“Kepedulian Sebagai Bahan Bakar Kaderisasi”
Di sela-sela obrolan di sebuah warung kopi bersama seorang teman, tiba-tiba terlintas pertanyaan yang selama ini terasa sangat normatif untuk ditanyakan namun begitu sangat penting untuk dicari jawabannya.
“Menurut lu, tanggung jawab lu ngga, kalo gua ngga berkembang?”
“Sebagai seorang teman yang merasa punya lebih banyak kesempatan untuk berkembang sementara di sisi lain melihat teman lain tidak punya kesempatan untuk bisa berkembang, rasanya ada yang kurang saja.”
Kemudian aku tersadar dengan status mahasiswa yang sedang ku emban sekarang, “mahasiswa itu seharusnya memiliki kepedulian”. Bukan soal harus atau tidak harus, tapi sebuah kenyataan yang begitu saja hadir tanpa sadar kapan hal itu terjadi. Sebagai seorang mahasiswa, seminimal-minimalnya kita mesti sadar dengan kondisi kita dan kondisi teman-teman di sekitar kita. Teman seangkatan, maupun teman lintas angkatan.
Kalau memang ada teman kita yang belum mengerti akan suatu hal, dan kita merasa lebih mengerti, harusnya tidak perlu menunggu untuk membantunya. Masa sih kita harus nunggu sampai ada teman yang ngulang suatu mata kuliah, buat kita ngadain tutorial?
Beralih ke konteks kaderisasi, pasti kita sering mendengar cerita tentang usaha untuk mewariskan suatu nilai yang dianggap penting oleh suatu kelompok tua ke kelompok yang lebih muda, tapi akhirnya gagal entah karena alasan apapun. Sejauh yang ku ketahui, biasanya yang terjadi adalah perasaan “sok pintar”, baik yang dimiliki oleh si kelompok tua ataupun si kelompok muda. Baik si kelompok tua yang merasa kelompok muda bodoh karena tidak bisa melakukan suatu hal, atau kelompok muda yang merasa kelompok tua bodoh karena melakukan suatu hal yang dirasa tidak punya nilai sama sekali. Dan itu akan selalu jadi lingkaran setan dimana pun dan kapan pun, entah disadari maupun tidak.
Penting untuk digaris bawahi bahwa suatu nilai tidak akan bisa diwariskan tanpa sebuah kepedulian. Kenapa tidak akan bisa? Karena sejak kepedulian itu hilang, maka yang ada hanya egoisme untuk mengutuk orang yang dianggap bodoh dan perasaan bahwa aku benar dan akan selalu benar. Berbeda dengan kondisi dimana hadirnya sebuah kepedulian, nilai akan secara alamiah diwariskan dengan cara yang humanis, karena menganggap orang lain adalah juga manusia yang sama-sama sedang belajar, atau sedang di kondisi yang baik maupun sedang tidak baik.
Seorang guru yang peduli dengan muridnya, sebodoh apa pun muridnya pasti akan diajarkannya, karena merasa nilai kebodohan harus diubah dengan nilai kecerdasan tapi dengan cara yang juga cerdas agar si murid bisa belajar untuk kemudian mewariskan kecerdasannya kepada murid-murid lainnya dengan cara yang cerdas saat dia menjadi guru kelak.
Berhentilah mengutuk orang lain, jadilah pembelajar yang peduli. Jadilah alasan untuk lahirnya orang-orang hebat di kemudian hari!