Firda Nugraha
Sep 6, 2018 · 2 min read

Tutur Partitur

C=do, pianissimo, andante.

Panggung megah dengan tata cahaya cerah berdiri kurang lebih lima puluh meter di hadapanku. Tolong diingat, jika bukan karena kamu satu-satunya yang ditinggalkan olehnya untukku, aku tak mungkin berada di sini, menghabiskan uang yang seminggu ini telah kukumpulkan di jalanan. Sebagai pengingat untukmu yang mungkin sudah lupa, perkenalkan, aku Sari. Dan ya, aku mengumpulkan uang di jalanan. Memanfaatkan pita suara dan gitar tua yang senarnya tinggal lima untuk mencari perhatian gendang telinga para pengendara yang kebetulan menyimpan uang receh di kendaraan mereka.

Lampu merah di perempatan itu dulu panggung kita. Saat matahari sedang bersinar dengan cerahnya kita menyanyi lagu ceria. Saat hujan menerpa, kita menyanyi lagu tentang duka. Tentang luka. Seperti lagu yang sekarang sedang kau nyanyikan di atas panggung itu, dengan dentingan tuts piano yang nadanya menyiksa. Yang sialnya, aku hapal tiap notnya. Dulu, aku selalu bertanya padamu seperti apa wujud cinta yang tertoreh luka. Saat itu kita sedang menyesap teh manis hangat di warung kaki lima.

Kehilangan, katamu.

C=do, pianississimo, vivace.

Perubahan, menurutku.

Lalu kita berdebat hebat sampai gelas teh manis hangat ketiga disajikan di hadapan kita. Akhirnya kita memutuskan untuk mengambil jalan tengah sebagai jawabannya. Kehilangan tidak selalu berarti kita tidak bisa lagi melihat rupa. Perubahan seseorang yang wujudnya masih ada adalah kehilangan juga. Dan ditemani rintik hujan di luar sana, kita terus bertukar kata. Lalu tanpa sadar, kita juga bertukar rasa.

Setelah sadar bahwa sisa uang yang kita punya tidak cukup untuk membayar gelas keempat teh manis hangat, kita pergi dari warung itu. Membawa kertas bertuliskan lirik lagu yang kamu ciptakan dan catatan kunci gitar sederhana yang tadi aku petik sebagai iringan. Membawa cinta yang kita harapkan.

C=do, mezzo forte, allegratto.

Saat kita menciptakan lagu itu, kita tak pernah tahu bahwa Tuhan ada disana, menyaksikan, dan sialnya, mengaminkan.

Saat itu cuaca cerah, angin bertiup membantu orang-orang di jalanan ini menghilangkan gerah. Seperti biasa, kita berkeliling menghampiri mobil yang sedang berhenti karena lampu merah. Sampai pada akhirnya, kita berada di samping mobil SUV warna putih itu.

‘Permisi, Om, numpang ngamen ya, Om,’ katamu pada sosok laki-laki umur 40-an di dalam mobil itu.

Di situlah Tuhan menjentikkan jari. Ternyata laki-laki itu secara kebetulan adalah seorang produser dari perusahaan rekaman ternama. Suaramu, ya, suara serakmu itu, adalah penemuan terbesarnya. Aku tidak pernah percaya bahwa cerita opera sabun murahan seperti ini bisa menjadi kenyataan dalam hidupku. Dan bagian terburuknya adalah, bukan aku pemeran utamanya, melainkan kamu.

Aku tidak pernah percaya hal itu, sampai detik ini.

C=do, diminuande, grave.

Jari-jari itu masih lincah menekan tuts piano sambil menyanyi. Penonton lain riuh, terpukau dengan penampilan yang mereka lihat. Kurang lebih lima puluh meter dari panggung, ada aku yang sedang menahan sakit karena tiba-tiba saja bibir ini secara otomatis ikut menyanyikan lagu itu. Lagu yang berasal dari perdebatan di warung kaki lima. Lagu tentang luka. Tentang kita. Tentang duka.

Menyanyilah. Menyanyilah terus. Karena hanya itu satu-satunya kenangan yang kumiliki tentang kamu yang kini terbawa arus.

Karena sesungguhnya, alasanku selalu datang ke setiap pertunjukan musikmu hanya satu, karena cuma kamu yang ditinggalkannya untukku.

Ya, kamu, Jack. Dan dia, Jaka.

    Firda Nugraha

    Written by

    Weird kind of a grown up.

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade