The Flying Feet
Nov 3 · 4 min read

Arti Nomor 9 di Era Sepakbola Modern

Ronaldo Nazario de Lima, pahlawan Brasil di Piala Dunia 1998 dan 2002, sering disebut pemain nomor 9 terbaik sepanjang masa. Sumber: sportskeeda.com

Nomor punggung 9 dalam dunia sepakbola memegang kesan yang spesial. Nomor yang sering digunakan oleh pemain berposisi penyerang ini menyiratkan akan kehadiran seorang yang haus gol, yang akan selalu hadir di saat suatu tim kesulitan menembus pertahanan lawan. Dalam sejarahnya pun, penyerang berkelas dunia hampir selalu memilih nomor punggung 9 dalam tim yang mereka perkuat, sebut saja Marco van Basten, Ronaldo Nazario de Lima hingga Samuel Eto’o.

Dua nama yang akan coba dibahas dalam tulisan ini adalah bomber Bayern Munich, Robert Lewandowski serta striker Liverpool FC, Roberto Firmino. Keduanya sama-sama mendapat kostum nomor 9 serta berperan sebagai garda terdepan dalam formasi tim mereka. Akan tetapi, samakah peran mereka di lapangan pada kenyataannya?

Lewandowski merupakan seorang penyerang bisa dibilang seorang konservatif di era sepakbola modern seperti sekarang. Era yang melahirkan banyak pemain pencetak gol yang tidak berposisi penyerang tengah, namun bisa dari gelandang sayap, gelandang menyerang maupun penyerang sayap. Pemain kebangsaan Polandia berusia 31 tahun tersebut memiliki kelebihan insting mencetak gol yang tinggi, penyelesaian yang di atas rata-rata serta kekuatan fisik yang menunjang posisinya sebagai seorang goal getter.

Setiap kesebelasan yang ia perkuat, sejak dari Lech Poznan, Borussia Dortmund hingga Bayern Munich dan timnas Polandia selalu mengandalkan dirinya sebagai penggedor pertahanan lawan. Secara statistik pun, Lewy, sapaannya, memiliki rasio gol per menit yang mencengangkan, ia telah mencatatkan 177 gol dan 27 assist dari 221 penampilan saat berseragam klub Bavaria tersebut.

Keberadaan pemain sayap mumpuni yang pernah dan masih berseragam Bayern ketika Lewy berada di sana turut membantunya meraih capaian itu, sebut saja duo legendaris Arjen Robben-Franck Ribbery, hingga saat ini Kingsley Coman, Serge Gnabry serta David Alaba. Gol-golnya pun bervariasi mulai dari sepakan kaki kanan, kiri hingga sundulan kepala serta dari titik putih maupun sepakan bebas. Timnas Polandia pun untungnya memiliki pemain sayap seperti Jakub “Kuba” Blaszcykowski serta Lukasz Piszcek yang mampu memanjakan Lewandowski dengan umpan manis untuk dikonversi jadi gol.

Robert Lewandowski, sering menjadi pemecah kebuntuan Bayern di sepertiga akhir lapangan. Sumber: rediff.com

Lain halnya dengan Firmino, salah satu pemain kunci Liverpool dalam Liga Champions musim 2018–19 lalu. Pemain asal Brasil tersebut memiliki perbedaan dalam konteks pemain nomor 9 dengan Lewandowski, dimana Bobby lebih mengandalkan link-up play, operan pendek serta positioning dalam permainnya di lapangan bersama Liverpool. Penempatan posisi Firmino dapat mendistraksi perhatian bek-bek lawan sehingga memudahkan pemain The Reds liannya untuk dapat membuat kesempatan mencetak gol. Hal ini secara strategi dapat diakomodasi oleh Jurgen Klopp, dikarenakan mereka memiliki dua pemain sayap modern, yang dianugerahi kecepatan, olah bola yang baik serta naluri mencetak gol yang mumpuni, dalam diri Mohammed Salah dan Sadio Mane.

Firmino sendiri sebenarnya memiliki kemampuan mencetak gol yang cukup baik juga, terbukti dari statistiknya bersama Liverpool dengan 69 gol dan 47 assist dari 207 penampilan. Jumlah assist yang cukup tinggi untuk ukuran seorang striker inilah yang membuat Klopp tidak membutuhkan seorang pemain bertipe playmaker, seperti Philippe Coutinho atau Mesut Ozil, dalam skema permainannya bersama Liverpool. Hal ini sedikit banyak juga ditunjang dari pengalamannya bermain sebelum membela Liverpool, dimana saat ia masih membela TSG Hoffenheim, ia sering bermain sebagai gelandang serang ataupun pemain sayap. Selain itu, ego yang tidak terlalu tinggi sebagai seorang nomor 9 juga yang membuat ia rela menjadi penyuplai untuk rekan setimnya.

Keberadaan Firmino serta kreativitas Salah dan Mane juga yang membuat lini tegah Liverpool mayoritas diisi pemain bertipe pekerja, macam James Milner, Jordan Henderson, Naby Keita hingga Fabinho. Keberadaan mereka bertugas sebagai pemenang perebutan bola untuk akhirnya disuplai ke lini depan, jangan lupakan pula keterlibatan duo bek sayap terbaik dunia, Andy Robertson dan Trent Alexander-Arnold yang rajin mengirim umpan terobosan. Tak salah bahkan bila Klopp pernah berujar bahwa Firmino adalah salah satu pemain terpenting di klubnya, seperti Salah dan Van Dijk.

Roberto Firmino, keberadaannya amat memanjakan Sadio Mane dan Mohamed Salah dalam membongkar pertahanan lawan. Sumber: liverpoolecho.com

Di atas kita dapat belajar dari dua Robert, dengan kemampuan berbeda yang dapat mendatangkan manfaat untuk masing-masing tim yang mereka perkuat. Kesebelasan mereka pun cenderung membentuk tim agar dapat mengakomodasi atau memanfaatkan kelebihan Lewy dan Bobby. Pemain yang bertipe seperti Lewandowski masih tersebar di Eropa walau tidak sebanyak zaman dulu, seperti Luis Suarez (Barcelona/Uruguay), Duvan Zapata (Atalanta/Kolombia), atau Jamie Vardy (Leicester/Inggris), sedangkan beberapa pemain bertipe nomor 9 lain menjadi seorang supplier dan berperan sebagai seorang Firmino di klub yang mereka perkuat, seperti Karim Benzema (Real Madrid/Perancis) atau Alexandre Lacazette (Arsenal/Perancis). (FF/MAW)

The Flying Feet

Written by

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade