera macet Lebaran. (Sumber: detik.com)

Nah, Pop Mie ini dapat ditemukan di mana saja, terutama di Indonesia. Kita dapat menemukannya di warung dekat rumah, swalayan, pasar, kantor, sekolah, fasilitas umum, hingga di perjalanan dan tempat wisata. Itu yang menjadi unik ketika selama masyarakat Indonesia melakukan perjalanan jauh, ada saatnya waktu untuk makan Pop Mie, seperti saat-saat libur dalam rangka hari raya Idulfitri ini. Sepanjang jalan dan di dalam tempat wisata, ada saja penjual yang menjajakan Pop Mie. Tengoklah foto di atas. Saat macet menyiksa kubur di Jalan Tol Trans Jawa seksi Pejagan-Pemalang dalam rangka arus mudik Idulfitri 1437 Hijriah/2016 Masehi, masyarakat setempat mencari rezeki dengan menjajakan dagangan sebagai pengganjal perut masyarakat yang terkunci di tol itu. Pop Mie pula yang diperdagangkan!

Pop Mie berlatar Pantai Alam Indah, Kota Tegal. (Sumber: suaramerdeka.com)

Di tempat wisata pun juga sama. Bagi Anda yang rajin ke tempat wisata, terutama di musim liburan, laksana sinyal Wi-Fi tanpa modem jika Anda tidak menemukan Pop Mie yang dijajakan pedagang di sana.

Pertanyaannya? Mengapa harus Pop Mie?

Pop Mie di warung pinggir jalan Wonosobo-Dieng. Komplet dengan kopi atau susu. (Sumber: foto sendiri, 2016.)

Saya sempat menanyakan kepada teman-teman saya di Facebook. Jawabannya pun mentok di dua hal: praktis dan kenyang, menurut pribadi penulis.

Praktis

Kepraktisan Pop Mie tentunya tecermin dari bungkus gelasnya. Tidak makanan lain yang mudah dibuat (bukan makanan jadi loh, ya) selain Pop Mie yang tentunya diperdagangkan masyarakat di tempat wisata dan kanan-kiri jalan yang ramai. Waktu pembuatan Pop Mie yang relatif singkat (konon siap saji mulai dalam tiga menit) menjadi nilai plus tersendiri.

Kenyang

Siapa lagi yang butuh pengganjal perut paling sangkil selain Pop Mie? Pop Mie adalah bentuk alternatif dari Indomie. Jadinya, segala nutrisi di Indomie seperti karbohidrat dan protein ada di sana. Cukup untuk mengganjal perut sekeluarga ketika terjebak macet di perjalanan, ataupun kesulitan mencari hidangan berat karena tempat makan superramai di tempat wisata.

Yang perlu diingat, Pop Mie tentunya murah bersyarat, apalagi jika Anda membelinya di tempat wisata dan dalam perjalanan, ya. Rasa enak, nikmat, dan sejenisnya pun bonus.

Pose dengan bungkus Pop Mie di tempat wisata. Menarik. (Sumber: yudatama.com)

Maka tidak ada salahnya jika Pop Mie menjadi menu wajib bagi masyarakat yang berada di tempat wisata ataupun di perjalanan untuk mengisi kehampaan perut. Kenyang dan praktis, itu kuncinya. Dengan demikian, Anda turut berkontribusi dalam 13,2 miliar bungkus mi instan di Indonesia yang tersantap tiap tahun. Angka yang edan, bukan? Lupakan dahulu masalah kesehatan yang terkandung di dalam mi itu, ataupun pangsa pasar Pop Mie yang mulai tergusur Mie Sedaap Cup dengan inovasi dan rasa yang (menurut pribadi) lebih dahsyat dari Pop Mie. Yang penting kenyang lah.

Ah, memang budaya kita yang demikian adanya.

Jakarta-Tegal-Semarang-Tieng,
6–8 Juli 2016.

Fikri Rachmad Ardi, pecinta mi instan kelas tuna.


N.B.: Jika Anda tertarik, silakan membuat penelitian lebih lanjut mengenai kehadiran Pop Mie di tempat wisata atau di perjalanan dengan pendekatan grounded theory. Mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota harusnya jago akan hal ini.