Red

Aku ga pernah benar-benar suka warna merah. Misal; setiap ada dua pilihan, hitam atau merah, aku pilih hitam, tosca atau merah, aku pilih tosca, bahkan kuning neon atau merah, aku bisa jadi pilih yang pertama. Bukan karena benci warna merah, tapi merah dan aku rasanya seperti memang ga ada hubungan.
Engga pernah ada saat yang tepat untuk bertemu merah selain untuk menandai kesalahan di esai atau latihan soal. Merah seperti satu-satunya teman sekelas selama enam tahun yang engga pernah kuajak ngobrol, yep sejauh itu hubunganku dengan merah.
Di film Me Before You ketika Louisa Clark memakai dress merahnya, setelah menonton konser, Will pasangan kencannya berkata “Aku ingin diam dulu di mobil, karena aku menjadi laki-laki yang selesai menonton resital klasik dengan wanita berbaju merah.”
Merah itu spesial. Aku ingin memakai baju merah, ditujukan untuk hari, tempat dan orang spesial. Ada satu coat berwarna merah bekas mama yang sekarang menggantung di lemari, dia punya sahabat, topi beret merah yang entah sudah berapa kali aku diam berpikir, aku ga tau saat yang tepat untuk memakai topi itu.
Pada akhirnya pertanyaan itu menjadi motivasi. Semacam angan-angan lebih tepat. Aku bisa memakai mereka saat musim dingin atau mungkin gugur karena merah dan daun musim gugur pasti serasi. Aku bisa pergi dengan seseorang (di bayanganku seorang pria) kita ke luar negeri, karena kita bicara soal empat musim di sini! Kita bisa ke Tokyo atau Paris, kota besar yang pasaran saja, datang ke galeri atau konser. Aku memakai coat merah dan beret itu dengan perasaan bangga. Lalu setiap memikirkan hal itu aku tersenyum. Well ironisnya ini karena merah, warna yang rasanya terlalu mewah untuk seorang Fikra.
Saat aku memakai baju merah saat itu akan menjadi momen spesial. Jadi tunggu sampai waktunya, aku akan membawa coat dan beret merah ke dalam koper lalu kami pergi.
Originally published at medium.com on July 27, 2017.
