Central Java Studies—Akulturasi Masyarakat Etnis Tionghoa di Semarang dan Jawa Tengah

Christin Rajagukguk

Suasana Pasar Semawis, Semarang (sumber: Hendra Tanzil).

Indonesia dikenal dengan negara yang penuh keberanekaragaman, memiliki beragam budaya yang berbeda, dan memiliki beragam suku dan bangsa. Seorang antropolog dari Universitas Indonesia, Konetjaraningrat, mengatakan bahwa akulturasi lebih ke sebuah proses terjadinya perubahan budaya dari hasil kontak antarkelompok masyarakat dengan kebudayaan tertentu dan asing dengan tahapan secara bertahap dan terus-menerus tanpa menghilangkan unsur budaya sendiri atau kepribadian dari kebudayaan tersebut. Budaya masyarakat etnis Tionghoa dan budaya masyarakat lokal di Indonesia telah melewati proses akulturasi. Semarang pada khususnya, dan Jawa Tengah pada khususnya adalah salah satu contoh di mana budaya Tionghoa dan budaya lokal telah mengalami akulturasi.

Proses akulturasi di Indonesia membutuhkan waktu yang lama, proses akulturasi dapat dilihat pada awal masa penjajahan, di mana masyarakat etnis Tionghoa telah diposisikan di atas etnis Jawa. Proses akulturasi di Indonesia pun berbeda, yang disesuaikan dengan kebijakan pemerintah yang memimpin pada masa tertentu. Pada masa pemerintahan Orde Lama, etnis Tionghoa sudah mulai ingin dihilangkan, yang mengakibatkan konflik. Kemudian berlanjut ke masa Orde Baru, yang juga menginginkan nilai-nilai budaya Tionghoa itu dihilangkan. Pada masa penjajahan, budaya lokal dan budaya Tionghoa mengalami akulturasi, berbeda dengan masa Orde Baru dan Orde Lama pemerintah menerapakan kebijakan asimilasi, di mana budaya Tionghoa harus melebur sehingga budaya Tionghoa tidak terlihat lagi. Pada periode Orde Baru masyarakat etnis Tionghoa banyak yang mengganti nama mereka serta identitas mereka, bahkan perayaan budaya atau keagamaan tidak boleh dipertunjukkan. Sebelum Reformasi, perayaan Imlek tidak dijadikan sebagai hari libur nasional. Memasuki era Reformasi, pemerintah menerapkan kebijakan integrasi yang mana kebijakan tersebut membantu mengintegrasikan masyarakat etnis Tionghoa ke masyarakat Indonesia dan menumbuhkan budaya Tionghoa kembali.

Pemerintah memegang peran penting dalam proses akultrasi budaya Tionghoa, di mana juga berpengaruh atas lembaga kebudayaan yang juga berperan dalam proses akulturasi tersebut. Namun lembaga kebudayaan yang berperan dalam proses akulturasi tergantung pada periode pemerintahan, seperti pada periode pemerintahan Orde Lama dan Orde Baru lembaga kebudayaan yang berperan dalam proses akulturasi adalah pemerintah, sementara di era Reformasi telah terbentuk berbagai lembaga kebudayaan, dan organisasi kemasyarakatan (ormas) yang dapat mewadahi kepentingan masyarakat etnis Tionghoa secara khusus. Di Jawa Tengah sendiri, masyarakat etnis Tionghoa ikut serta sebagai bagian dari salah satu ormas, yaitu Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI). Salah satu misi dari paguyuban ini adalah masuk dalam Arus Besar Bangsa Indonesia dengan turut serta secara aktif dalam pembangunan Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam segala aspek kehidupan, dan memantapkan jati diri sebagai salah satu suku dalam Keluarga Besar Bangsa Indonesia.

Seorang pakar perilaku politik dari Universitas Diponegoro, Hermini Susiatiningsih, berpendapat bahwa proses akulturasi di Jawa Tengah sudah dapat dikatan baik dan hasilnya positif, yang mana hal tersebut menunjukkan keberagaman di Indonesia. Di Jawa Tengah sendiri dampak dari akulturasi tersebut adalah tempat wisata yang merupakan salah satu bentuk budaya Tionghoa seperti Sam Poo Kong, Tay Kak Sie, dan Pasar Semawis. Namun, Susiatiningsih menyatakan bahwa akulturasi dari masyarakat etnis Tionghoa tidak diiringi aspek yang lain, hampir semua masyarakat etnis Tionghoa terfokus dalam aspek budaya dan ekonomi. Hal ini merupakan dampak dari Orde Lama dan Baru, di mana masyarakat etnis Tionghoa tidak diterima di aspek politik, dan pekerjaan di birokrasi. Hal ini dapat menjadi bumerang dan akan menimbulkan eksklusivitas dalam masyarakat etnis Tionghoa. Hubungan masyarakat etnis Tionghoa dan yang lainnya dapat dikatakan baik, tapi dengan catatan bahwa hubungan baik tersebut tergantung kondisi di masyarakat, karena terkadang apabila terjadi konflik, masyarakat etnis Tionghoa dapat menjadi sasaran, yang diakibatkan eksklusivitas dari masyarakat etnis Tionghoa, serta sikap dari masyarakat etnis lain yang belum dapat menerima seutuhnya.

Di Jawa Tengah sendiri, Susiatiningsih mengatakan bahwa masyarakat etnis Tionghoa lebih memilih terjun dalam dunia ekonomi. Sedangkan untuk politik masyarakat etnis Tionghoa dapat dikatakan pasif, dalam arti tidak banyak dari mereka yang terjun sebagai aktor dalam politik atau birokrasi, partisipasi politik mereka hanya dapat dilihat pada Pemilihan Umum.

Di Indonesia sendiri persepsi akan masyarakat etnis Tionghoa dan masyarakat pribumi masih melekat, meskipun memang telah terintegarasi, namun masyarakat belum menerima seutuhnya. Penulis melihat bahwa persepsi dari masyarakat etnis Tionghoa dan masyarakat di Indonesia sangat berpengaruh, hal inilah yang terjadi di masyarakat Indonesia apabila masyarakat etnis Tionghoa berperan aktif dalam politik atau setidaknya menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), yaitu dianggap aneh oleh masyarakat etnis lainnya karena tidak biasa melihat masyarakat etnis Tionghoa bekerja di aspek politik maupun birokrasi, sementara masyarakat etnis Tionghoa sendiri juga memiliki persepsi bahwa mereka tidak diterima dalam masyarakat.

Terbentuknya tempat wisata budaya Tionghoa di Semarang dapat dianggap sebagai sebuah kearifan lokal di Semarang pada khususnya dan Jawa Tengah pada umumnya, di mana budaya tersebut telah melekat dan tidak dapat dipisahkan dari masyakat. Terbentuknya tempat wisata budaya dari Tionghoa ini merupakan bentuk dari penerimaan masyarakat etnis Jawa akan budaya Tionghoa, dan dapat dilihat bahwa budaya Tionghoa dan budaya Jawa Tengah dapat terjalin harmonis, dan saling toleransi.

Penulis melihat bahwa akulturasi budaya Tionghoa di Jawa Tengah merupakan salah satu bentuk identitas dari masyarakat Indonesia pada umumnya yang dikenal sebagai bangsa yang toleran. Dan seiring dengan berjalannya waktu budaya Tionghoa telah mengalami akulturasi di Jawa Tengah dan diterima oleh masyarakat Jawa dan hal ini adalah sebuah bentuk kearifan lokal di Semarang, di mana masyarakat yang memiliki budaya yang berbeda dapat menjalin hubungan yang harmonis, sesuai dengan semboyan bangsa Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika, yang berarti berbeda-beda tetap satu jua. Menjadi berbeda bukan menjadi penghalang untuk masyarakat di Indonesia untuk hidup berdampingan.


Christin Rajagukguk adalah penanggung jawab program Central Java Studies. Dia juga merupakan mahasiswa Hubungan Internasional di Universitas Diponegoro.

Central Java Studies merupakan program riset yang difokuskan untuk mengumpulkan berbagai informasi mengenai budaya lokal di Jawa Tengah, baik yang kontemporer maupun tradisional.

Wawancara dengan Hermini Susiatiningsih selengkapnya dapat disimak pada tautan ini.

In a world of exclusives, we include.