Kutipan yang Lupa

tiba-tiba aku berlari. masuk. menuju puisi. mengulang perihal tak pasti. hampir basi oleh hitungan kata nanti. seperti sebuah definisi. cinta?

nanti — ia bergerak melebihi kecepatan cahaya: kilat. sebelum guntur pecah. jadi hujan. meski tak seorang pun pergi menjelma kurir pengantar surat dan kembali dengan garis-garis alamat salah dan tersesat.

jalan-jalan licin. oleh kosong sebelum dan sesudahnya. seolah tidak ada kalender di dalamnya. nama hari menjadi tak penting lagi, bagai bahasa telah dihapus dari segala kamus istilah.

mungkin telur busuk digagalkan gigil angin — induk tak tahu diri dan mengira nasib selalu baik meski tanpa bacaan dan daftar rencana.

sinar matahari. menciptakan transparan di seluruh rongga — dada — serta permukaan cangkang. rapuh. hanya warna pucat yang mudah digerus telunjuk rasa bersalah.

sebuah film mengutuk hidup, aku mengutipnya dengan semena-mena.

—adakah ketidaksempurnaan yang melebihi hidup kita? —

ingatanku buruk. seolah hidup di dalam raga sebutir telur tak pernah ditakdirkan jadi ayam, anak-anak bagi sesamanya. yang hanya pandai cara menangis dan meminta kepada para orang tua — garam bagi seluruh laut yang tak lagi mampu menampung memar.

April, 2016
Show your support

Clapping shows how much you appreciated Fina Lanahdiana’s story.