Kurang lebih beginilah Alun-alun Batu pada malam hari. Foto sendiri, dan masih ada foto bersumber sama, kecuali diberitahukan kemudian.

Satu Malam di Alun-alun Batu…

Fikri Rachmad Ardi
Aug 8, 2017 · 10 min read

Antara ketan, bianglala, sampai mainan alat berat. Kombinasi aneh tapi memanjakan mata dan hati wisatawan amatir (dengan kameranya yang tak kalah amatir) di Kota Beramal.

Prolog

Menyamakan sesuatu dengan sesuatu yang lainnya memang unik. “Menyamakan” hierarki kota contohnya. Di pikiranku, Kota Batu ibaratnya Lembang bagi Kota Malang, sama halnya dengan Surabaya-nya Malang untuk Jakarta-nya Kota Kembang. Tipikal kotanya, anehnya, tidak jauh berbeda dengan Lembang — Lembang kota ya? — : lebih tinggi dari kota induknya, penghasil stroberi dan susu, diapit gunung berapi, dan tentunya punya segudang tempat wisata untuk dikunjungi dan diputar uangnya. Batu punya hal yang lebih spesial lagi dibanding Lembang: mereka adalah sebuah kota otonom (Lembang akan sulit melakukannya karena terbentur Peraturan Daerah Kawasan Bandung Utara); mereka penghasil apel; dan jikalau Lembang tanah lapangnya hanya secuil untuk dijadikan ruang terbuka umum (itu loh yang di samping Masjid Raya Lembang), Batu…


Bagi pendatang, terutama yang dari arah barat, jadwal salat Isya yang lebih cepat memang butuh penyesuaian tersendiri. Dengan waktu Isya mulai pukul 18.30 waktu setempat, aku pun punya cadangan waktu lebih banyak untuk bermain. Sebuah masjid berwarna hijau yang mentereng dihiasi lampu menarik perhatianku untuk menunaikan kewajiban. Makin lengkap saat alunan suara dzikir dari dalam masjid menarik massa supaya segera menyelasikan kewajibannya, termasuk diriku. Selain urusan kewajiban, aku juga ingin melepas lelah setelah berkeringat puas dari tanah Oro-oro Ombo, tempat sirkuit kebun binatang terbesar di Indonesia berada (apakah kalian tahu apakah itu?). Setidaknya, setelah kewajiban itu ditunaikan, aku pun semakin paham bahwa takdir Tuhan dalam memberi anugerah memang tidak pernah mengecewakan. Aku beserta 40+ anak-anak calon perencana Kampus Ganesha berada di jantung Kota Beramal, dengan aneka tawaran hal-hal yang menggoda mata, jiwa, dan kantong.

Seperti bapak yang satu ini. Dia khusyuk untuk menyatakan rasa syukur kepada-Nya.

Arek Malang Raya pantas memisahkan Batu sebagai kota otonom. Dengan keunggulan kota yang terletak lebih tinggi dari Malang induk, plus diapit kawasan pegunungan Arjuna-Welirang, sudah cukup bagi mereka untuk mengandalkan sektor pariwisata dan bisnis pertanian sebagai sumber pemasukan daerah. Berbondong-bondonglah masyarakat Malang Raya, bahkan se-Indonesia ke Kota Beramal untuk menghabisi aneka tempat wisata dan sentra bisnis pertanian yang ada. Bagi Eddy Rumpoko, sang wali kota, apa saja bisa jadi tempat wisata. Tentunya termasuk si jantung kota.

Eddy Rumpoko. Sumber: Tribunnews.com / Feri Setiawan

Lahirlah kawasan Alun-alun Kota Wisata Batu sebagai satu di antara sekian banyak penarik massa untuk datang ke agropolitan ini. Sebelum 2 Mei 2011, alun-alun ini hadir biasa saja, hanya kotak dan hamparan lapangan, Saat itulah, ER, sapaan Pak Eddy, bersama jajarannya kemudian membedah habis alun-alun itu. Yang mencolok adalah ditaruhnya bianglala (ferris wheel) di tengah alun-alun. Jadilah alun-alun Kota yang diserbu pengunjung dari empat penjuru mata angin tanah Batu.

Kamu dapat mengakses Alun-alun Batu, seperti yang sudah dibilang, dari empat penjuru mata angin. Mau dari arah lereng Gunung Arjuna (Mojokerto, Sidoarjo), lembah Kanjuruhan (Malang, Kepanjen, daerah Bromo Raya), Gunung Kawi (loh, ada dong, yang turun dari Gunung Kembar dan Gunung Kawi), atau Pujon (Kediri, Blitar dan kawan-kawan) semua bisa banget ke alun-alun ini, secara posisinya lumayan pas di tengah kota. Jika kamu membawa mobil, parkir di Masjid Agung Annur Kota Batu adalah salah satu pilihan yang oke. Ada juga tempat parkir mobil yang lebih besar di dalam sebuah pasar kaget di selatan alun-alun. Bagi bus, tersedia pula tempat parkir khusus di depat Plaza Batu yang bisa memuat 4–5 bus besar. Motor juga dimanjakan dengan tempat parkir yang beraneka tempatnya yang memuat hingga ratusan motor. Alun-alun ini, lazimnya ruang terbuka untuk umum, buka setiap saat, kecuali kamu ingin merasakan sensasi berbeda dari sebuah alun-alun. Malam itu adalah saat yang ditakdirkan pas untuk rombongan ekskursi, termasuk diriku.

Jika kamu jeli, kamu akan menemukan patung tumpukan apel di air mancur alun-alun ini. Menjadi satu di antara tengaran utama di sini.

Aku sedikit kaget ketika ada bianglala terpatri di tengah-tengah taman ini. Kupikir benda itu adalah daya tarik supaya orang-orang datang ke sini. Benda setinggi, ya kira-kira 20 meteran ini, pasti diserbu orang-orang yang menikmati lanskap Kota Batu dan Malang yang ada di bawahnya. Ingin sekali kumenaikinya. Sayangnya perut sudah meronta ingin diganjal, mulailah mata dan kantong beraksi mencari jajanan yang lumayan mengganjal perut. Aku pun sepertinya tertinggal dengan rombongan ekskursi yang terpecah: 2015 sendiri; sementara diriku, 2014, juga harus mencari yang sebaya.


Ketan

Uh antreannya.

Petunjuk ditemukan. Beberapa anak-anak 2014 sedang menyantap ketan susu di sebuah kedai yang berada di barat alun-alun. Namanya Pos Ketan Legenda 1967. Kedengarannya tua. Melihat warung ketan yang, Ya Tuhan, antreannya mengular edan, sepertinya warung ketan ini bukan warung sembarangan.

Depannya begini.

Kata infobatumalang, warung ketan ini buka dari tahun 1967 oleh Ibu Siami. Buka dari pukul 4 siang sampai jam 4 pagi, warung ini menyediakan ketan dengan aneka rasa, dari kelapa bubuk, durian, susu, cokelat, keju, stroberi, sampai abon. Karena ramai selalu, Zahrah Nida melaporkan ada lagi percabangan dari warung ini yang diproyeksikan di Jalan Raya Mojorejo, tepat di perlintasan Batu-Malang.Di warung pusatnya, Ade Utomo melaporkan kisaran harganya dari Rp6.000,00 untuk yang kelapa bubuk sampai yang Rp25.000,00 yang isinya sudah dengan pancake durian.

Sayangnya aku tidak mau ekstrem-ekstrem. Ya sudah, kubeli saja ketan keju. Setidaknya mengganjal perut yang sumber tenaganya habis dipakai di sirkuit kebun binatang.

Oh iya, di depan warung ketan ini ada warung susu produksi Koperasi Unit Desa Batu dengan jenama “Nandhi Murni” dalam kios Depot Susu Ganesha. Isinya tidak jauh dengan susu KPSBU yang ditemukan di Lembang. Tetapi, keinginanku untuk membeli susu itu sepertinya ditahan karena perut masih berisi ketan. Daripada hari-hari di Malang dan Surabaya dihabiskan untuk makan obat diare, ‘kan tidak lucu.

Depot susunya di sebelah kanan ini. Soalnya di tengahnya ada depot bakso. Tahu saja kalau peminat makan-makan di sini sangat tinggi.

Ekskavator

Di sekitarku banyak sekali pedagang kaki lima ala Pasar Jumat Salman yang menyemut di sekitar alun-alun, terutama terkonsentrasi di arah barat daya. Namanya Pasar Laron. Isinya, ya tidak jauh dari barang-barang yang kamu temukan di pasar malam seperti aksesoris untuk gawaimu, dan aneka jajanan. Belakangan, di antara sesaknya dagangan itu ada suatu stan yang menarik perhatian aku dan perkumpulan 2014 lainnya: sebuah bak pasir panjang dan jejeran ekskavator. Heh?

Di kejauhan, anak-anak 2014 sibuk menyesuaikan otak mereka dengan mainan ini. Tampak pula bocah-bocah lainnya yang sudah lebih terasah.

Ada deretan lima ekskavator mainan berukuran 0,5 m x 0,5 m x 0,5 m tersaji di depan aku dan rombongan. Setiap mesin pengeruk ini terhubung dengan dua tuas kendali yang berperan dalam memasukkan pasir-pasir itu ke truk pasir yang sudah tersedia. Tentu permainan ini tidak gratis. Kamu perlu mengeluarkan Rp5.000,00 untuk mencoba menggaruk-garuk pasir ini dan memindahkannya dalam waktu 15 menit atau lebih cepat karena kamu bosan. Salah satu bagian rombongan, Eko Setyawan, tertarik untuk mencobanya. Katanya, sih, membuat otak kanan dan kiri saling kerja. Setelah beberapa saat, kok tertarik, ya?

Selagi menunggu Eko telah bosan memainkannya, aku menemui sang pemilik mainan. Namanya Mas Budi (29). Kata beliau, mainan ini adalah hasil karyanya dengan temannya saat masih kuliah. Obsesinya terhadap mesin hidrolik membuatnya mengaplikasikan ilmu fisika tersebut dalam mainannya. Buka setiap malam pasar, mainan ini menjadi sorotan untuk keluarga yang ingin otak anaknya dilatih, tentu dengan harga yang tidak membolong kantong.

Juragannya ini, yang pakai topi merah.

Akhirnya Eko bosan. Tiada salahnya jika aku mencobanya.

Kemudian aku ditinggal. So classic.

Mau tidak mau laga pamungkas harus kuselesaikan: menaiki benda raksasa berputar itu. Konon dengan harga Rp5.000,00 satu putaran, kamu dapat menyaksikan anugerah Tuhan yang membuat Kota Batu menjadi seperti itu.

Anyway, di tengah perjalanan aku iseng memotret mas-mas yang sedang menjajakan sempol. Kata Andre, salah satu temanku yang asli Malang bawah, sempol inilah jadi ciri khas makanan ringan yang dijajakan di Malang Raya. Aci yang sudah diberi bumbu ditambah dengan daging ayam atau bisa dikreasikan sesuai lidahmu digoreng hingga coklat keemasan, lalu siram dengan saus merah (di dunia pedagang kaki lima, saus sambal dengan warna merah mencolok tidak terasa pedasnya loh) atau bumbu kacang. Sayang sekali, malu juga untuk mengintersep kawanan pengunjung berusia muda yang kebetulan sedang membeli makanan yang saat difoto harganya Rp500,00 — seharga cilok! Luar biasa, bukan? — pertusuk itu. Maafkan aku ya, mas. :( *

Semringahnya anak-anak ini ingin beli sempol.

Bianglala

Ini dia. Bianglala yang menjadi ciri khas Alun-alun Batu. Bentuknya bundar meninggi hingga kira-kira 20 meteran. Bukanya dari jam 9 pagi sampai sekiranya jam 10 malam. Dengan harga yang dipatok di dua paragraf sebelumnya, kamu dan maksimal tiga kawanmu dapat melihat sekeliling pemandangan Batu Raya dari langit (sembari berharap perjalanan selama lima menit ini lancar selama tiada masalah yang menghampiri. Makanya baca bismillah ya). Selain Andre, di antrean anak-anak PL yang juga berombong untuk masuk ke dalamnya ada Pramadya dan Aridiyon. Semoga Andre dengan pengetahuan Malangnya yang juara, Diyon yang bikin obrolan khas Jawa jadi makin Jawa, plus Pram yang punya HP dengan kamera bermutu tinggi (percayalah. Kamera belakang Samsung Galaxy S7 Edge miliknya jauh di atas kamera dari HP-ku), semoga membuat rotasi selama 5 menit itu tidak terlupakan.

Kami berempat mulai ngeh dengan rotasi yang membuat kami makin menjauh dari tanah. Oh iya, selagi makin menjauh kami dari tanah, Andre teringat akan masa kecilnya selama masih belum menjadi urang Bandung. Kurang lebih begini.

Dulu waktu aku sekolah, kalau lagi galau terus sedih paling enak ke sini. Terus aku meratapi kesalahanku di sini. Dulu juga tuh harga masuknya Rp3.000,00. Tapi kok sekarang naik, ya?

Lumayan melankolis.

Setelahnya mungkin menjadi basa-basi bagi kami, selagi menunggu sampai puncaknya.

Tiba beberapa saat sebelum di puncak, lukisan Tuhan dengan dominasi warna hitam itu membelalak mata kami. Suguhan kerlipan bangunan dengan warna putih atau kuning setitik mendominasi citra mata kami. Andre pun tak lupa menunjukkan pada kami arah Kota Malang, dengan dominasi cahaya yang lebih intens yang terlihat indah dari atas bianglala. Ada pula cahaya kemerahan terpancang dari sebuah gedung besar, rupanya itu Kantor Walikota Batu. Hawa dingin pun juga semakin terasa semakin menuju puncak. Pandangan arah tanah pun juga tak kalah wah. Masjid Agung Annur, Pasar Laron, dan aneka bangunan yang berada di bawah kami terasa indahnya. Seindah citra pesawat tanpa awak, tanpa perlu beli, dengan ekstra sensasi.

Iya, bukan? Sumber: Hafsah Afifah

Kemudian di puncak ada bendera merah putih berkibar gagah akibat tiupan angin dingin sekeliling gunung yang mengitari Batu. Oke, silakan basa-basinya dilanjutkan sampai kami turun dengan selamat. Membedah habis curhatan Andre mungkin langkah yang bisa dilakukan.

Selain bikin pengunjung cuci mata, bianglala ini terkenal dengan lampu LED-nya yang menjadi latar utama untuk foto pribadi atau berombongan. Mulai dari warna putih, kuning dengan gerakan seperti menciprat, tulisan bergerak dengan kata “B A T U”, sampai yang khasnya yaitu ini.

Warna-warni…

Sayang jika terlewat momennya.

Enak ora masuk Medium? Anyway, asli, tiada diriku di antara anak-anak 2015 ini. Sumber: Hafsah Afifah

Jika kurang puas, Anda dapat membakar waktu Anda dengan jejeran kembang dan rerumputan yang menambah kawasan hijau di sini. Ada pula gedung berbentuk stroberi (untuk pusat informasi), apel (untuk toilet), dan botol susu (ugh, aku tidak sempat main ke sini) yang bikin alun-alun makin khas. Seharusnya pula ada air mancur menari yang kalau pengurus alun-alun tidak melarang anak-anak untuk mandi di sana saat malam hari dapat menjadi sarana tambahan untuk menarik massa. Untuk masalah peraturan seperti ini, sepertinya pengunjung sangat mengerti soal adab: tidak merokok di sembarang tempat, tidak membuang sampah seenak jidat, yang punya pasangan tidak berbuat mesum (di depan masjid loh. Mau?), dan semacamnya. Kata Malang Post, hal inilah yang bikin tempat ini dapat anugerah dari Museum Rekor-Dunia Indonesia karena berhasil mewujudkan ruang publik bebas PKL dan asap rokok pada 2012 lalu.

Di antaranya gedung apel dan stroberi ini.

Jam sembilan tepat telah datang. Sebagian rombongan itu sudah berada di bus. Pengamen spesialis bus pun sudah melancarkan aksinya.

Kemudian ada kegaduhan dari seberang bus dengan jenama Perusahaan Otobus Eka yang kami naiki. Terlihat sepasang lelaki dan perempuan yang entah kenapa memicu kerumunan massa yang masih berada di alun-alun itu, persis di penyeberangan orang depan Annur. Salah satu pihak memisahkan laki-laki dari perempuan itu dan menjauhinya. Kami tidak tahu apa yang terjadi. Bisa jadi ada perkelahian sebelumnya. Namun bukan itu yang jadi fokus utamanya. Katanya sih, Diyon jadi pahlawan dengan turut memisahkan mereka berdua.

Aku tidak mau tahu. Biarkan saja kejadian mengagetkan itu tersimpan sebagai sejarah. Aku pun asyik dengan alunan “Sayang” milik NDX AKA, grup musik koplo-reggae yang sedang naik daun di seantero jagad pertemanan Planologi 2014, khususnya yang asli Jawa, menjadi pengiring perjalanan yang akan melelahkan keesokan harinya di Tanah Arema.

Batu (bukan Malang), 22 Mei 2017

Fikri Rachmad Ardi

Alien dari Bekasi. Kagok dengan bahasa Jawa.


Epilog

(*) Untuk memenuhi janji si mas yang mungkin saja berharap untuk membeli sempolnya, akhirnya aku justru membeli sempol di tempat lain, tepatnya di Jodipan. Semoga uang dari Jodipan itu bisa sampai ke masnya ya.



Fikri Rachmad Ardi

Written by

Penonton TV >2 jam sehari. Pengguna internet >10 jam sehari.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade