Simtom Kecemasan Ruang Baca(an) Kita


Perpustakaan adalah rumah sakit bagi pikiran (Anonim), tetapi apa jadinya jika yang kita sebut sebagai rumah sakit itu tidak benar-benar bisa menyembuhkan para pasien? Alih-alih pasien-pasien tersebut justru akan sekarat kemudian mati. Ironis? Ya. Berlebihan? Tidak. Ini adalah kenyataan yang mesti kita terima, serupa pil pahit yang harus ditelan bulat-bulat dalam kurun waktu sangat lama, bahkan mungkin (harus) seumur hidup. 
Saya tidak menutup mata, bahwa jika mendengar frasa 'perpustakaan' yang terlintas di benak sebagian orang adalah sebuah tempat yang sunyi, lembab, bau debu, gudang penyimpan buku, dan masih banyak istilah negatif lainnya.
Gedung-gedung perpustakaan di Indonesia tidaklah sedikit. Di sekolah-sekolah, perpustakaan adalah jantung, yang tanpanya sekolah tidak bisa hidup dengan buku-buku yang dimilikinya, meskipun sesungguhnya tidak seluruhnya benar-benar 'hidup' dan hanya jadi pelengkap penderita gedung sekolah.
Pada akhirnya saya sedih--terlebih, selain penyuka buku, saya memiliki latar belakang pendidikan ilmu perpustakaan--ketika harus mengakui bahwa paradigma yang diberikan sebagian orang tentang perpustakaan, yang hampir didominasi dengan hal-hal buruk itu adalah benar, meskipun saya masih memercayai bahwa ada sebagian lain yang menganggap perpustakaan tidak sekadar sebagai rumah sakit, akan tetapi justru menganggapnya sebagai 'taman kota’. Akan selalu ada dua hal yang berlainan arah, dua kutub yang berbeda--sebagaimana yang dikatakan Gede Prama: fundamen paling dasar dari manajemen SDM adalah manajemen perbedaan--yang kelak menimbulkan gesekan dan bahkan harus saling bertolak.

— Minat Baca Rendah

Saya tidak sedang ingin membahas panjang-lebar mengenai hasil penelitian UNESCO pada tahun 2016 yang menyebutkan bahwa tingkat minat baca Indonesia berada pada urutan terbawah ke-dua, tepatnya urutan ke-61 dari 62 negara, tapi mau tidak mau saya harus menyertakannya sebagai gambaran bahwa saya tidak sedang berbusa-busa, dan minat baca kita memanglah rendah. Saya ambil contoh, di sebuah sekolah X misalnya, sekilas memang tidak ada yang aneh dengan gambaran umum gedung perpustakaan yang tidak jauh berbeda dengan perpustakaan lainnya, tapi saya merasa cemas bahwa siswa yang berkunjung tidak lebih dari 0,02% dari seluruh jumlah siswa per hari, padahal sudah cukup upaya yang dilakukan untuk menarik minat siswa berkunjung ke perpustakaan, antara lain memilih duta perpustakaan dan memberi reward bagi siswa dan guru/ karyawan (individu) serta kelas (kelompok) paling aktif mengunjungi perpustakaan. Dan saya sepenuhnya yakin, hal demikian terjadi di banyak perpustakaan sekolah lainnya secara umum.
Keinginan barangkali kunci bagi seluruh tujuan yang ingin dicapai. Sudahkah ada keinginan dari para siswa untuk mendekatkan diri mengenal perpustakaan? Jika menilik kisaran angka kunjungan yang masih sangat kecil, barangkali keinginan itu belum ada, atau jika sudah, tidak ada tindak lanjut dari keinginan itu sehingga hanya berakhir sebagai keinginan, seperti ide yang tidak diwujudkan. Hal-hal semacam itu, tentu saja menciptakan jarak bahkan tembok tinggi--seperti keengganan atau ketakutan sebab tidak tahu--yang membentengi diri masing-masing individu untuk lebih mengenal perpustakaan.

— Budaya Konsumerisme

Pertanyaan tidak berakhir di dalam kepala saya. Benarkah minat baca di negara kita rendah? Kalimat itu berputar-putar seperti pusing ketika mabuk kendaraan atau sedang masuk angin dan ingin membuat muntah. Benarkah? Benarkah? 
Bukan tanpa alasan bahwa saya selalu ingin menyangkal pertanyaan dan pernyataan yang menyebut-nyebut minat baca negara kita rendah. Hal ini sedikit terpengaruh oleh rasa haru saya ketika mengunjungi toko buku Gramedia, yang saat itu salah satu anak penerbitnya sedang berulang tahun dan memberikan potongan belanja sejumlah Rp. 43.000,00 dengan syarat tertentu, saya menyaksikan dengan sepasang mata saya sendiri, bahwa pengunjung sudah serupa luapan banjir rob saat musim penghujan. Tidak cukup sampai di sana, saya juga menyaksikan sesuatu yang tidak jauh berbeda saat Pemerintah Kota Semarang, bertempat di Gedung Wanita, menyelenggarakan pesta sejuta buku pada 05-11 April 2017. Jadi, benarkah minat baca negara kita rendah, terkendala oleh harga buku-buku yang semakin hari semakin melambung melebihi jatah untuk mengisi lambung--padahal mampu membelanjakan uang dengan gadget terbaru yang tentu lebih mahal berkali lipat dari harga buku--atau hanya persoalan prioritas dan kebiasaan?

— Menyikapi 17 Mei

17 Mei adalah Hari Buku Nasional dan saya masih tidak mengerti cara untuk merayakannya. Apakah memang perlu untuk dirayakan sebagaimana euforia singkat hari-hari nasional lainnya? 
Kilas balik mengenai Hari Buku Nasional yang sesungguhnya adalah hari peresmian Perpustakaan Nasional Republik Indonesia oleh Abdul Malik Fajar pada tanggal 17 Mei 1980 (*berbagai sumber). Tujuan dari ditetapkannya Hari Buku Nasional adalah untuk meningkatkan minat dan kegemaran membaca khusunya masyarakat Indonesia. Selain itu, dengan adanya Hari Buku Nasional ini di harapkan dapat melestarikan budaya membaca buku serta meningkatkan penjualan buku. Tapi, lebih penting dari itu: sudahkah kita membaca hari ini?

— Ruang Cemas, 16 Mei 2017
Show your support

Clapping shows how much you appreciated Fina Lanahdiana’s story.