Purnama pucat.

Yang terlelap pun memandangmu.

Finddhifa
Finddhifa
Sep 6, 2018 · 1 min read

Selintas udara menyisiri pinggir jendela, melihat langit redup tanpa sinar rembulan.

Apa sinarmu sudah tak dianggap?

Mengapa kau hilang, dimana purnama dingin itu?

Seakan waktu hadirmu sia-sia, tapi surut pasang laut menunggu tiba mu.

Dingin bagai sejuk hawa kaki gunung, Menanti matahari terbit membuat cemburu pada sinar yang lebih cerah.

Jangan hilang karena tak dipandang, untuk apa cucu Adam menginjakan kaki di tanah mu.

Jika bukan untuk menemani kelam malam dengan serpihan cahaya itu.

Finddhifa

Written by

Finddhifa

we actually living before leaving.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade