Firda Nugraha
Sep 5, 2018 · 7 min read

Cerita Setengah Gelas Kopi yang Tersisa

Kebanyakan orang pasti sedih kalo ngeliat orang yang dia suka—suka sama orang lain. Call me weird, but I kind of enjoy it—ngeliat cowo yang gue suka tiap hari dateng ke satu kedai kopi di waktu yang sama cuma buat ngeliatin cewe yang dia suka masuk ke kedai kopi ini, mesen minuman, nungguin pesenannya jadi, terus keluar. Jangan kira gue gak sedih. Awal-awal gue mulai menyadari kalo cowo yang gue suka ternyata suka sama cewe lain, gue sempet absen dateng ke kedai kopi ini selama tiga hari. Entah karena rasa penasaran akan kelanjutan kisah cinta cowo yang gue suka atau karena gue emang pengen terus ngeliat dia aja, akhirnya gue memutuskan untuk balik lagi ke kedai kopi ini, melakukan hal yang sama dengan nama yang berbeda: dari ‘ngeliatin cowo yang gue suka’ jadi ‘ngeliatin cowo yang gue suka ngeliatin cewe yang dia suka’.

***

The Story of How I Like Him

Gue gak sengaja nemu kedai kopi ini pas lagi jalan-jalan muterin area wilayah perkantoran gue. Gue sebut ‘jalan-jalan’ karena gue emang beneran jalan kaki. Pas gue bilang ‘kedai kopi’ jangan bayangin kedai kopi yang adem dengan koneksi wifi dan harga secangkir kopinya setara sama biaya tiga kali gue makan dalam sehari. Ini kedai kopi biasa. Letaknya di dalem gang kecil, diapit oleh rumah makan padang dan toko alat tulis kantor. Tempatnya kecil. Sumber keademan ruangannya ada dua, tapi gak bikin adem-adem banget; bagian depan kedai yang terbuka jadi angin bisa dengan bebas masuk ke dalem dan kipas angin tua yang puterannya bikin lo was-was karena takut tiba-tiba baling-balingnya lepas dan lo tidak seberuntung itu buat menghindar dari tebasannya. Selebihnya kedai kopi itu dikelilingi dinding bercat hijau yang sudah tidak terlalu hijau untuk disebut hijau.

Terlepas dari kondisi kedai kopi yang kayanya terlalu maksa kalo gue bilang nyaman dan bisa jadi tempat yang asik buat nyari inspirasi, kopi buatan kedai itu enak buat ukuran orang yang sehari-harinya minum kopi instan dan terlalu perhitungan untuk menukar jatah tiga kali makan dengan secangkir kopi yang efeknya cuma bisa bikin lo berhasil nonton Titanic sampe abis tanpa ketiduran di tengah film—tapi, tentu saja, kelaperan. Sejak hari itu, kedai kopi ini jadi kedai kopi yang sering gue datengin.

Di kunjungan keempat gue ke kedai kopi ini, gue ngeliat cowo itu. Tinggi, berkacamata, memakai setelan kemeja warna krem dan celana bahan serta sepatu pantofel. Rambutnya hitam pekat dan terlihat berminyak, efek penggunaan gel rambut dalam jumlah banyak. Mungkin kantornya ada di sekitar sini juga. Atau mungkin malah kantornya satu gedung sama kantor gue. Di pertemuan pertama ini di mana gue cuma bisa mendeskripsikan postur tubuh dan pakaian yang dia pake, gue belom bisa bilang gue tertarik sama cowo ini.

Di kunjungan keenam gue ke kedai kopi yang kebetulan merupakan kesempatan kedua gue buat lebih merhatiin cowo ini karena ternyata dia lagi ada di sana juga, gue bisa tau warna matanya, wangi parfumnya dan merek jam tangannya serta jenisnya—analog, dan ini menambah nilai plus dia mata gue. Tapi karena kurang masuk akal apabila seseorang tertarik dengan lawan jenis hanya karena orang tersebut memakai jam analog, jadi gue masih belom bisa bilang kalo gue tertarik sama cowo ini.

Gue suka sama cowo yang suka baca buku. Yang baca buku aja, gue suka. Apalagi yang suka baca buku (paham kan perbedaannya dimana?). Di kunjungan kesembilan gue ke kedai kopi ini, gue ngeliat dia lagi baca buku yang sayangnya gabisa gue liat judulnya dari tempat gue duduk. Mungkin tertarik sama lawan jenis hanya karena orang itu sedang membaca sebuah buku bukan alesan yang lebih masuk akal dari suka sama orang karena jenis jam tangan yang dia pake, tapi gue tau sejak hari itu, gue mulai tertarik sama dia.

Bukannya gue gak berani buat make a move dan memulai percakapan duluan sama dia, gue cuma ngerasa kedai kopi ini gak terlalu romantis buat gue melakukan kedua hal itu. Coba kita bayangin seandainya aja kedai kopi ini bukan berada di antara rumah makan padang dan toko alat tulis kantor, melainkan di pojok jalan di sudut kota Paris. Di hari di mana cowo itu lagi baca buku yang judulnya bisa gue liat karena jarak pandang dan luas ruang yang memungkinkan gue bisa ngeliat judul bukunya—yang ternyata judulnya adalah… something by Shakespeare (judul bukunya keliatan, tapi otak gue sudah lebih dulu dipenuhi dengan topik apa yang akan gue obrolin dengan dia jadi jelas tidak ada lagi space buat mengingat judul bukunya), gue akan dengan percaya diri menghampiri dia dan memulai pembicaraan dengan bertanya buku apa yang lagi dia baca karena ternyata gue sama sekali gak tau kalo Shakespeare itu adalah seorang penulis.

Atau gue emang pengecut.

Yang jelas gue amat sangat menikmati kunjungan-kunjungan gue berikutnya ke kedai kopi ini di mana gue bisa ngeliat dia mesen kopi, duduk di salah satu kursi, menghirup aroma kopi dari gelasnya, kadang sambil baca buku, kadang sambil nonton siaran berita di tv, kadang sambil sibuk berkutat dengan ponselnya, kadang cuma bengong aja, lalu membayar minumannya dan keluar.

Sampai hari itu tiba. Kunjungan gue yang kelima belas ke kedai kopi ini.

***

The Story of How (I Know) He Likes Her

Di kunjungan gue yang kelima belas ke kedai kopi ini, gue tau kalo cowo ini sering mampir ke sini bukan cuma karena dia pengen minum kopi. Gelas kopinya yang isinya selalu dia minum setengahnya jadi bukti dugaan gue.

Setiap dia mampir ke sini, minuman di gelasnya gak pernah abis. Selalu tersisa setengahnya. Awalnya gue gak mencium hal aneh dari kebiasaannya ini. Malahan gue malah nganggep hal ini lucu. Kemudian gue jadi mikir, siapa yang rela dateng ke kedai kopi yang kondisinya jauh dari nyaman hanya untuk minum setengah bagian dari gelas kopinya?

Ada satu hal lagi yang bisa mengonfirmasi kebenaran dugaan gue. Di kunjungan gue yang kelima belas itu, gue baru menyadari sesuatu yang anehnya gak gue sadarin sebelumnya. Setiap gue lagi merhatiin cowo ini, dia selalu terlihat seperti sedang menunggu sesuatu—atau seseorang. Tapi gue gak tau apa atau siapa yang ditunggunya itu. And I’m dying to know that.

Keesokan harinya, gue dateng lagi ke kedai kopi dan cowo itu ada di sana, masih terlihat seperti sedang menunggu. Gue putuskan untuk menggunakan kesempatan ini untuk nyari tau apa atau siapa yang sebenernya dia tunggu. Sepuluh menit berlalu, ekspresi cowo ini masih belum menunjukkan kalo yang dia tungguin akhirnya dateng. Sampe akhirnya pandangan cowo itu terpaku sama seorang cewe yang baru aja masuk ke kedai kopi ini, gue tau apa yang sebenernya ditunggu oleh cowo ini.

Keberanian.

Sama kaya gue, dia menunggu keberanian.

Cewe itu cantik. Tubuhnya mungil, rambutnya hitam, panjang dan dikuncir kuda. Hidungnya mancung sempurna. Sama seperti kebanyakan pengunjung kedai kopi ini, dia memakai setelan pakaian formal dan kemungkinan besar kantornya juga berada di dekat sini.

Ia tidak pernah meminum kopinya di sini. Kemungkinan besar karena keadaan kedai kopi ini yang tidak nyaman (dan ternyata menguntungkan posisi gue, if you know what I mean). Selama cewe ini ada di kedai, pandangan mata cowo ini gak pernah lepas sedetik pun dari sosoknya. Semua rasa bosan dan cemas yang keliatan dari mukanya sebelum cewe ini dateng ke sini, menguap entah ke mana. Berganti jadi ekspresi bahagia karena akhirnya dia bisa melihat cewe yang dia suka memesan kopi, menuggu pesananannya jadi lalu keluar lagi. Dan semua itu memakan waktu gak lebih dari lima belas menit. Lima belas menit yang berharga buat cowo yang gue suka. Gak lama setelah cewe ini keluar dari kedai, the guy that I’m attracted to is also leaving.

Dia pergi.

Meninggalkan gelas kopi yang setengahnya masih berisi.

Setelah kejadian hari itu, gue merasa kehilangan minat untuk berkunjung ke kedai kopi itu lagi. Gue kembali harus puas dengan kopi instan bikinan office boy kantor gue. Begitu terus selama tiga hari. Tapi seperti yang gue bilang di awal, entah karena gue penasaran sama kelanjutan kisah cowo itu atau mungkin karena gue emang kangen dan pengen ngeliat mukanya lagi, akhirnya gue memutuskan untuk balik lagi ke sana.

Di kunjungan gue setelah tiga hari absen, perasaan gue campur aduk. Gue tau kalo ngeliat cowo yang gue suka ngeliatin cewe yang dia suka termasuk dalam kategori tindakan penyiksaan terhadap diri sendiri. Tapi gue pengen tau apa akhirnya cowo itu melakukan satu hal yang selama ini gak berani gue lakukan ke dia: stop being a coward and make a move.

Ternyata keadaan sama sekali gak berubah. Dia masih melakukan hal yang sama, ngeliatin cewe yang dia suka menghabiskan lima belas menit di kedai kopi ini setiap harinya. Melewatkan lima belas menit yang berharga cuma buat tau apa warna matanya, aksesoris apa yang cewe ini pake, mencoba menebak merek parfumnya dan mungkin merhatiin jenis jam apa yang dia pake.

Gue? Pretty much the same. Gue masih tetep merhatiin cowo yang gue suka ngeliatin cewe yang dia suka. Mungkin gue memang aneh. Tapi ngeliat cowo itu sama pengecutnya sama gue yang cuma bisa merhatiin orang yang kita suka secara diam-diam tanpa berani berbuat sesuatu, gue merasa gak sendirian. Seenggaknya gue tau kalo ternyata kita punya satu kesamaan.

Sama-sama terlalu pengecut.

***

Sampe sekarang gue masih melakukan kegiatan yang sama di kedai kopi ini. Begitupun dengan cowo yang gue suka. Bersembunyi di balik segelas kopi untuk merhatiin orang yang kita suka secara diam-diam.

Gak lama setelah cowo itu pergi ninggalin gelas kopi yang masih tersisa setengahnya, gue ngeliat gelas itu dan jadi mikir. Kalo setengah dari gelas kopi yang cowo minum itu adalah kesempatan yang dia gunakan buat mencoba mengenal cewe yang dia suka, maka setengah gelas kopi yang tersisa itu adalah kesempatan buat gue untuk bikin dia suka sama gue juga. Tapi sayangnya sekarang gue belom berani ngambil kesempatan itu.

Mungkin lain hari.

    Firda Nugraha

    Written by

    Weird kind of a grown up.

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade