Segala yang Tak Utuh


seringkali kita berjalan mundur, mencetak buram setiap yang lewat
menjadi warna abstrak
indah yang tak jelas di sepasang mata milik pembacanya.

membaca di jauh pohon-pohon yang berubah lembaran kertas
milik pabrik-pabrik penyalur polusi usia, dan limbah-limbah
aroma roh orang-orang mati
yang di keningnya matahari tak lagi sama hangat dengan seduhan kopi setiap pagi
tidak juga dibangunkan insomnia akibat serangan sakit kepala dini hari yang buta.

sepasang sepatu berjalan sendirian
melewati jembatan di lalu lintas yang padat
berisi warna hijau menyala dan kuning hati-hati, bukan merah
ia suka menjadi arus yang tak lagi searah
jika orang-orang berjalan ke depan
ia memilih menabrak ke belakang
menjadi pemandangan di setiap
gambar-gambar yang ditangkap kamera
milik para pelancong
yang tersesat, mengaku mencintai sejarah tetapi bahkan tak pernah mencatatnya sebagai kalimat tanya.

ia hanya tahu tentang diri sendiri yang dipeluk bingkai
di tepi patung gagal
memamerkan diri jadi galeri
yang pengunjungnya tak lebih dari ingatan lupa dan rupa-rupa hampa.

ia berjalan ke bawah, dan ke atas. terbang.
bukan burung dengan sepasang sayap.
dan melihat puncak biru di sepasang matanya. yang buta.
ia berjalan dan tak lekas sampai.

mungkin ia lupa
yang jauh, tak pernah benar-benar utuh di jatuh penglihatannya yang kabur oleh mata air air mata.

Kdl, 2905'17