Hati yang Lembab dan Nasib Buruk Seekor Kucing

Kehilangan adalah bagian dari rasa sakit. Jenis apa pun. Meskipun seandainya akibat dari penolakan rasa sakit itu dijadikan sebagai bahan tertawaan. Dan di antara orang-orang yang mengerti hanyalah mereka yang pernah mengalami sesuatu yang sama. Itu bukanlah sebuah kebohongan, kukira.
Aku tidak sedang merasakan apa-apa ketika seorang tetangga — ia perempuan seusia ibuku — berdiri di ambang pintu dengan suara yang memantul-mantul serupa bola bekel yang kumainkan saat sekolah dasar. Pintu rumah bagian samping terbuka. Aku hanya mendengar suara perempuan itu dengan perasaan setengah-setengah. Setengah ingin mendengar dan setengahnya lagi memilih untuk tidak peduli. Aku masih pura-pura sibuk — karena semestinya aku bukan orang yang suka menyebut diriku punya kesibukan — dengan sebuah novel berada di depanku.tiba-tiba ia menyebut perihal seekor kucing.
Kupastikan telingaku untuk tidak membiarkannya mendengar dengan setengah perasaan lagi.
 “Aku menemukan seekor kucing berwarna oranye di halaman samping rumahku,”
 Sampai pada bagian itu perasaanku menjadi tidak enak.
 “Yang mana? Besar atau kecil?” tanya Ibu. Ia mengatakan itu seolah-olah tidak ada kekhawatiran apa pun. Atau jangan-jangan aku yang terlalu berlebihan, aku tidak tahu.
 Mengenai pertanyaan ibu perihal kucing kecil atau besar: kucing kecil kami yang juga berwarna oranye baru saja sakit selama lebih tiga hari. Tidak punya keinginan untuk makan, juga jarang sekali bergerak. Kecuali berbaring menjatuhkan tubuhnya di tempat-tempat yang lembab. Barangkali suhu tubuhnya terasa panas tersebab demam.
 “Kucing tua, yang besar.”
 Aku mendengarnya dengan jelas. Seketika buku di tanganku terlempar dan aku buru-buru keluar dari kamar. Waktu itu siang dan kebetulan tidak turun hujan.
 Di bagian ini sebenarnya aku malu untuk bercerita. Tetapi biar saja aku membocorkannya, biarkan ia gagal menjadi rahasia. Aku memeluk kucing tua, oranye, dan gemuk yang sudah lemas. Sepasang matanya serupa kelereng — terbuka — dengan mulut yang juga terbuka. Tubuhnya masih sangat lemas, dan kuyakin Izrail belum lama menuntaskan tugasnya. Tubuh kucing itu terkulai, bagai kain pel. Aku tidak bisa untuk tidak menangis.
 Di dalam diriku seolah ada seorang bocah yang bertarung denganku dan ia mengalahkanku begitu saja. Aku benar-benar merasa bocah. Masih kupeluk bangkai kucing itu, dan tetap masih menangis. Meskipun di luar tidak hujan, perasaanku menjadi demikian lembab.
***
Sebelumnya aku sangat mencemaskan kucing itu. Ia tampak tidak terlihat selama beberapa hari, tidak pulang. Aku merasa takut kalau-kalau terjadi sesuatu padanya. Perasaan cemasku digantikan perasaan lega ketika kudapati kucing itu menginjakkan kakinya di rumah pada suatu malam. Ia masih saja cerewet dan tampak jagoan. Tiba-tiba saja ia ingin berdekatan denganku, membaringkan tubuhnya tidak jauh dariku. Bahkan ketika kucoba untuk melepaskan diri, ia tampak memaksa.
 Mulutnya sariawan. Ia tidak memiliki selera makan yang bagus. Aku masih cemas, hingga kupaksa ia ke dapur untuk kuberi kepala ikan. Ia tetap tidak berselera, tidak mampu sebetulnya. Begitu mengunyah kepala ikan, barangkali ia merasakan sakit yang teramat, kepala ikan itu gagal masuk ke kerongkongan. Aku masih saja cemas. Tidak biasanya begitu. Ia termasuk kucing yang rakus dan pemakan segala.
 Keesokan harinya ketika pulang, kulihat sariawannya sudah hilang. Aku cukup merasa senang dan menganggap kucing itu punya pertahanan tubuh yang bagus. Ia tetap tidak ingin berjarak denganku. Dan siapa yang bisa menebak angin kematian?
 Kematiannya bukan sebab sakit yang serius, maka selanjutnya kuanggap sebagai nasib buruk yang sedang menimpanya. Dari mulutnya keluar busa. Kami menebak ia keracunan. Tapi siapa yang tahu? Tetangga kami ada yang suka menjebak tikus-tikus dengan racun. Beberapa kucingku pernah bernasib sama. Mati setelah makan tikus yang diracun.
 Di hari kematiannya itu, aku tidak berselera keluar rumah. Menyesali banyak hal perihal kucing. Sementara orang-orang mengejek, “Tidak ditahlilkan?”
“Tidak dibawa ke dokter sih.”
Dan masih beberapa kalimat lain yang sedikit menjengkelkan.
Usianya lebih sepuluh tahun, tentu bukan usia muda bagi seekor kucing. Tapi ia sehat dan masih gemuk meskipun tua. Kami kerap memanggilnya kakek. Sampai tulisan ini dibuat, sesekali aku masih menyesal, meskipun tidak lagi menangis. Oh ya, namanya Ancil. Kau boleh mencatat atau bahkan mengenangnya, sebagaimana aku.
***

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Fina Lanahdiana’s story.