Senja Yang Memelan Berbisik

Gambar dari seorang penikmat bisikan suara dunia

Kalau Chairil Anwar bilang hidup itu soal menunda kekalahan, itu sepenuhnya benar. Saya sering merasa ketika banyak orang aman dan tenang selayaknya menikmati kopi di kala sore, tapi saya menunduk, bukan karena malu. Tapi merasa sendiri untuk menikmati hujan .. Penuh dengan awan yang tanpa sadar menyublim membuahkan pikiran-pikiran tanpa batas. Yang terkadang merasa dunia ini punya kekuatan dan keindahan yang terlalu besar dan indah untuk tidak di nikmati sendiri. Melihat matahari terbenam misalnya ..

Ya saya menyebutnya senja. Suara gaungnya selalu menyerukan untuk membuat kembali, kembali melihatnya. Karena dia adalah pembawa berita disaat angin membawa sungkawa . Dia adalah penawar dari riuhnya prahara yang sering memporak-porandakan inti jiwa. Dia adalah hal yang melebihi dari rumah yang selalu di cari keberadaannya. Dia menawarkan sejuta tawaran sandaran untuk berhenti sejenak menikmati udara yang ternyata Tuhan tawarkan secara gratis dengan asuransi selamanya. Dia adalah fantasi yang saya ciptakan sempurna untuk melihat percikan-percikan yang membentuk pelangi . Sesempurna itu dia untuk membuat kepala yang menunduk sendiri menjadi punya teman untuk memandang dunia ini secara integral . Sesempurna itu dia menawarkan ajakan-ajakan yang mampu melihat dunia menjadi lebih besar. Sesempurna itu dia menjadi warna yang selalu ditunggu keberadaannya . Jingga ..

Butuh waktu dua belas jam untuk menantinya, menunggu kedatangannya, menggabungkan setiap detik untuk menyambutnya, melewati banyak momentum untuk mengabadikannya. Tidak ada pengorbanan karena senja selalu berbisik pelan, membisikkan kata-kata kirana yang elok di telinga melalui angin. Seakan semua molekul berkompromi untuk menyampaikan pesan itu kepada saya. Bukan berarti pelan di identifikasi sebagai sesuatu yang lamban namun ia melangkah tegas untuk selalu membuat saya kembali . kembali menantinya .. iya jingga ..

Iya saya kalah . Kalah telak .. Senja telah berada di dua tiga pulau untuk memberi warna kepada penikmatnya. Sementara saya masih disini menyanyikan lagu alam dengan gitar usang pembelian bapak, ironis nya bernyanyi di bawah gerimisnya hujan . Iya, saya kalah ..

Berjuta awan-awan yang saya riliskan dari pikiran, kusut begitu saja .. awan-awan ini membesar dan mengeras tidak selayaknya awan yang lain yang teduh dan indah .. Saya adalah orang yang kalah yang takut menghadapi hal yang belum saya hadapi, Saya takut untuk melihat lebih jauh dunia ini indah dan seperti rumah. Saya takut. Saya membuat tulisan-tulisan karna untuk mengelabuhi rasa takut saya . Saya takut untuk mengenal manusia ..

Senja . kamu adalah hal yang membuat saya menanti dan berani setidaknya mekanisme perubahan alam ini selalu menghasilkan keindahan .. setidaknya setelah keringat bercucuran disiang hari dengan beberapa perdebatan untuk memperjuangkan teman yang bernama “idealisme”, kamu selalu memberi kepercayaan seolah warnamu bilang “semua akan baik-baik saja “, teduh ..

Senja . Tidak pernah terpikirkan bagaimana jika jinggamu tak terlihat lagi, di sore hari . Di kala ada satu tempat yang sunyi dan sejuk untuk menikmatimu sudah tidak bersahabat lagi. Senja, aku kalah. Karena aku tunduk begitu saja untuk melewatkanmu berganti menjadi malam yang sunyi dan tidak ada keindahan didalamnya. Hanya resah yang tersisa ..

Senja, semuanya akan terabadikan. Semuanya akan ada di pikiranku secaranya nyata, kamu indah .. Senja beritahu aku jika mekanisme alam sudah berubah .. maka memang sudah selayaknya jingga berganti gelap menjadi malam