Diri Pada Hamba

Diri yang murni asali mulai membungkuk pada kaedah-kaedah penokohan. Atas apa yang di sebut sunyi berjubah sepi, hingga sampai pada berisik yang tak tau diri.

Kalam-kalam ketuhanan datang menjelaskan kehambaan. Dari sunyi ke bunyi, bunyi ke kata, kata ke aksara, aksara ke cinta dan jatuh pada perihal intuisi.

Begitulah diri, selalu tertarik atas luapan metafor berparas eksis tanpa melihat bara panas bersembunyi di sela-sela nafas.

Khilaf demi khilaf dijadikan alasan atas kesalahan. Meminta saat krusial dan lupa ketika jauh dari kata gagal.

Hatur Maaf hamba, atas salah yang disengaja. Lupa pada yang mula, hingga sadar bahwa diri memang hanya sebatas tunduk dan patuh padaNya.

Firman.
Rabu, 21 September 2016.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.