Selasa, Kata dan Tawa

Setelah senin mendiktekan murung dalam diri. Selasa datang menyapa dengan wajah beraut ceria;

Membawa bingkisan bahagia dalam sekotak aksara. Tanpa perlu lagi menoleh pada luka yang pernah tertulis di halaman tua.

Aku mulai mencicipi tiap kata dalam kotak berpendar bahagia. memakna. Dan sungguh, aku tak mampu menahan tawa.

Sebab selasa terlanjur hadir dalam kalimat pencipta senyuman. Huruf-hurufnya beterbangan, menyesaki udara.

Tangis ditukarnya dengan menertawakan kebodohan yang pernah melakoni kisah paling lara.

Ah, waktu bak pahlawan yang menyapu badai duka milik masa lalu.

Dan aku; tubuh penuh lebam oleh sayatan luka, kini perlahan pulih dan mulai belajar tentang cara melepas dengan rela, juga ketabahan sungguh-sungguh.

Terima kasih, atas sekotak aksara mengandung makna skaligus sebagai kado paling mewah yang telah melahirkan kembali tawa, selepas cerita berbalut kesedihan paling pilu.

Dan aku pelan-pelan melepaskan rasa sakit. luka pergi tanpa pamit.


|| Makassar, 08 Agustus 2017 #kolaborasiAgustus dari Lelaki Penikmat Sepi & Ai Raa

    FLP Unismuh Makassar

    Written by

    Berbakti. Berkarya. Berarti. “Karena kau menulis, suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi sampai jauh di kemudian hari.” (Pramoedya Ananta Toer)