Sedang Memantaskan Diri

“Selama masih dalam naungan langit yang sama, kita pasti akan bertemu menatap langit bersama-sama”

Bukankah setiap hati itu pasti ada pemiliknya. Bukankah Allah juga telah menjanjikan bahwasanya setiap orang pasti dipertemukan oleh sepasang tulang rusuknya untuk saling menyempurnakan satu sama lain. Lalu apa lagi yang perlu dikhawatirkan jika Allah telah menjamin itu. Entah dengan siapa kita akan dipertemukan kelak, entah kapan waktu yang tepat Allah mengatur pertemuan itu. Semua masih menjadi teka-teki siapa yang akan menjadi teman sehidup semati.

Allah itu penuh dengan kejutan-kejutan. Membiarkan hambanya bertanya-tanya hingga pada waktunya Allah akan memberikan jawaban terbaiknya. Dipertemukan dengan banyak lelaki di hidup kita, datang untuk memberi kesenangan sesaat lalu pergi, merupakan salah satu rencana Allah agar kita bisa menarik pelajaran-pelajaran dari orang-orang yang pernah datang dihidup kita. Karena sejatinya setiap orang yang hadir dihidup kita memberikan suatu pelajaran tertentu. Hingga sampai akhirnya Allah membiarkan hambanya mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk. Setiap pelajaran-pelajaran tersebut mengandung hikmah tersendiri. Ketika kita telah memperoleh banyak sekali pelajaran-pelajaran tersebut, secara perlahan Allah akan menunjukkan mana yang terbaik untuk kita. Rencana Allah selalu mengejutkan, terkadang tak disangka tak dinyana orang yang akan menjadi imam kita nantinya ternyata berada didekat kita yang mungkin tidak akan pernah disangka sebelumnya. Sebegitu mengejutkan memang. Mencari tulang rusuk sampai nun jauh disana, kalau memang jodohnya berada didekat kita, tak bisa kita memungkirinya. Banyak sekali cara Allah mempertemukan kita dengan si penyempurna agama kita kelak. Entah bagaimanapun caranya, percayalah itu yang terbaik untukmu. Tetaplah berdoa atas nama Allah agar segera kita dipertemukan dengan tambatan hati kita. Tentunya dia memiliki cinta yang besar kepada Dia dibanding dengan yang lain, dan mencintai kita karena Dia. Setiap wanita pasti menginginkan lelaki yang dapat membimbingnya ke jalan yang di ridhoi Allah Subhanallu Wa Taala.

Wahai kamu. . . Siapapun namamu, darimanapun asalmu, bagaimanapun rupamu, aku disini sedang berdoa agar Allah segera mempertemukanku denganmu. Semoga kamu yang kutunggu sedang dalam lindungan Allah dan selalu beribadah kepadaNya. Aku sungguh membutuhkanmu untuk membimbingku menuju surgaNya. Entah kapan waktu yang tepat kita akan bertemu, namun aku selalu menyebutmu calon imamku dalam setiap sujudku. Aku melayangkan doa untukmu calon penyempurna agamaku, entah kau merasakan atau tidak. Kita hanya menunggu tanggal mainnya.

Kau tahu, aku sedang berusaha memantaskan diri untukmu kelak. Sebab Allah telah menuliskannya dalam Al-Qur’an bahwa orang yang baik akan dipertemukan dengan orang yang baik pula. InshaaAllah aku disini berusaha menjaga kehormatanku semata-mata hanya untukmu. Aku tak pernah membayangkan kehidupanku setelah dipertemukan denganmu. Yang aku inginkan hanya aku bahagia nantinya bersamamu. Tidak sedikit orang mengataiku aku sedang tidak sabar menantimu atau terlalu terburu-buru. Mungkin ada benarnya sedikit. Namun sebenarnya bukan itu intinya, aku hanya ingin kau tau suatu saat nanti bahwa saat ini aku sedang belajar menjadi seorang wanita seutuhnya untuk menyambutmu kelak. Banyak sekali persiapan yang aku lakukan, aku tidak mau sedikitpun mengecewakanmu. Sehingga ketika Allah mempertemukanku denganmu, aku sudah siap lillahi ta’ala. Entah dalam hitungan bulan atau tahun, Tuhan akan memberikan kesempatan buat aku untuk sedikit mengetahui wujud calon imamku. Aku ingin memberikannya tanggung jawab akan diriku yang telah terlepas dari tanggung jawab orangtuaku setelah dia memintaku dari orangtuaku atas izin Allah SWT. Mungkin banyak orang yang sedang menertawai tulisanku ini. Mungkin tulisan ini akan menjadi saksi bisu penantianku. Tulisan ini pun aku persembahkan untuknya agar suatu saat dia membacanya. Aku berserah padaMu Ya Allah, atas segala takdir yang kan kau berikan. Aku tahu pilihanmu adalah yang terbaik bagiku. AMIN…

“Kita memijak bumi yang sama, dibawah naungan langit yang sama pula, disinilah kita kan mulai merajut cerita bersama hingga menuju jannah Nya kelak”