Purnama pucat.
Yang terlelap pun memandangmu.
Sep 6, 2018 · 1 min read
Selintas udara menyisiri pinggir jendela, melihat langit redup tanpa sinar rembulan.
Apa sinarmu sudah tak dianggap?
Mengapa kau hilang, dimana purnama dingin itu?
Seakan waktu hadirmu sia-sia, tapi surut pasang laut menunggu tiba mu.
Dingin bagai sejuk hawa kaki gunung, Menanti matahari terbit membuat cemburu pada sinar yang lebih cerah.
Jangan hilang karena tak dipandang, untuk apa cucu Adam menginjakan kaki di tanah mu.
Jika bukan untuk menemani kelam malam dengan serpihan cahaya itu.
