Tefotuho Hulu: Menjadi Daemon sebagai Momen

DAEMON. Untuk sebagian besar orang dalam bidang keprofesian komputer, istilah ini telah akrab dikenal sebagai sebuah program komputer yang bekerja sebagai background process. Sedangkan terkhusus untuk mahasiswa dalam lingkup himpunan program studi Teknik Informatika serta Sistem & Teknologi Informasi ITB, Daemon sederhananya diartikan sebagai mahasiswa tingkat akhir. Namun, lebih tepatnya Daemon dalam Himpunan Mahasiswa Informatika Institut Teknologi Bandung (HMIF ITB) adalah background process dalam keberjalanan Latihan Kepemimpinan Organisasi (LKO) tahap pertama yang mungkin lebih umum diketahui dengan sebutan SPARTA HMIF. Seperti halnya pada sistem operasi komputer, Daemon bekerja di belakang tanpa secara langsung berinteraksi dengan calon massa HMIF. Daemon merepresentasikan massa HMIF di luar kepanitiaan yang tidak hanya mengevaluasi peserta dari kegiatan SPARTA, namun juga rangkaian acaranya secara keseluruhan.

Di antara rangkaian acara SPARTA HMIF, Daemon hadir dalam beberapa forum khusus yang dipimpin oleh seorang Jenderal. Meskipun dari pandangan beberapa peserta kedudukan Jenderal ini hanya berlaku pada saat forum berlangsung dan lebih sebagai suatu peran simbolis ketimbang fungsi praktis, rupanya ia memiliki peran yang jauh lebih banyak daripada kelihatannya. Salah satu Jenderal Daemon yang bersedia meluangkan waktunya untuk berbagi dengan kami malam ini (27/08/2018) adalah Kak Tefo, seorang mahasiswa tingkat akhir dari program studi Teknik Informatika 2015.

Memiliki nama lengkap Hutama Tefotuho Hulu, ia berasal dari Jakarta. Mengenai alasan kebersediaannya menjadi Daemon bahkan Jenderal, ia mempertimbangkan peran Daemon adalah momen terakhir untuk mendekatkan dan menyatukan massa Enigma 2015 (HMIF’15) sebelum Arkavidia — sebuah festival informatika dan IT yang diselenggarakan oleh HMIF ITB tiap tahunnya — dan tentu juga sebelum kesibukan setiap orang dalam mengerjakan Tugas Akhir. Demi hal tersebut, Kak Tefo bahkan harus membagi waktunya di antara Kerja Praktik dan menjadi seorang Jenderal Daemon yang memiliki tugas cukup berat seperti misalnya saja mengatur teknis lapangan dalam forum yang berjalan. “Mungkin untuk Daemon yang lain tidak terlalu sibuk, sedangkan untuk aku lumayan sibuk. Tapi, nggak apa,

“Karena sudah jadi amanah yang aku ambil, harus aku jalani juga.” ungkapnya.

Adapun kesan yang ia dapatkan mengenai angkatan kami dari perannya sebagai Jenderal Daemon adalah bahwa kami unpredictable. Menurutnya, antara satu tugas dan tugas lainnya memiliki performa yang sangat tidak dapat ditebak. Bahkan jika harus membuat pola berdasarkan alur keberjalanan SPARTA HMIF 2017, Kak Tefo tak tahu harus menggambarkannya seperti apa. Mungkin hal tersebut terjadi karena kurangnya komunikasi, baik antarindividu maupun dalam angkatan secara utuh. Masih terlalu banyak kubu yang enggan untuk berbaur dan hal ini ia tekankan lagi pada kami pada saat wawancara — yang terus Kak Tefo sebut sebagai obrolan santai — bahwa sangat penting untuk melebur kubu-kubu di tengah angkatan. Sebab dalam perjalanan tiga tahun di IF-STI nantinya, sikap berbaur ini menjadi sangat penting mengingat dalam mengerjakan tugas-tugas kuliah tidak dapat dilakukan hanya di antara kubunya masing-masing. Sehingga momen SPARTA HMIF sudah seharusnya digunakan sebagai sarana mengakrabkan dan melancarkan komunikasi antara satu sama lain.

Seperti teman-teman lainnya di IF-STI, Kak Tefo pun baru saja menyelesaikan Kerja Praktik atau KP-nya di antara libur pergantian semester ke-6 menuju 7 lalu. Ia melaksanakan KP di Mapan — PT RUMA, sebuah perusahaan di bawah GO-JEK Group. Alasan ia memilih magang di sana, selain karena gaji yang ditawarkan cukup besar, adalah sebab divisi yang ia pilih pun memang sesuai dengan kemampuan serta bidang keprofesian yang ingin ia dalami, yakni business intelligence. Divisi ini berfokus pada pengelolaan data untuk kemudian dapat memberikan proyeksi tepat sehingga sistem bisnis dapat teroptimalkan. Oleh karena dalam memilihnya Kak Tefo bebas dari “ikut-ikutan teman”, ia merasa benar-benar mendapat tempat Kerja Praktik yang cocok untuknya serta dapat menambah relasi baru di dalamnya. Hanya saja, terdapat kendala dalam hal transportasi dari tempat tinggalnya menuju kantor tempatnya magang. Meski memakan waktu banyak, ia tetap memilih pulang-pergi dengan busway ketimbang mencari indekos dekat kantornya untuk menekan biaya dan juga menurutnya ia masih dapat memanfaatkan waktu di tengah perjalanannya untuk banyak hal.

Bercerita cukup jauh ke belakang, Kak Tefo mengaku memiliki motivasi unik dalam memilih melanjutkan studinya ke Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB, yakni karena ia tertarik untuk mempelajari hacking. Akan tetapi, seiring dengan bertambahnya wawasan yang ia dapatkan setelah akhirnya menjadi seorang mahasiswa STEI, ia mengubah motivasinya ke arah bagaimana IT dibutuhkan oleh banyak orang. Bahkan dapat dikatakan, pada masa kini, IT dibutuhkan pada segala bidang yang ada. Untuk itu, Kak Tefo pun sudah berencana untuk mengambil machine learning sebagai topik Tugas Akhir-nya. Sementara itu, Kak Tefo masih ragu dalam rencana ke depannya setelah menyelesaikan jenjang sarjana. Dalam hal mencari pekerjaan, umumnya perusahaan akan lebih memandang pengalaman di bidang keprofesian dibandingkan dengan riwayat pendidikannya. Akan tetapi, Kak Tefo juga merasa ilmu yang ia miliki sampai tahap sarjana tidak cukup sehingga masih butuh dikembangkan melalui studi S2. Kalaupun demikian, Kak Tefo mengaku tidak tertarik melanjutkan studinya di ITB melalui program fast track dan lebih memilih ke luar negeri tapi belum terbayang akan ke mana.

Sudah memasuki tingkat akhir, tentu Kak Tefo telah melewati berbagai pengalaman, yang mungkin beberapa di antaranya juga sudah pernah kami cicipi dengan cerita berbeda. Misalnya saja SPARTA HMIF. Dari cerita Kak Tefo, pada SPARTA HMIF 2015 dua tahun lalu, angkatannya memiliki kendala dalam hal kurang dapat mengemukakan pendapat. Sehingga pernah terjadi suatu pertemuan dan mereka tidak melakukan pembelaan ketika diberi evaluasi yang tidak sesuai. Bahkan pada saat itu beberapa dari mereka sampai mendapat sedikit hukuman fisik dan tidak ada satu pun yang berani speak up menolak hal tersebut. Ada juga beberapa pandangan bahwa panitia SPARTA HMIF 2015 kurang melakukan analisis kondisi terhadap angkatan yang dikader sehingga metode dan sasarannya tidak tepat mencapai tujuan.

Selain itu, Kak Tefo juga terbilang sudah mencoba cukup banyak bagian struktural di HMIF ITB. Pada awal staffing setelah menjadi Anggota Biasa, Kak Tefo mencoba menjadi anggota Dewan Perwakilan dan Pengawasan (DPP) karena menganggap fungsi kerja DPP yang sangat sesuai dengan kepribadiannya. Selanjutnya ia juga sempat menjadi anggota Divisi Kekeluargaan di bawah Departemen Internal sebab ingin mengasah sisi mengayomi dalam dirinya. Setelahnya, tepat sebelum pergantian periode kepengurusan, Kak Tefo juga pernah menjadi bagian dari Tim Senator yang menurutnya cukup menarik karena mendapat banyak informasi mengenai dinamika kampus di luar HMIF ITB. Kemudian sejak naiknya Kak Fikri Hafiya (STI’15) menjadi Ketua HMIF ITB, Kak Tefo kini menjadi anggota dari Divisi Pengembangan Sumber Daya Anggota (PSDA) yang diketuai oleh Kak Arief Septian (STI’15) yang juga merupakan teman dekatnya. Kesibukan di PSDA saat ini lebih berat pada BIT 2016 (HMIF’16) sehubungan dengan sedang berjalannya SPARTA HMIF 2017.

Kak Tefo juga bercerita mengenai pengalaman uniknya dengan Bu Inge, seorang dosen senior di program studi Informatika ITB. Bu Inge yang pada waktu itu masih mengajar sebagai dosen mata kuliah Object-Oriented Programming terkenal dengan peraturannya yang strict di kawasan Gedung Labtek V. Saat itu, Kak Tefo sedang malas naik tangga dari lantai 2 ke Lab Ilmu dan Rekayasa Komputasi (IRK) yang berada di lantai 4 sehingga berniat menaiki lift. Sudah berhasil masuk dan pintu lift telah tertutup setengah jalan, muncullah Bu Inge dari arah tangga dan meneriakinya. Enggan diceramahi panjang-lebar, Kak Tefo memilih keluar dari lift dan langsung berlari menuju lantai 4 dengan menaiki tangga lain.

Demikianlah wawancara kami dengan seorang Jenderal Daemon, Hutama Tefotuho Hulu, berjalan dalam setidaknya 45 menit, mungkin lebih. Sebelum mengakhirinya, Kak Tefo menantang salah satu dari kami untuk meminta seseorang random yang rupanya merupakan mahasiswa Teknik Mesin untuk memfoto kami berdelapan. Karena berhasil, katanya sih, ia berjanji memberi kami hadiah di lain kesempatan. Terima kasih untuk waktu dan berbagai cerita pengalamannya, kepada Kak Tefo, dari kami:

  1. Abiel Putra Dimyati / 16517196
  2. Adyaksa Wisanggeni / 16517351
  3. Anissa Putri Dinanti / 16517268
  4. Dwi Nova Wijayanti / 16517163
  5. Fitria Budi Ananda / 16517173
  6. Muhammad Aditya Hilmy / 16517292
  7. Putu Gde Aditya Taguh W. / 16517003