Product Owner…Sang Entrepreneur

Apakah masih banyak yang berfikir, bahwa Product Owner adalah seorang Manager?

Masih…banyak banget.

Scrum itu simple, tapi bukan hal asing ketika banyak orang masih salah memahami karena mereka memulai dari mencocok-cocokan dengan methodology lama.

Peran Product Owner dalam Scrum adalah menghadirkan perspektif bisnis kedalam tim dalam menciptakan dan memaintain sebuah produk. Product Owner berperan sebagai perwakilan tunggal yang mewakili stakeholders, internal dan eksternal. contohnya mewakili user, investor, manager, partner, pelanggan atau gabungan dari semua ataupun lainnya.

Tunggal?

Ya, tunggal. Karena seperti yang kita tau terlalu banyak role dalam sisi bisnis kadang malah menimbulkan banyak masalah. Terlalu banyak kepentingan, approval, proxy hanyalah sebagian contoh saja.

Product Owner haruslah seseorang yang memiliki power untuk mengambil keputusan. Product Owner sejatinya adalah Mini-CEO.

Mari kita telaah.

Tugasnya apa sih?

Meskipun Product Owner cenderung memiliki tugas management di luar Scrum, adalah penting bagi seorang Product Owner terlibat secara aktif dan teratur dengan Development Team. Tujuannya untuk meningkatkan integritas secara menyeluruh dan mengurangi masalah-masalah seperti miskomunikasi, pengkotak-kotakan, yang berujung saling menyalahkan.

Product Owner memastikan adanya Product Backlog, bekerja sama dengan Development Team sebagai koki-nya.

Product Backlog terdiri dari pekerjaan-pekerjaan (tasks) yang merupakan perwujudan visi dari sebuah product saat itu. Task-task ini bisa berbentuk functional, non-functional, enhancements, fixes, patch, ideas, ataupun keinginan-keinginan lainnya.

Product Backlog haruslah transparan. Product Backlog adalah milik sebuah produk, bukan tim.

Sang Product Owner me-manage Product Backlog berdasarkan visi dari produk tersebut sebagai acuan kedepannya. Visi sebuah produk sendiri merupakan alasan mengapa (Why) sebuah produk dibuat, sehingga penting dalam pengambilan keputusan secara iterasi dan bertahap. Visi tersebut sangatlah membantu Product Owner dalam mengekspresikan ekspektasi dan ide yang dituangkan ke dalam Product Backlog bersama Development Team.

Product Owner mengatur budget dari sebuah produk untuk mengoptimalkan value dan waktu yang dimiliki untuk ditampilkan kepada Stakeholders.

Sang Product Owner haruslah memaksimalkan value. Harus!

Product Owner mengundang para Stakeholders kedalam Sprint Review untuk berkolaborasi dengan tim dalam membahas apa yang telah di-deliver, apa yang tidak di-deliver, pergerakan pasar saat ini, ataupun langkah-langkah yang harus diambil dalam sisi bisnis. Tujuannya adalah berkolaborasi dalam pengambilan keputusan — yang paling efektif — untuk langkah selanjutnya. Yang pastinya akan dituangkan kembali ke dalam Product Backlog.

Tidak ada jaminan bahwa produk yang dipersentasikan dalam Sprint Review dapat membuat Product Owner senang. Product Owner tidak senang dengan hasil kerja bukan berarti hasil kerjanya ditolak. There’s no such thing.

Dalam sistem cara kerja yang iteratif dan bertahap hanya ada satu cara, yaitu; terus belajar dan berubah kearah yang lebih baik. Keep moving forward!

Yang bisa dilakukan oleh Product Owner (jika hasil yang didapat kurang memuaskan) adalah:

  • Tidak me-release hasil Sprint
  • Mengubah / menambahkan Product Backlog sesuai dengan apa yang ia harapkan
  • Meningkatkan partisipasinya dalam proses pembuatan
  • Mencari cara untuk meningkatkan pemahaman bisnis dari Development Team
  • Tidak melanjutkan Sprint selanjutnya

Jika product Owner memutuskan untuk me-release produk yang sudah dihasilkan pada akhir Sprint, maka tidak ada langkah-langkat tambahan lagi. Karena sejatinya, product yang ditampilkan di setiap Sprint Review adalah produk yang telah siap di release ke pasar.

Jika situasinya belum sesuai dalam setiap Sprint, maka pastikan untuk memaksimalkan Sprint Retrospektif untuk mengidentifikasi improvement yang harus dilakukan agar dapat mendekati situasi yang optimal — releaseable working product.

Apa dibutuhkan agar dapat menjadi Product Owner yang baik?

Ada banyak ciri-ciri dan skill set yang harus dimiliki seorang Product Owner. Bahkan terlalu banyak untuk disebutkan satu persatu. Tetapi yang paling utama adalah spirit Entrepreneur.

Terlepas daripada itu, jika kita memiliki seorang Product Owner dalam organisasi kita, dapat dikatakan bahwa kita telah mengimplementasi Scrum. Scrum akan semakin efektif ketika Product Owner memiliki hak penuh terhadap produk itu sendiri.

Ilustrasi ScrumAnd

Ketika seorang Product Owner berperan seperti mini-CEO, ini membuktikan betapa pentingnya seorang Product Owner dan pemahaman organisasi dalam pengimplementasian Scrum.

Tidak mudah menjadi Product Owner. Dibutuhkan beberapa pemikiran dan sudut pandang yang berbeda. It may take some times.