Obrolan Shubuh: Apa sih Nilai Esensi Kuliah?

“Apakah hanya sekedar biar pinter, biar kerjanya gampang, atau biar kaya orang-orang?

Bismillahirrahmanirrahim,

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Saya typikal orang yang ‘susah menerima segala sesuatu begitu saja’. Bukan sok-idealis, atau sok-kritis, tapi memang begitu-lah saya. Saya galau dengan apa sih nilai esensi dari kuliah, apakah biar pinter (kata orang-orang), biar kerja nya gampang (kata orang-orang juga), atau biar kaya orang-orang?

Kalo kata orang tua saya, kuliah itu biar mengetahui arti perjuangan hidup dan cara berfikir. Well, masuk akal. Tapi, apakah hanya sesederhana itu? Sebagai seorang muslim, saya membaca sebuah hadist yang ber-bunyi: Thalabul ‘Ilmi Faridhaatun ‘Alaa kulli muslimin-wal-muslimah. Yang artinya: Menuntut Ilmu itu wajib bagi setiap Muslim dan Muslimah, oke saya seorang yang taat agama. Saya percaya itu, tapi saya belum menemui nilai inti dari kuliah.

Biar pinter, hmm bisa juga. Tapi, apakah hanya dapat dari kuliah? Biar pinter emang gak cuma dari kuliah, tapi salah satu nya cara melalui kuliah. Mengutip kata ‘salah satu’, berarti kuliah itu bukan satu-satunya cara biar pinter. Kita lanjutin, emang sih, tapi coba liat perusahaan-perusahaan, kalo buka lowongan kerja pasti apa yang dicari? Dibutuhkan Sarjana S1/D3 Teknik Informatika yang menguasai OOP, Basis Data, dan lain-lain. Fresh-graduate? Welcome. Nah, berarti kita harus kuliah, biar bisa ngelamar disitu dan diterima diperusahaan itu. Kemampuan kita akan menguasai bidang tertentu akan ter-verikiasi melalui program bernama kuliah ini. Jadi, kuliah itu ujung-ujung nya buat kerja juga, kan?

Mari kita lihat, ada saja sarjana yang fresh-graduate, memiliki IPK tinggi, atau lulusan perguruan-tinggi bergengsi, tapi masih menganggur. Kenapa? Kalo menurut saya, mereka sama seperti saya. Belum mengetahui nilai esensi/inti dari kuliah tersebut. Bila hanya untuk bekerja, banyak lulusan-lulusan SMK diluar sana yang sudah bekerja, orang-orang yang tidak lulus dari kampus pun tidak sedikit yang sukses bahkan memiliki perusahaan sendiri. Jadi, kuliah bukan hanya untuk bekerja.

Pengalaman? Justru, pengalaman lebih banyak diajar di lapangan, bukan dikuliahan. Sekarang justru tidak sedikit profesional yang tidak kuliah, atau kuliah tapi dropout, atau juga kuliah-jurusan-apa-jadi-apa. Tau dong, sarjana perhutanan yang harus nya kalo diliat dari buku panduan jurusan kalo lulus jadi ini, malah jadi itu. Entah harus kecewa atau bangga. Biar kerja gampang? Kok sarjana-sarjana masih ada yang nganggur?

Biar kaya orang-orang, bisa jadi. Nak, kuliah-lah di sana biar kaya si anu, sekarang jadi Manager di perusahaan anu. Nak, kuliah-lah yang bener, biar dapet IPK gede, entar kerjanya biar gampang kaya si anu. Nak, kuliah-lah masa kamu pengen nganggur aja kaya si anu, mending kaya si anu sekarang kuliah di Itege. Dan lain-lain. Ada satu pikiran yang ‘lumayan masuk akal’ di otak saya, biar orang tua bahagia. Bener juga sih, tapi yang saya cari apa sih nilai esensi dari kuliah?

Enggak penting banget ya? Kuliah, ya tinggal kuliah. Anak zaman sekarang ribet pengen kuliah aja, pake acara galau segala. Bingung, nyari nilai esensi dari kuliah. Liat orang zaman dulu, pengen kuliah tuh susah. Ada yang kuliah sambil kerja lah, ada yang kuliahnya bergantung ke beasiswa, dan lain-lain. Ini, orang tua udah mampu, kuliah gampang, pengen kuliah aja ribet amat. Eh, saya bukan tipe orang yang Taqlidul A’ma. Seseorang yang ikut-ikutan, tapi buta. Jadi, gini aja. Daripada saya meracuni pikiran anda, bila anda memiliki jawaban atas pertanyaan, silahkan jawab di kolom komentar. Oh iya, kalo ada yang nanya: Lo galau kuliah, gak mau ikut-ikutan, kok kuliah? Jadi gini, sekarang gue menilai kuliah itu sebagai perjuangan. Dalam hadist disebutkan: Man kharaja fii thalabil ‘ilmi, fahuwa fii sabilillaahi hatta yarji’a. Seseorang yang keluar untuk menuntut ilmu itu, maka dia sedang berada di jalan Allah, sampai ia kembali pulang. Jadi, ideologi saya dalam kuliah (untuk sekarang) ini, ya tadi. Maaf sudah membaca tulisan gak penting ini, bila ada kesalahan, mohon maklum. Al-insaan makaanu-l-khataai wa-n-nisyaan.

Wassalam,

Fariz Rizaldy

(Mahasiswa) Teknik Informatika