Tentang Indonesia di Usia yang Kian Senja

Jerambah

Di tempat ini. Ada banyak rindu yang kau penjarakan di sekujur tubuhmu.

Datanglah kemari. Buatkan segelas kopi. Cukup segelas kopi yang kau aduk bersama manisnya kecupanmu. Agar dapat kuseduh secara perlahan.

Agar dapat kunikmati hangatnya kemerdekaan.

Oleh: Tetta Sallyy


Untuk​​ ​​Negaraku

Kemerdekaan​ ​mana​ ​yang​ ​akan​ ​kita​ ​rayakan​ ​esok?

Negara​ ​tidak​ ​dijajah​ ​bangsa​ ​asing
Bukan​ ​penduduk​ ​pengincar​ ​harta
Tetapi​ ​moral​ ​yang​ ​kian​ ​berubah
Melupakan​ ​perjuangan​ ​pejuang
Moral​ ​seakan​ ​terbang​ ​ke​ ​laut​ ​lepas
Meninggalkan​ ​sampah​ ​sesak
Menyisakan​ ​setitik​ ​keharuman

Ego​ ​kebebasan​ ​negaraku
Rakyat​ ​saling​ ​menghujat​ ​dan​ ​merendahkan
Pelajar​ ​memilih​ ​tawuran
Sekecil​ ​itukah​ ​arti​ ​merdeka?
Ke​ ​mana​ ​perginya​ ​persatuan​ ​dan​ ​kesatuan
yang​ ​selalu​ ​dielu-elukan?

Negara​ ​dijajah​ ​berabad-abad
Tetapi​ ​kenapa​ ​kemerdekaan​ ​terasa​ ​singkat?
Belum​ ​genap​ ​100​ ​tahun​ ​negaraku​ ​merdeka
Tetapi​ ​akankah​ ​kemerdekaan,​ ​persatuan,
dan​ ​kesatuan​ ​akan​ ​tetap​ ​ada?

Kembali​ ​ke​ ​pertanyaan​ ​awal, Kemerdekaan​ ​apa​ ​yang​ ​akan​ ​kita​ ​rayakan​ ​esok? Untuk​ ​negaraku, Negeri​ ​yang​ ​lucu,​ ​Negeri​ ​yang​ ​rusak.

Oleh: ​ SyR.Tari


Indonesia Mengulang Kenangan

Ia kembali melahap malam dan memuntahkan sang fajar.

Ini hari baru
Kemenangan kita.

Ragamu ragaku saling terkait
Berputar putar dalam damai
Indonesiaku

Sekali lagi, mari mengulang kenangan. Merayakan sejarah masa lalu penuh luka.

Oleh: Khalifah Ifha Mannan


|| Makassar, 23/08 2017 *(Di atas adalah beberapa karya pilihan sekaligus pemenang dalam “tantangan menulis 17 Agustus” beberapa hari lalu. Dalam memperingati HUT RI ke-72 tahun ini, kami mencoba mencipta makna dalam karya, dengan membuat tulisan-tulisan tentang indonesia dengan slogan “merdeka dalam kata”. Finally, hari merdeka atau pun tidak, tetaplah menulis sebab bangsa ini akan lebih baik dengan para penulis dibanding mereka yang hanya sibuk bicara, tanpa satu pun tulisan atau karya.

Salam Aksara! Berbakti. Berkarya. Berarti.

Dari kami, admin yang juga masih belajar menulis ☺

)

    FLP Unismuh Makassar

    Written by

    Berbakti. Berkarya. Berarti. “Karena kau menulis, suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi sampai jauh di kemudian hari.” (Pramoedya Ananta Toer)

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade