Pagi, Malam, dan Di Antaranya
Pagi
Wajah bangun tidurmu.
Wangi kopi buatanmu.
Roti bakar dengan selai kacang kesukaanmu.
Anjing peliharaan kita yang menghampirimu.
Senyummu.
Ciumanmu.
Semuanya jelas. Tanpa buram sedikitpun. Bahkan saat air mata perlahan mengaburkan pandanganku, tubuhmu yang perlahan menjauh masih terlihat di situ. Di pintu itu.
‘Sebaiknya kita berpisah.’
Tidak. Kamu pasti sedang bercanda. Sebaiknya, katamu?
'Aku lelah.’
Tidak lebih lelah dariku yang sedang membayangkan bagaimana jadinya aku tanpa kamu.
'Aku lelah bersembunyi di belakangmu.’
Tidak lebih lelah dariku yang sedang menyembunyikan kegelisahan karena membayangkan bagaimana jadinya aku tanpa kamu.
'Aku mencintainya.’
Aku mencintaimu.
Malam
Wajah kantukmu.
Wangi parfummu.
Baju motif garis-garis kesukaanmu.
Anjing peliharaan kita yang mengejarmu.
Tangismu.
Pelukanmu.
Semuanya akan tetap dapat kulihat dengan jelas. Sekalipun aku buta. Bahkan setelah bulan-bulan berlalu sejak kepergianmu, ingatan akan malam itu justru semakin nyata. Tak peduli bahwa aku ingin lupa.
'Aku akan pergi.’
Aku tetap tidak mengerti.
'Surat-surat perceraian akan diurus oleh pengacaraku nanti.’
Persetan dengan surat-surat. Mereka tak bisa menahanmu agar tetap di sini.
'Terima kasih untuk semuanya selama ini.’
Rasa bersalahmu yang berbicara atau memang mendadak kamu jadi pandai berbasa-basi?
'Maaf.’
Rupanya kamu memang telah pandai berbasa-basi.
Di antaranya
Kita bertemu, karenanya.
Kita berpisah, karenanya.
Aku tidak akan pernah tahu bahwa ada seorang perempuan serupa malaikat yang membuat aku jatuh cinta pada pandangan pertama kalau bukan karenanya. Dia yang mempertemukan kita berdua. Dia juga yang membantuku mencari alasan untuk bertemu lagi denganmu setelah pertemuan pertama kita di galeri itu. Bahkan dia yang memilihkan baju yang kupakai dan jenis bunga apa yang harus aku bawa malam itu. Sampai pada hari di mana aku menemuimu dengan sekotak cincin dan seperangkat alat lukis, dengan gugup mengajak kau mewarnai ratusan bahkan ribuan kanvas berdua, hanya bersamaku, ia tahu. Ia ada di balik rencana itu.
Yang tidak aku sadari, dia adalah warna di kanvas kita yang perlahan mengintervensi. Seiring makin dekatnya kita berdua, kamu juga terus menjalin komunikasi dengannya. Ia yang pandai menyembunyikan rasa, atau aku yang kelewat tidak peka?
Mungkin benar adanya bahwa orang yang paling kalian cintai adalah orang yang paling berpotensi menyakiti. Ingatan yang terkunci di otakku adalah bukti otentiknya.
Menahan masa lalu bersama harapan yang membeku dan memori yang membisu.
(Terinspirasi dari lagu Barasuara - Mengunci Ingatan)
