“Pendidikanku belum berhasil…”

“Pemberontakan tani selamanya tidak berarti, Tuan.”
“Tetapi keadaan terganggu.”
“Gangguan kecil macam itu sudah masuk dalam hitungan ongkos produksi,” sekarang ia nampak berusaha agar tidak terdengar menggurui. “Berapa kekuatan tani tidak bermodal itu? Berapa kerusakan bisa ditimbulkan mereka? Takkan lebih banyak dari harga duapuluh karung gula.” Ia tertawa, tak jadi terbahak. “Apa arti duapuluh karung dibandingkan dengan limaribu karung? Tani-tani itu sebentar kemudian akan dapat ditertibkan lagi. Paling lama seminggu. Dan keadaan akan balik seperti sebermula. Tapi, Tuan Tollnenaar, kalau manusia berubah… aduh, keadaan takkan balik seperti semula. Syarat-syarat kehidupan mulai bergerak dan berubah pula, makin lama makin meninggalkan keadaan semula.”
(dikutip dari Anak Semua Bangsa, hal. 398–399)

Modal

Modal merupakan sesungguh-sungguhnya pemerintah. Gunung bisa runtuh, hutan tak lagi tumbuh hingga kebebasan dapat dibatasi semua terjadi atas restu modal. Modal bukanlah semata-mata soal uang, melainkan juga pengertian atas suatu perkara, pengetahuan yang luas hingga pertalian darah dengan mereka pembesar-pembesar negeri. Pengajaran yang kudapatkan tak ubahnya melanggengkan pemahaman akan modal itu sendiri. Tempuhlah pendidikan setinggi mungkin dan bikinlah jaringan seluas mungkin agar kelak, kau bisa kuasai hal-hal yang ingin kau kuasai. Sekalipun itu kuasa atas bangsamu sendiri. Sekalipun itu menginjak-injak moral yang dijunjung tinggi. Nampaknya, pengertian dan penerapan dari modal itu sendiri sudah diajarkan oleh bangasaku sejak jaman dahulu. Terpatri lekat dalam mental dan rasa yang kupercayai. Leluhur-leluhur bangsaku yang disebut priayi itu tak ubahnya raja-raja kecil dengan Eropa raja besarnya. Nikmatnya kekuasaan membuat siapapun ingin mempertahankan kepentingannya. Tahayul yang tak masuk akal sudah barang buatan manusia. Rasa hormat melalui nama-nama sengaja dibuat agar ada penegasan atas suatu status.

Namun, bagian inti dari modal itu adalah pendidikan. Moral dibentuk dari pendidikan. Keberanian ditopang oleh pengetahuan, yang sudah tentu didapatkan dari hasil pendidikan. Menjadikan pendidikan sebagai kemewahan sebagai bagian dari hak pembesar tak ubahnya seperti melanggengkan kekuasaan itu sendiri. Yang berilmu mengatur mereka yang bodoh, yang tak berilmu. Tapi itu dulu.

Zaman sekarang pendidikan bukan lagi kemewahan. Pendidikan itu ada di mana-mana, mulai dari kelas satu sampai tak berkelas juga bisa didapatkan dengan mudah. Namun, tujuan dari pendidikan itu sendiri? Apakah masih sama dengan yang dahulu? Untuk menjadi pembesar? Untuk menguasai dan mengatur mereka yang bodoh? Aku masih sama, sungguh mohon ampun kepadaMu, tak ada bedanya diri ini dari kaum berabad-abad yang lalu. Pendidikan itu membentuk manusia menjadi utuh, sehingga kehidupan menjadi bergerak, keadaan menjadi lebih baik. Mereka yang kuat mengangkat yang lemah, yang pintar menjadi guru untuk mereka bodoh, yang kaya menaikkan derajat mereka yang tak punya apa-apa bahkan barang kebebasan.

Modalku adalah pendidikan. Pendidikanku belum berhasil. Aku ini masih mendefinisikan rasa syukur tak lain adalah rasa bahwa hidupku ini jauh lebih baik dibanding mereka yang tak beruntung. Sungguh kejam memang diriku, menggantungkan rasa syukur pribadi kepada nasib orang lain, yang lebih lemah, lebih bodoh, lebih tak berdaya. Aku ini masih bangga menginjak-injak pedagang yang lemah, namun tunduk hormat kepada pedagang yang kuat, yang punya nama. Tak ada bedanya diri ini, dengan mereka yang dahulu. Membodohi pribumi yang lemah, namun tunduk dengan upeti kepada pembesar yang bermodal lebih kuat. Ampuni aku.