Oposisi atas Dongeng Keadilan

Kisah ini dinukil dari pengantar magnum opus, seorang peraih nobel ekonomi terkenal, Amartya Sen. Cerita dimulai ketika ketiga anak, Anne, Bob & Carla sedang dihadapkan dengan situasi tentang siapakah yang berhak menerima seruling yang ada di hadapan mereka. Argumentasi logis nya begini. Anne mengatakan seruling harus diberikan kepadanya karena dari mereka bertiga hanya dia yang tahu cara memainkannya. Bob mengatakan bahwa seruling harus diserahkan kepadanya karena ia sangat miskin ia tidak memiliki mainan untuk dimainkan. Carla mengatakan seruling adalah miliknya karena dia yang membuat seruling tersebut. Siapakah yang paling berhak memiliki seruling tersebut?

Sen berpendapat bahwa keberpihakan anda kepada siapa yang berhak mendapat seruling, bergantung kepada teori keadilan mana yang anda anut. Bob, yang paling miskin, akan mendapat dukungan penuh dari penganut sosialisme (Economic Egaliterian). Penganut liberalisme (Economic Capitalism) akan memilih Carla. Kaum utilitarianisme (Maximize Utility) akan berpihak kepada Anne. Anne akan mendapatkan kesenangan maksimum, karena benar-benar dapat memainkan alat musik tersebut.

Lanjut Sen, sulitnya proses penyelesaian sengketa kecil ini dikarenakan tidak adanya peraturan kelembagaan. Lebih jauh lagi, agar penyelesaian sengketa tersebut nantinya (akan) bisa diterima secara universal.

Saya pikir pertanyaan tersebut agak aneh. Kenapa bertanya tentang bagaimana mengalokasikan seruling kepada ketiga anak tsb? mengapa tidak bertanya dulu tentang bagaimana seruling tersebut eksis/benar-benar ada? Jika Carla tahu dia tidak akan mendapatkan seruling, dia tidak akan membuatnya. Oleh karena itu, jika kita menambahkan dimensi waktu untuk pertanyaan ini, maka tidak akan muncul pertanyaan sama sekali. Hanya pemilih Carla (Penganut faham Keadilan Liberal) yang konsisten terhadap eksistensi seruling.


Saya agak heran, mengapa Sen tidak memaparkan tentang ini, seolah-olah seruling tsb ada dengan sendirinya dan menyalahi aturan ke-eksistensi-an. John Stuart Mill, yang berpendapat bahwa hukum produksi itu sifatnya exogenous berbeda dengan hukum distribusi yang diciptakan dan diberlakukan oleh kehendak manusia. Dapat dipahami bahwa pendapat Mill diutarakan sebelum adanya revolusi marjinal (sekitar 1871) dan kegagalan nyata ekonomi sosialis. Namun sebagai teori kesejahteraan sosial layaknya teori Sen, kesalahan seperti itu memberi pemahaman bahwa para ilmuwan ekonomi hanya bekerja dalam paradigma. Dampak dari peniadaan metode empiris akan mengakibatkan lemahnya argumen yang dipaparkan oleh si ilmuwan.

Cerita tentang 3 Anak diatas menunjukkan bahwa tidak ada teori tunggal dalam keadilan, yang satu berpendapat tentang pentingnya meningkatkan distribusi hasil produksi dan yang lain menganjurkan agar menghapus 'ketidakadilan’. 
Pertanyaan tentang "Grand Desain" seperti apakah konsep keadilan yang benar-benar ideal, tidak akan pernah berhenti. Ia akan terus tumbuh dan berkembang layaknya rambut di sekitar ketiak.

Gubeng, 04 April 2017
Show your support

Clapping shows how much you appreciated Firmansyah Numero Uno’s story.