Mendekatkan Masyarakat ke Taman, Apa Harus dengan Menimbulkan Kemacetan?
Kota Bandung hari ini identik dengan kota dengan banyak sekali taman yang beranekeragam jenisnya. Mulai dari taman dengan berbagai pepohonan yang rindang untuk sekedar menikmati udara segar, hingga taman yang memiliki layar besar untuk pengunjungnya dapat nontong bareng suatu film, pertandingan sepakbola, dan lain sebagainya. Hal itu tidak lepas dari kebijakan Wali Kota Bandung periode 2013–2018, Ridwan Kamil, yang menginginkan Kota Bandung memiliki banyak taman dengan tema yang berbeda-beda dan tersebar merata.
Salah satu taman paling baru yang diresmikan di Kota Bandung adalah Teras Cikapundung. Sesuai dengan namanya, taman ini terletak di pinggiran Sungai Cikapundung, tepatnya di Kelurahan Babakan Siliwangi, Kecamatan Coblong. Jika melewati Jalan Siliwangi dari arah Ciumbuleuit menuju ke arah Dago, taman ini dapat dilihat di sebelah kiri jalan. Taman Cikapundung, menurut infobdg.com, merupakan suatu proyek lama yang dikerjakan oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum, di mulai pada tahun 2013 dengan target selesai pada akhir tahun 2014. Namun terdapat beberapa kendala hingga akhirnya rampung dan diresmikan pada Januari 2016. Taman ini memiliki tiga zona wisata, yaitu zona air mancur yang mengikuti alunan lagu, zona amphitheater yang berfungsi untuk acara musik, dan zona konservasi ikan khas Sungai Cikapundung. Euforia yang tinggi dari pengunjung, baik masyarakat Kota Bandung sendiri hingga turis manca negara, membuat Teras Cikapundung selalu ramai, tidak hanya pada hari libur namun juga pada hari biasa. Ada pertanda menarik yang menunjukkan bahwa kita sudah dekat dengan lokasi taman ini, yaitu mulai terasanya kemacetan panjang.
Taman Teras Cikapundung hanya salah satu dari banyaknya taman di Kota Bandung yang menyedot banyak perhatian pengunjung untuk datang. “Tujuan kita kan memang mendorong warga mendapatkan tempat hiburan selain pusat belanja di kota Bandung. Jadi masyarakat bisa mengisi aktivitasnya di taman. Taman selain berfungsi secara ekologis juga menjadi sarana sosial, budaya, rekreasi, edukasi, olahraga, estetika, juga menjadi tempat warga atau komunitas berkreasi,” ujar Rikke Siti Fatimah, Kepala Seksi Penataan dan Pembangunan Taman Dinas Pemakaman dan Pertaamanan Kota Bandung, dikutip dari wawancara Kompas.com, Rabu (04/02).
Tujuan pembangunan taman-taman di Kota Bandung sungguh sangat mulia, karena berusaha memfasilitasi masyarakat Kota Bandung dengan berbagai “ruang” yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai keinginan dan kebutuhan. Bandung tempo dulu, menurut cerita orang tua yang tinggal di Kota Bandung, diceritakan sebagai suatu kota peristirahatan dengan udara yang sejuk dan ditumbuhi bunga-bunga yang berwarna warni. Bahkan menurut Haryoto Kunto, dalam Wajah Bandoeng Tempo Doeloe (1986), Bandoeng Vooruit (perkumpulan arsitek, perancang kota, dan penata kebun di masa pendudukan Belanda) menjadikan Bandung sebagai laboratorium taman tropis Indonesia. Pembangunan taman-taman di Kota Bandung yang sedang gencar dilakukan saat ini, mungkin didasari oleh keinginan mengembalikan Kota Bandung seperti sedia kala, seperti saat Kota Bandung dijuluki Tuinstad atau Kota Taman dalam bahasa Belanda, meskipun tidak melulu taman dengan berbagai tanaman hijau.
Berdasarkan ilmu perencanaan wilayah dan kota, meningkatnya fungsi suatu lahan menimbulkan dampak berupa bertambahnya daya tarik orang atau sekelompok orang untuk datang dan kemudian beraktivitas di lahan tersebut atau biasa disebut trip attraction (tarikan perjalanan). Misalnya, fungsi lahan yang tadinya berupa lahan kosong (tanpa fungsi) dengan trip attraction yang sangat rendah, mengalami peningkatan trip attraction saat terjadi pembangunan restoran di lahan tersebut. Trip attraction yang terjadi, jika tidak diakomodir dengan sarana prasarana pendukung, misalnya tempat parkir atau jalan yang memadai, maka dapat menimbulkan eksternalitas negatif atau dampak negatif, salah satunya kemacetan.
Ilustrasi di atas serupa dengan kondisi yang terjadi di taman-taman Kota Bandung saat ini. Munculnya suatu taman yang baru dan memiliki daya tarik yang tinggi akan menimbulkan banyak pergerakan menuju ke taman tersebut. Pergerakan tersebut dilakukan dengan jenis moda yang beragam, mulai dari kendaraan tidak bermotor hingga kendaraan bermotor. Kedua pergerakan tersebut harus diakomodir dengan adanya jalan dan tempat parkir yang memadai, untuk menghindari terjadinya penumpukan kendaraan di jalan yang tentunya akan menimbulkan kemacetan. Sebagai contoh, taman Teras Cikapundung berada di ruas Jalan Siliwangi yang memiliki ukuran jalan yang tidak terlalu lebar. Pada saat sebelum adanya taman tersebut, kondisi jalan relatif bisa mengakomodir pergerakan yang terjadi pada hari biasa dan apabila terjadi kemacetan pun biasanya terjadi pada peak hour maupun saat weekend. Namun sekarang kemacetan cenderung terjadi pada setiap waktu di sekitar Jalan Siliwangi. Kemacetan ini juga semakin parah dengan kurangnya fasilitas parkir yang tersedia serta banyaknya pedagang yang berjualan di pinggir jalan. Padahal pengguna Jalan Siliwangi tidak hanya orang yang memang ingin mengunjungi taman Teras Cikapundung.
Sebuah fenomena menarik yang terjadi di Kota Bandung belakangan ini, banyak tersedianya taman dengan berbagai tema yang menarik di berbagai penjuru kota, dengan tujuan ingin “mengembalikan” masyarakat ke taman, justru menimbulkan munculnya titik-titik baru kemacetan di Kota Bandung karena tidak tersedianya sarana prasarana yang dapat mengakomodir pergerakan dan tumpahan aktivitas tersebut.