Hari Pertama di San Francisco

Gue sampai SF satu hari lebih awal dari rencana. These are what I experienced

Gue sampai di SF untuk Elegant Themes Meetup 2017 tanggal 13 waktu setempat , kecepetan satu hari dari jadwal yang direncanakan (Cerita lengkapnya ada disini). Untungnya, Mitch sadar beberapa jam sebelum gue tiba dan akhirnya menjemput gue dan menyiapkan akomodasi untuk satu hari tambahan (gue sih seneng-seneng aja dapat satu hari tambahan. Plus, it was a good story to be told) di Kabuki Hotel di area Japan Town.

Seumur-umur gue cuma pernah denger China Town. Ternyata ada juga yang namanya Japan Town. Gede pula.

Japan Town Neighbourhood at San Francisco
Me being Asian looking kid who arrived a day earlier & Mitch around Japan Town

Begitu sampai di hotel, gue naro barang dan jalan sebentar dengan Mitch untuk makan siang di Roam Artisan Burger, liat-liat neighbourhood sekitar hotel (Japan Town dan sekelilingnya), dan beli sim-card lokal. Setiap gue travelling ke negera asing, salah satu hal pertama yang gue prioritasin adalah beli sim card local. Sim card lokal di US lumayan mahal (beberapa puluh USD kalau ngga salah), tapi gue pikir lebih mahal lagi kalo lu nyasar dan ngga bisa balik ke hotel. Dengan sim-card lokal dan koneksi 4G yang reliable, lu bisa riset kecil-kecilan untuk nyari yang lu butuhkan, bisa nyari jalan pulang dengan Google Maps kalo nyasar-nyasar dikit (this literally happened 5 hours after I got my local sim card), dan bisa pesen Uber kalo tempat yang lu mau datangi ternyata jauh.

Beres makan siang dan jalan-jalan kecil, gue balik ke hotel untuk istirahat. SF ini musim panas, tapi cuacanya dingin dan berkabut. Matahari terbenam jam 8 malam, tapi buat penghuni negara tropis macam gue tetap butuh jaket kemana-mana. Dari cerita Mitch, cuaca sejuk ini adalah salah satu alasan orang-orang suka SF. Anyway, saking dingin dan berkabutnya, gue bahkan berpikir untuk nyari sarung tangan karena dingin banget. Gue putuskan untuk ngga usah beli sarung tangan karena bakal keliatan banget “bukan anak sini”-nya. *halah*


Setelah cukup istirahat, gue keluar hotel lagi sekitar jam 5 sore. Gue memutuskan untuk mengunjungi daerah Painted Ladies / Alamo Square, yang dijadikan lokasi serial TV Full House yang dulu (katanya) sempat terkenal banget. Gue bilang “katanya” karena gue ngga pernah dengar tentang TV show ini 😂. Mitch ngasih tau gue informasi ini dan bilang kalo ada banyak banget turis yang sengaja dateng ke area situ untuk liat dan foto-foto. Gue ngga punya rencana apa-apa untuk hari “tambahan” gue di SF ini. Jadi yowes tak lihat aja lah sambil lihat-lihat suasana SF seperti apa.

Jalan-jalan sore di SF. Ah elah gaya.
Dua hal yang lu bisa temukan banyak banget di jalanan San Francisco: 1) Rumah yang keliatannya kok bagus-bagus banget ya, dan 2) Papan peraturan. LOTS OF THEM.

Gue nyampe Painted Ladies / Alamo Square setelah berjalan beberapa blok beberapa puluh menit kemudian dengan bermodalkan koneksi 4G dan Apple Maps. Setibanya disana, tempatnya ya emang hanya tanjakan, taman, dan rumah yang (as millennial as it sounds) Instagrammable banget.

Painted Ladies, ladies and gentlemen
Me pulled the “so.. is this it?” look (because i don’t have any idea what Painted Ladies is previously)

Gue duduk-duduk di Alamo Square hingga hari gelap. Ketika hari udah gelap, gue baru sadar kalo ini jam 8.30, bukan jam 6.30 seperti di Bandung. Snob-nya gue ini gue nyobain jalan pulang ngandelin Maps di Apple Watch yang ternyata Apple Map. It feels super fancy tho, checking out map on your watch instead of phone. Sebenarnya fungsional juga karena suhu-nya dingin banget dan lebih enak buat tangan gue ditaro di saku jaket daripada megangin hp terus sambil liatin map. Sialnya, ke-fancy-an ini berakhir dengan berjalan kelebihan beberapa blok dan nyasar. Udah mah gelap, sepi pula. SF ini kota besar di US, tapi rasanya di banyak titik kepadatan penduduknya lebih rendah daripada kabupaten di Jawa Barat.

Gue tahu cerita tentang ketidak-akuratan Apple Map dan pernah ngalamin sendiri. Cuman gue pikir ini kan SF, dalem kota pula, masa iya nyasar. Taunya entah gue salah baca maps di Apple Watch gue, atau data petanya yang ngawur, atau UX Apple Maps-nya yang ngawur. Yang pasti begitu gue sadar gue berada di neighbourhood yang lain banget, gue segera cross-check dan ganti ke Google Maps. Begitu ngikutin Google Maps, gue nyampe Hotel Kabuki sekitar 15 menit kemudian, sekitar hampir jam 10 malem.

Lesson learned: Pake Google Maps, jangan ngandelin Apple Maps. Even in SF.