INDONESIA BUKAN BANGSA TOPENG MONYET

“ Kerja, kerja, kerja. Kalau cuma kerja, apa bedanya kita dengan topeng monyet ? ”

Kemenangan Joko Widodo dalam Pemilu Presiden RI 2014 tidak terlepas dari jargon kampanye “Kerja, kerja, kerja”. Sederhana dan tulus, begitulah kesan yang ingin ditonjolkan beliau kepada para pemilihnya.

Mata pelajaran sejarah Indonesia yang kita enyam dibangku sekolahan menjadi kunci mengapa slogan ini menghadiahkan kemenangan pada Joko Widodo. Penyampaian sejarah Indonesia di sekolah cenderung menekankan pada penjajahan, mulai oleh Portugis sampai Belanda. Hal ini secara tidak langsung telah menanamkan mental budak pekerja dalam benak kita. Warisan perasaan terjajah yang bermetamorfosis dalam sebuah mindset, bahwa satu-satunya jalan untuk sukses hanyalah dengan bekerja.

Habis sekolah, kerja atau kuliah ? Selesai kuliah, kerja apa ? Jumpa teman lama, sekarang kerja dimana ? Psikologis rakyat Indonesia menempatkan “kerja” sebagai standar eksistensi dalam bermasyarakat. Hal inilah yang dibaca oleh Presiden Joko Widodo, “Kerja, kerja, kerja” adalah mantra sakti yang telah menyihir jutaan penduduk Indonesia.

Kerja, kerja, kerja. Kalau cuma kerja, apa bedanya kita dengan topeng monyet ?. Topeng monyet juga bekerja, tanpa berpikir, tanpa mengingat Tuhan. Topeng monyet tidak peduli bila dirinya ditertawakan, yang penting kerja. Begitukah mindset dan mental yang ingin kita tanamkan pada generasi penerus kita ? yang penting kerja ?

Sejatinya bangsa Indonesia adalah bangsa pejuang. Saat asing datang ke Indonesia untuk merampas kekayaan tanah Nusantara, apa yang kita lakukan ? kita melawan, kita berjuang, kita berdoa untuk pertolongan Tuhan, kita berperang menolak segala bentuk perampasan asing terhadap bangsa ini.

Sudah saatnya rakyat Indonesia berpikir cerdas dan kritis. Sudah saatnya sejarah Indonesia disampaikan dengan menitik beratkan pada perjuangan-perjuangannya. Sudah saatnya mindset sukses di Indonesia dirubah, bukan dengan bekerja, dengan berusaha dan berdoa. Analoginya, tentu lebih hebat pengusaha dibandingkan pekerja, tentu sebaik-baiknya usaha adalah yang diberkahi Tuhan. Berusahalah tanpa melupakan asal rezeki tersebut.

Tampak sepele dan tidak penting, hanyalah perbedaan kata usaha dan kerja, namun kata “kerja”lah yang faktanya membawa Jokowi Widodo menjadi Presiden Republik Indonesia. Apakah ini menunjukkan bahwa rakyat Indonesia memang bermental budak dan seterusnya hanya akan jadi perkerja untuk melayani kepuasan asing ? Semoga tidak demikian. Bangsa kita, Indonesia bukan bangsa topeng monyet.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.