Usai mengunduh e-books Julian Barnes dan Umberto Eco yang pernah saya baca, dan tidak menemukannya, maka saya yakin kata-kata yang diperlukan itu pernah diucapkan oleh Kurt Vonnegut. Saya bahkan tak ingat betul kata-katanya, kira-kira seperti ini: lukisan jadi mahal karena orang-orang tahu siapa dan apa si pelukisnya. Jadi, aman untuk mengatakan lukisan random ‘secanggih’ apa pun, diberi rating tinggi oleh para kritikus seni mana pun, tidak akan berharga apa-apa jika tak diketahui siapa pelukisnya.
Andai seorang peneliti lantas berteori kalau lukisan canggih tak bertuan itu sebetulnya dibikin oleh Grigori Rasputin saat sedang ngelmu, atau oleh Sathya Sai Baba dari lubang cacingnya, bisa jadi harganya serta-merta mahal, atau paling tidak, punya label harga.
Oktober tiba seperti biasa seiring dorongan untuk mengasah diri melalui inktober. Sebelumnya, ada waktu yang cukup panjang di mana saya berhenti menggambar bertahun-tahun sampai memiliki cukup uang untuk membeli cat dan lantas melukisi papan peti buah di kedai kopi serta melukisi dinding rumah orang tua. Oktober tiba seperti biasa dan saya mengajak para desainer di tempat-saya-bekerja untuk berpartisipasi dalam tantangan itu. Setelah berdiskusi, kami sepakat untuk: 1) tidak mengikuti prompt list resmi inktober 2) menggambar benda-benda di sekitar yang digabungkan, slip gajimu tetapi berbentuk mobil atasanmu yang takkan bisa kamu beli, misalnya.
Menggabungkan dua atau lebih benda telah saya lakukan sejak RPUL masih relevan. Maka, rasanya ini akan mudah saja. Untuk membuat inktober ini lebih berarti, terutama sebagai sarana latihan demi mempermudah dalam menerima atau melakukan proyek-proyek menggambar kelak, maka saya membuat beberapa batasan sendiri.
- Tidak menggunakan sketsa alias langsung weh.
- Tidak menggunakan penggaris.
- Tidak mengulang-ulang garis demi kelurusannya.
- Hanya menggambar ide yang sparks joy~
- Hanya menggambar benda-benda yang mudah digambar. Sayangnya, benda-benda yang mudah digambar seperti slip-gaji-berbentuk-mobil-mewah-atasanmu sama sekali tidak sparks joy. Maka, pada akhirnya hanya ada tiga dari lima batasan ini yang berlaku efektif.
Begitulah. Gambar-gambar berikut bisa dengan cepat menginformasikan siapa dan apa saya, meski tidak akan membuatnya otomatis mahal seperti yang dikatakan oleh Vonnegut di atas. Enjoi.

- Matryoshcat Robo
Rusia (tepatnya Siberia) selalu saya impikan sebagai antitesis dari wasteland. Hal ini barangkali menjadi dorongan untuk menggambar boneka Rusia (matryoshka) yang dipajang di meja rekan sekaligus agen rokok Rafif. Demi mengejar gambar sekecil dan sesimpel mungkin sekalian menjadi standar untuk 31 hari ke depan, saya menyatukannya dengan kucing bermata nyantuk yang saat itu kerap beredar di kantor yang saya namai Robo.

2. Jack White Coffee
Semasa kecil, guitar hero menurut majalah-majalah musik yang saya baca adalah para virtuoso macam Vai, Satriani, atau Malmsteen. Wulwuwiwlwiwuwiluiwiiwiww. Semasa tak lagi kecil, saya tersentak tatkala mendengar lagu pembukaan suatu film yang sederhana, manis, tetapi jitu. Selain telah mendengar musik-musik lainnya, lagu itu memberi pemahaman: orang ini pasti guitar hero dalam wujud lain. Jadilah orang itu, Jack White, digabungkan dengan minuman yang rutin saya beli yakni White Coffee (yang sejatinya adalah semua kopi yang dicampur susu), yang di negeri suram ini lebih dikenal sebagai suatu merek kopi kurang enak.

3 Roti Gundam
Dokter melarang saya memakan ini-itu, dan lain-lain, dan sebagainya. Salah satu yang belum dilarang adalah roti, dan gandum. Jadi saya membeli roti gandum, dimakan begitu saja, dan digabungkan dengan Gundam, pajangan entah-punya-siapa yang ada di rak kantor.

4. 8=∞
Hari itu saya mulai melewati satu poin batasan yakni membuat garis dengan satu tarikan, lantaran khawatir orang yang menjadi objek akan semakin tidak mirip —pemain berstatus legenda di klub sepakbola yang saya ikuti kiprahnya sejak kecil (yang kini bisa disebut tontonan belaka), yang mengenakan nomor 8, yang menjadi panutan semua bocah berkostum klub itu, yang namanya harum sebagai satu di antara gelandang termantap dalam sejarah, yang tidak terbatas.

5. Kamen Rider Kelatu
“Rayap di rumah kami sekarang bertransformasi menjadi kelatu (laron),” ujar Cigarro atau istrinya, Cindie, pastinya salah seorang dari mereka. Hari itu saya mulai tidak ngotot menggambar-pada-hari-itu-juga, karena ihwal pertemuan dengan kawan-kawan baik yang telah ada selama belasan tahun. Inktober tidak lebih mendesak ketimbang berbincang panjang-lebar (soal kelatu di rumah, tentang ketidakmungkinan memiliki rumah, apa saja) dengan orang-orang ini. Usai mengukur selama kurang lebih dua menit, kelatu sepertinya pantas dijadikan Kamen Rider. Makhluk dari kelas serangga itu haruslah pengendara motor pula, mengingat ide lainnya didapat dari kisah kawan yang lain, Dir Jer, yang harus mengganti satu ban motor dinasnya sehingga ia harus mengendarai motor monowheel.

6. Pohon Lampu
Kawan yang mengendarai motor monowheel itu datang dari kota sebelah. Dia menginap satu malam karena ada perayaan ulang tahun oshimen-nya dan ia merasa harus hadir. Saya mengantarnya ke kuil berhala di Sudirman, sekalian untuk ngopi-ngopi dan menggambar Kamen Rider Kelatu di kedai kopi bersejarah di sekitar kuil. Usai menuntaskan utang gambar itu, saya mulai menggambar lampu berwujud unik yang ada di kedai sebagai pohon yang menyerap listrik. Bisa saja dengan alasan lampu itu menyala karena tenaga listrik dari wota yang nongkrong di situ, yang pasti, malam sebelumnya saya nyaris tersangkut kabel semrawut yang menjuntai ke trotoar ibu kota.

7. Mendl’s Bemo
Interior kafe yang saya kunjungi bersama Kezia hari itu pastel betul, mengingatkan akan warna-warna dalam Grand Budapest Hotel. Setelah mencari-cari bagian mana yang ingin digambarkan, pilihan jatuh pada truk pengantar kue dalam film tersebut yang saya gabungkan dengan bemo, kendaraan yang mungkin tertanam di alam bawah sadar karena ia dipajang di depan kafe yang lain lagi, yang sebelumnya saya kunjungi bersama perempuan spesial yang sama.

8. Thrash Bandicoot
Setelah memutuskan kalau kami (para pekerja di kantor) tidak cukup mampu untuk patungan membeli game CTR di PS4, kami meminjamnya dari rekan yang telah memilikinya. Hingga berhari-hari saya memikirkan game tersebut, dan akhirnya memilih memelesetkan Crash Bandicoot menjadi anak Thrash Metal, karena memelesetkan rasanya adalah satu dari sedikit hal yang saya lakukan sejak selamanya.

9. Salad Suntik
Salad menjadi satu dari sedikit hal yang masih belum dilarang dokter dan mampu saya beli. Pagi itu saya disuntik (disedot darahnya untuk dicek). Tanpa kehadiran mayones, agak berat rasanya mengonsumsi dedaunan dan sulur itu, di samping beratnya untuk berkunjung ke rumah sakit pada jam tertentu (saya bukan penggemar penjadwalan). Jadilah terpikir untuk menyuntikkan sendiri saja benda-benda itu. Kalau bisa.

10. Gulai Orkestar
Suatu hari, saya tidak lagi mampu mendengarkan musik-musik keras dan suram yang biasa, saat bekerja. Musik yang disetel ada baiknya yang mengingatkan pada suasana riang, pasar malam atau perjalanan yang menyenangkan. Zach Condon telah menghadirkan hal tersebut sejak lama. Maka, nada-nada dari Beirut berputar-putar untuk beberapa hari, yang kemudian sampul salah satu albumnya [Gulag Orkestar] saya gabungkan dengan gulai — yang untuk saat ini sama menakutkannya dengan gulag.

11. Political Magnetic Compass
Untuk ketiga atau keempat kalinya sepanjang hidup saya mengecek ‘koordinat’ di kompas politik. Ketika mengisi pertanyaan-pertanyaan sembari menempatkan orang-orang tertindas, apes, dan underdog ke dalam kepala, hasilnya sama saja, seperti yang tertera di gambar. Mereka menutupi pemikiran ‘ideal’ saya yang cenderung berujung pada gejala seorang misantropis yang agak ramah.

12. Okto-bier
Usai membaca soal Oktoberfest yang naik di media tempat-saya-bekerja, dan tidak bisa menghadiri event tersebut (versi lokal, tentunya) karena dilarang minum bir dan tidak mampu membayar HTM-nya juga, bir seolah menjadi minuman fantastis. Sama fantastisnya dengan gurita yang meminum delapan macam bir sekaligus, masih bermodalkan pelesetan di bulan Oktober yang tidak fitri ini — Oktopus, Oktober, dan bir.

⠀
13. Kitsune Shanti
Pada Minggu di mana ide yang solid tak kunjung datang (selain tidur-tiduran sepanjang hari), saya berangkat dari musik yang didengarkan. Ikon Babymetal, bisa dibilang aksi musik paling genial dekade ini yang baru saja merilis album, digabungkan dengan tulisan Sanskerta untuk Shanti, lagu mereka juga.

14. Bane Bane
Akhirnya saya menonton Joker. Meskipun bagus dan cukup groundbreaking untuk film yang diangkat dari komik superhero, berat untuk setuju dengan bagaimana Joker akhirnya menjadi simbol. Musuhnya Batman, kalau ada yang cukup pantas dijadikan simbol, hanyalah Bane. Walaupun tidak mendengarkan jenis musik seperti yang dimainkan Bane (band yang kaosnya dikenakan Bane dalam gambar di atas), tetapi berat rasanya untuk bisa bikin yang lebih straight edge lagi — tidak bisa lebih simbolis lagi.

15. Kuache
Aki-P (atau siapa pun yang menggubah lagu Himawari) jelas telah kehilangan satu atau dua organ penting di tubuhnya. Kau tidak menciptakan lagu yang bisa dialihbahasakan tanpa kehilangan kesakralan dan keindahannya tanpa adanya deal dengan setan level tinggi. Lagu ini selamanya beredar dalam kepala, dan otomatis terputar ketika belakangan saya kerap memakan kuaci dengan alasan kesehatan, di samping karena ketagihan. Bagian “naiki motor tua, menara sebagai petunjuk” mengilhami saya untuk turut menyertakan Ernesto Guevara dan Alberto Granado menangis diam-diam, mendengar dan melihat langit seraya terus memacu montor menuju bunga matahari terbenam seolah Jennifer Hanna dan Octi Sevpin telah menanti di bawahnya.
⠀

16. Rick Cave
Sang Pangeran Kegelapan Nick Cave merilis album terbarunya bersama bandnya yang ajaib, The Bad Seeds baru-baru ini: Ghosteen. Setelah memikirkan untuk beberapa waktu mau-diapain-nih-orang ke dalam gambar (salah satu ide yang sempat muncul adalah menjadikan dia manusia gua, Nick Caveman, ha-ha), akhirnya saya memilih menggabungkannya dengan Rick dari Rick And Morty, seri kartun favorit yang game-nya masih saya mainkan nyaris rutin (game rip-off dari Pokémon yang alih-alih mengumpulkan monster, kau akan mengumpulkan berbagai varian Morty, ha-ha).
⠀

17. Dumbways to Hell
Hari itu saya ketakutan, barangkali lebih dari sebelumnya. Di tempat kerja, saya baru saja melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Sogeking di Enies Lobby (dan jelas, tidak ada seseorang seperti Luffy di sisi saya). Ketakutan itu berlangsung hingga berhari-hari setelahnya, menyerap tenaga dan pikiran. Kalau sampai dimatikan karenanya, itu akan menjadi cara yang bodoh untuk berakhir. Malam itu, rekan yang hanya datang ke kantor kala malam, Gery alias Bang Minum menyetel AC/DC — Highway to Hell (versi cover). Maka jadilah. Cara-cara bodoh untuk menuju neraka: tubuh yang bolong-bolong, (h)angus, dan masih muda.

18. Peaky Benders
Semakin jauh mengikuti kiprah seri Peaky Blinders, saya semakin khawatir terhadap kondisi psikis Cillian Murphy. Aktingnya yang muram dan seram-tertahan makin menjadi-jadi seiring berkembangnya cerita yang telah memasuki seri kelima. Di lain sisi, semestinya tak perlulah ambil pusing dengan apa yang dialami orang lain, selayaknya Bender dari Futurama.
Esoknya, saya membeli drawing pen baru berukuran 0,5 yang ikut andil dalam membuat saya membubuhkan lebih banyak detail pada gambar-gambar berikutnya. Sialan.

19. Guinness-fueled
Akhir pekan terus tiba, ketimbang terus memupuk ketakutan dengan berdiam diri di kostan, saya mencari kopi di luar. Ketika membaca berita-berita dari ranah musik internasional, sebuah ulasan singkat muncul. Guardian menyebutkan sebuah band yang, singkatnya, merevitalisasi Irish Folk. Sebagai Singlish-blood-Irish-heart, hal tersebut segera memantik saya untuk menggambar sesuatu soal Irlandia. Kelar melihat pola-pola Celtic yang butuh ketekunan lebih untuk menggambarnya, dan tidak tahu gaya menggambar dalam The Secret of Kells ‘bisa diapain’, saya kembali ke urusan-urusan stereotip yang dangkal. Andai tumbuh kembang di Irlandia, barangkali galon murah di kostan saya terdahulu akan berisi stout. Ah, keg untuk menyimpannya pun mirip wujudnya dengan tabung gas elpiji, memasak dengan bahan bakar stout barangkali bisa menjadi alternatif.
⠀

20. Gypsy Howl (Ghibsi/Gypli)
Tak hanya dari Peaky Blinders, saya telah terpapar akan kehadiran Kaum Gipsi sejak dulu dalam Petualangan Bebek atau mendengarnya di lagu Mercyful Fate. Kereta/karavan Gipsi merupakan objek yang sangat menggiurkan untuk digambar. Usai membatalkan niat menjadikannya mengambang laiknya hovercraft, saya menghubungkannya dengan Ghibli, pada salah satu desain benda paling memukau: kastil bergerak milik Howl.
Inktober Special: Tipsy
Malam itu saya membuat satu gambar lain yang berangkat dari usul Bhagabon, “gimana kalo kantor kita berpindah-pindah saja?” Sekalian karena hari itu saya masih ingin menggambar kereta gipsi. Jadilah gambar rekan-rekan kerja (hanya mereka yang saya ketahui aktivitas lainnya di kantor selain bekerja) sebagai digital nomad yang betul-betul nomad, seraya meniru cara dan tema menggambar saya semasa kecil. Menyegarkan. Untuk melihat gambarnya, kau barangkali perlu berkunjung ke tempat-kami-bekerja, jika sistem kerja-berpindah belum diterapkan.
⠀

21. Mad Max Stirner
Mad Max akan terus menjadi bagian dari saya, dan Fury Road layak dijajarkan dalam daftar film terhebat yang pernah dibikin umat manusia. Sementara, Max Stirner memengaruhi sederet pemikir hebat yang dijadikan panutan banyak manusia, meski gagasannya tidak hebat-hebat amat. Kendati jelas radikal dan alig, gagasan-gagasandiai sepatutnya tak perlu ditelantarkan begitu saja seperti nasib orang-orang di bawah rezim Immortan Joe. Yang pasti, Max yang ini sudah individual, gila, dan marah sebelum Rockatansky.

22. Napoleon Napoleon
Filmnya sudah menawan sejak pembukaan, seperti yang saya ceritakan pada gambar hari kedua inktober. Menyenandungkan lagu itu sehari-hari mengingatkan saya bahwa Napoleon Dynamite bisa saja digambarkan berpakaian ala Napoleon (yang Bonaparte) sambil menenteng dinamit.
⠀
⠀
⠀
⠀
⠀
⠀
⠀
⠀
⠀

23. Hedgecog
Beberapa malam sebelumnya, landak kepunyaan rekan yang tinggal di dalam laci di kantor (landaknya, bukan dia), melompat kabur dan ditemukan di kantor bagian belakang. Kegigihannya (si landak, bukan si rekan) menginspirasi saya untuk menggambarkannya dalam wujud yang keren. Tadinya ingin dipelesetkan menjadi atlet bog snorkelling (jenis olahraga hibrida tidak karuan) sehingga bisa dinamai HedgeBog. Namun, karena tingkat kesulitannya, saya memilih untuk sekadar mengubah duri si landak menjadi gir khas steampunk dan clockpunk (salah dua subgenre sci-fi kesukaan) yang hingga saat itu belum pernah saya gambarkan, sebetulnya, juga karena tingkat kesulitannya.

24. South Pole’s pole but Barber Pole
Tiang penanda barber shop sebagai tiang penanda kutub selatan. Tak lain karena sehari sebelumnya, saya mengunjungi tukang pangkas yang fancy dan layak, yang menjadikan rambut saya tampak lebih dingin.
⠀

25. Rorshark
Ucapan hakim soal kejiwaan Nunung melukai saya, sampai.. saya ingat sudah tak bisa dilukai di sektor tersebut. Rorschach (Walter Kovacs) pernah mengatakan lelucon soal Pagliacci dalam Watchmen, yang saya jadikan dasar menuliskan ini. Pada lain urusan, hiu membaui darah. Ia tidak ambil pusing bila kau sedang depresi tatkala menyelam di sekitarnya dengan luka mengucur. Begitulah. Tirai diturunkan.
⠀
⠀
⠀
⠀
⠀
⠀
⠀

26. Republik Chocovo
Ini termasuk pengaruh yang tampak nyata dari pekerjaan, selain bermimpi buruk yang ada urusannya dengan roda produksi. Saya rada tergugah ketika mengerjakan konten tentang Kosovo, negeri yang bangkit dari abu di mana pemimpin federasi sepakbolanya mati-matian bergerilya demi menunjukkan bahwa sepakbola di tanah prahara belumlah mati — sama sekali berbeda dengan kelakuan orang-orang di suatu negara yang kelewat luas. Simbol bentuk kawasan yang menjadi bendera Kosovo diganti dengan Chocobo, yang juga sebetulnya berkali-kali hadir dalam konten bikinan tempat-saya-bekerja.

27. SUNNE O)))
Sehari sebelum akun last.fm saya berulang tahun ke-10, saya menyusuri daftar musisi yang musiknya memenuhi kepala rapuh ini sejak 2009. Orang macam apa yang mendengarkan Sunn O))) hingga ratusan kali? Jawabannya: orang yang sehat jiwa-raganya. Kesimpulan asal-asalan itu saya dapatkan setelah mencoba mendengarkannya belakangan, dan.. ugh, lain kali saja. Bodo amat dengan fakta bahwa orang-orang di belahan lain dunia menggunakan lagu, ah, komposisi mereka sebagai pengiring yoga. Aksi drone doom ini digabungkan dengan Suneo Honekawa, yang kurang lebih sama snob-nya.

28. CAPONE “GANG” REGGAE
Sebagai salah satu, kalau bukan satu-satunya, kitab suci terpenting sepanjang sejarah sapiens merasa memerlukan kitab suci, saya harus menggambar setidaknya satu hal tentang One Piece. Beberapa ide harus dimentahkan begitu saja (Basil Hawkins dengan tubuh Stephen Hawking, Gaimon tetapi kepalanya Neil Gaiman, dsb.). Jadilah figur yang tampak paling tua di antara deretan bajak laut rookie ternama di One Piec menjadi pilihan. Kebetulan hari itu di Twitter, suatu akun kementerian sedang menjuluki bosnya sendiri ‘bapaknya kaum milenial’. Gang Bege setidaknya seratus kali lebih layak. Bahkan, seratus tiga kali lebih layak jika ia menjadi musisi suatu genre musik untuk orang-orang kurang darah. Yoman.

29. LELEVIATHAN
Seperti teraweh, hari-hari terakhir inktober kian berat. Saat buntu, gambarlah robot atau berangkatlah dari musik, pikir saya. Dari daftar musisi yang paling sering saya dengarkan dalam satu dekade, nama Mastodon berada di puncaknya. Paginya, ide itu kian jelas bentuknya setelah menemukan video live mereka di gig yang layak bersama vokalis yang layak (Scott Kelly dari Neurosis). Saya gemetaran, seperti lele yang tinggal di bawah kakus mendengar derap langkah kebelet manusia yang datang.

30. Flake-verse
Rasa-rasanya sesuatu yang bisa di-mashup dan digambarkan kian sedikit jumlahnya, kalau bukan dari musik. Terutama dari band yang saya yakini sebagai yang terbesar sekaligus paling teratur saat ini, Rammstein. Formasinya, koreo, dan segala tetek-bengek yang mengiringi pion Neue Deutsche Härte membuat mereka pantas mendapat predikat apa pun yang terbesar. Semua musik menggelegar aksi industrial bengal tidak akan sebesar itu, tanpa isian-isian iseng nyelekit tetapi bergizi layaknya corn flakes dari kibordis mereka, Christian “Flake” Lorenz, si unique snowflake di tengah para pria yang tampak keji.

31. WALL •OUT
Kesibukan bermain PS4 di kantor telah memenuhi kepala saya dengan CTR. Namun, karena telah menggambar sesuatu dari game balap rusuh tersebut pada hari kedelapan, saatnya untuk berharap pada game-game lain. Satu di antara game paling berpengaruh dalam hidup yang kian distopia ini rupanya belum sempat digambarkan: Fallout. Setelah memikirkannya selama sekitar dua hari, pagi buta 2 November saya akhirnya memutuskan untuk menggabungkannya dengan film animasi post-apocalypse gemilang, WALL•E. Dunia tidak akan membaik, tetapi Lone Wanderer bisa berteman dengan Dogmeat dan Charon, sementara WALL•E akan bertemu dengan Eve. Paling tidak, keduanya tidak akan terbangun di antara puing-puing tanpa ada sesiapa.
⠀

Kendati sepele, memikirkan akan menggambar apa nanti malam atau besok menyiratkan kepercayaan bahwa hari ini belumlah habis, dan esok masih akan datang, seperti seharusnya. Dan itu tidak buruk.
