Menulis dan Hal-hal Tentang Kenangan

"Mengapa kamu menulis?" adalah sebuah pertanyaan yang kerap diluncurkan seseorang ketika merasa penasaran dengan dirinya sendiri sebagai cermin.

Mengapa saya menulis? Tidak terlalu jelas awalnya, kecuali untuk iseng-isengan. Saya suka membaca, benar. Tapi saya bukan seseorang yang teliti menghapal detail. Jika kamu bertanya, siapa pengarang favoritmu? Saya tidak benar-benar tahu. Saya tidak menghapal nama pengarang. Dulu. Meskipun setiap minggu, di masa SMP, saya sering meminjam paling tidak tiga buku. Tapi tak satu pun saya ingat nama pengarang. Hanya satu judul yang saya ingat: Dokter Kecil. Itu pun saya tidak ingat ceritanya tentang apa. Sekarang.

Jika ada seseorang paling berjasa yang mengenalkan saya dengan buku adalah bibi saya yang seorang pengajar di SD di mana saya belajar. Waktu itu jam pulang dan saya diminta menunggu di kantor karena ada hal yang harus dilakukan bibi saya yang memang tidak bisa ditunda. Saya duduk di kursi dekat pintu, sendiri. Lalu bibi saya datang dengan tumpukan buku cerita. Saya tak banyak ingat, tapi dari sekian buku yang saya hafal adalah: 1. Sersan Mayor Swani, 2. Doa Angsa Putih. Bibi membolehkan buku-buku itu untuk saya bawa pulang, dan jadi milik saya, meskipun pada mulanya hanya untuk mengisi waktu menunggu.

Pada awalnya saya tidak tahu mengenai perpustakaan, sampai pada suatu ketika, SD kami didatangi kakak-kakak KKN dari UNNES. Mereka mengenalkan kepada kami tentang perpustakaan dan buku-buku. Setelah itu kami boleh meminjam. Tidak ada gedung perpustakaan, yang ada hanyalah sebuah lemari di dalam gudang bersebelahan dengan UKS yang hanya berisi ranjang kosong. Seolah berhantu. Kami ramai di sana, seolah sedang berebut harta karun.

Saya menulis karena iseng, awalnya. Suatu pagi saat upacara bendera di MA N Kendal, diumumkan bahwa salah seorang teman kami memenangkan lomba cerpen tingkat umum se-Kabupaten Kendal. Ia adalah seseorang yang bergiat di ekstrakulikuler STESA (Teater MA N Kendal). Ketika itu saya tidak mengenalnya. Sampai pada akhirnya, ia satu kelas dengan saya di XI IPA 1, saya mulai penasaran dan ingin banyak bertanya. Ia banyak bercerita soal hadiah, bisa membeli hp sendiri, memberi uang ke orang tua dari hadiah lomba adalah beberapa di antara alasan yang menarik diri saya untuk (ingin) belajar menulis.

Teman saya itu tidak bosan menjawab kecerewetan saya ketika itu. Bahkan ia menarik lengan saya ke perpustakaan, menyodorkan tumpukan buku dan majalah sastra (Horison) dan saya cuma bisa geleng kepala. Tidak paham apa-apa.

Kebetulan lain, sekolah kami menerbitkan majalah dengan frekwensi per semester, dan demi menggugurkan rasa penasaran, saya mengirim beberapa puisi melalui e-mail. Namun karena merasa malu, saya tidak mencantumkan nama lengkap, dan malah menggunakan nama aneh (yang jika tidak salah ingat, nama pena saya ketika itu adalah Blue_Ice). Itu adalah pertama kali tulisan saya dimuat, dan merasa sangat senang meskipun dibayar dengan honor tujuh ribu rupiah.

Selanjutnya kamu boleh penasaran :p

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.