Musik dalam Kehidupanku

Musik telah mempengaruhi lebih dari setengah hidupku.


Aku tidak begitu ingat ketika pertama kali mengenal musik ini. Orang tuaku berkata bahwa aku sangat menyukai film “Petualangan Sherina” ketika batita, dimanaa film ini merupakan film musikal. Anggap saja mulai usia 2 tahun.

Ketika aku pindah ke Medan, aku ingat aku pernah ikut les piano klasik. Dari situlah orang tuaku meminta aku lebih mengembangkan kemampuan musikku, karena mereka melihat potensi dan bakatku di situ. Namun saat itu aku ogah-ogahan.

Ketika saatnya aku berpindah ke Jakarta, aku sempat meninggalkan dunia musik itu dan ketika kembali dikenalkan dengan musik pada kelas 5 SD, aku harus memulai dari nol lagi. Sebenarnya sudah kenal kembali musik itu ketika aku mengambil ekskul ansambel di kelas 3 SD, namun hanya sekedar karena nggak tahu harus memilih ekskul apa. Hanya saja, aku mengiyakan untuk les musik kembali pada kelas 5. Sempat ada masa-masa aku tidak menyukai kegiatan tersebut dan rasanya ingin berhenti saja. Aku bersyukur orang tuaku tidak membiarkan aku menyerah.


Memasuki masa SMP, aku mulai mencoba mendalami kembali musik melalui paduan suara, namun ternyata aku lebih suka bermain keyboard. Dan saat itu guru seni musikku adalah salah satu orang yang sangat membantuku dalam hal mengembangkan improvisasi diriku, dan sejak itu aku mulai menghidupi musik. Aku pun mulai terlibat dalam pelayanan di sekolah dan gereja melalui permainan keyboardku. Pada akhir masa SMP, aku menemukan band Westlife, yang ternyata mendekati masa pembubaran mereka, namun aku tidak menyesal karena telat mengetahui musik mereka, dan terkadang musik mereka yang menjadi inspirasi musikku sendiri.

Pada masa SMA, tidak banyak hal signifikan terjadi mengenai musikku, kecuali pada saat aku mulai mengenal The Piano Guys, dan aku yang sempat menghindar dari musik klasik, malah ingin kembali mempelajari musik klasik tersebut. Bermula dari permainan piano Jon Schmidt, tau-tau saja aku jatuh cinta dengan permainan cello Steve Sharp Nelson. Iya, sejak itulah aku memutuskan untuk belajar cello. Memang hal itu sempat ditentang oleh orang tua, namun pada akhirnya mereka menyetujui.


Pada masa kuliah inilah aku benar-benar mencari aliran musik yang sesuai denganku, bahkan menemukan bahwa musik adalah gairah hidupku. Aku mengikuti ITB Student Orchestra dan Divisi Musik PMK ITB, dimana aku lebih banyak mendalami pemahamanku tentang musik dan bagaimana aku menggunakan talentaku untuk melayani. Kemudian aku tertantang untuk melakukan hal baru, mengaransemen musik.

Dahulu aku tidak begitu tertarik melakukannya, namun sejak memasuki dunia musik, aku sangat amat tertarik dan memiliki banyak ide untuk dikembangkan menjadi sebuah karya. Aku mengikuti sayembara aransemen ISO dan mendapat posisi kedua, di percobaan pertamaku! Hal inilah yang benar-benar menaikkan keinginanku untuk terus berkarya di musik. Bahkan gambar yang dilukiskan adik laki-lakiku di atas merupakan salah satu apresiasi musik yang aku percaya terinspirasi dari kesenanganku dengan musik, terutama alat musik gesek.


Sebagai mahasiswa Planologi, aku tidak hanya melihat Planologi dari bidang keprofesiannya, namun aku melihat dari berbagai hal. Bahkan dalam hal bermusik, aku melihat sisi perencanaan tersebut. Perencanaan dimulai ketika kamu memutuskan untuk mengaransemen sebuah lagu. Selanjutnya rencana yang dibuat adalah memikirkan alat musik yang akan dipakai dan bagaimana alat itu mempengaruhi seluruh lagu. Bahkan ketika aku tidak mengaransemen, namun berada dalam pelayanan, aku belajar merencanakan bagaimana sebuah lagu akan kami sampaikan kepada jemaat kami nantinya. Perencanaan adalah salah satu proses kerja sama, dan aku setuju. Ketika aku berusaha bermain dalam tim pelayanan, kami harus sepakat tentang metode di dalam lagu tersebut.


Begitulah bagaimana musik telah sangat mempengaruhiku dalam kehidupan, bahkan sampai aku menjadi mahasiswa pun, aku bisa menggabungkan konsep apa yang kupelajari untuk hal yang paling kusenangi dalam hidupku.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.