Dear Client, dan Boss.

Bikin Software itu susah, dan Estimasi bukan berarti deadline

Selaku seorang Freelancer, hidup dibawah bayang-bayang client dan boss merupakan sebuah hal yang biasa. Menunggu revisi, mengejar deadline, dan merubah ekspektasi menjadi realita. Selaku seorang Freelancer yang berkerja di bidang Perangkat Lunak, tentu membuat Software itu susah. Kalo gampang, pasti banyak dong yang pengen jadi seorang Software Engineer, atau Programmer. Fiuh, logika saya sangat cetek, bahkan untuk seorang Programmer.

Nyatanya, bikin Software itu susah. Terlebih seorang Single Fighter yang melakukan semuanya. Mulai dari Requirement Analytics, Design, Code, Test, sampai Deploy. Terlebih, bila ada revisi. Entah penambahan fitur, atau pengurangan fitur. Kan gampang, tinggal hapus function anu, atau tambahin function anu. Sayangnya, dunia per-software-an tidak segampang itu, haha! (Untuk saya seorang pemula).

Terlebih, seorang Client atau Boss kita, yang menganggap: Estimasi itu deadline. “Bro, bikin E-commerce ginian bisa berapa bulan?”. “Kira-kira sih 3 Bulan pak”. “Oke, gue tunggu yah”. Nah, ketika telah 2 bulan, baru deh kita diterror: “Gimana project? Udah sampai mana? Deadline bulan depan loh”. Please, jangan anggap estimasi pembuatan sebagai Deadline, Pak. *Besoknya langsung di pecat*.

Meskipun, memang sangat efektif membuat sesuatu tergantung deadline, tapi menurut saya tidak cocok untuk proyek sebuah Software. Terlebih untuk seorang Single Fighter. Alasan nya? Cobalah mulai menulis baris kode dan menyusun logika, kelak kau akan mengetahui bagaimana ‘mudah’ nya dunia per-codingan, hahahaha.

Berdasarkan pengalaman? Bisa jadi. Tapi saya yakin, bukan hanya saya yang merasakan pengalaman seperti ini. Kalo boss atau client kamu bilang: “Ya elah, kan bikin software E-commerce simple gini doang. Desain pake bootstrap aja, terus fitur-fitur ikutin Toko Online sebelah — selevel Tokopedia lah. Tapi, mirip-miripin dikit sama Bukalapak, dan jangan terlalu mirip sama Tokopedia dan Bukalapak ya — Nah loh. Mana bikin ‘software sendiri’, minta miripin sama ‘Tokopedia’, dan ‘Bukalapak’, ditambah ‘jangan terlalu mirip sama mereka’. Kalo bikin tokopedia aja misalnya membutuhkan 20 orang Tim, Bukalapak 20 orang Tim, dan mereka membuat platform tersebut selama 4 bulan lebih (dan masih berlangsung). Gimana kita, yang hanya ‘sendirian’, membuat platform yang mirip seperti mereka tapi jangan terlalu mirip, dan… hanya 3 bulan :p

Saran saya sih, kalo gak mau ribet: Pake Wordpress, plugin Woocommerce. Kalo pengen rada Advance dikit, pake Magento atau… Prestashop lah. Jangan minta bikin sistem baru. Cuma saran (ngawur) doang, jangan ditiru. Pada intinya, buat para Client atau Boss: Bikin software itu susah. Dan estimasi, bukan berarti deadline.

Salam dari seorang Freelancer Pemula.


Edited:

Saya tidak ber-afiliasi dengan Tokopedia, Bukalapak, ataupun situs Freelancer. Dan juga tidak ber-afiliasi dengan Wordpress, Woocommerce, Magento, dan Prestashop. Semua nama diatas saya ambil sebagai Contoh-nyata, agar tulisan ini tidak terlalu terlihat tak-nyata.