Kendala Pemberdayaan UKM di Indonesia yang Harus Diatasi

Usaha kecil menengah atau yang dikenal juga dengan UKM saat ini tumbuh dengan baik di Indonesia. Namun, usaha kecil menengah tersebut masih terkendala beberapa faktor. Kendala pemberdayaan UKM di Indonesia tersebut jelas tidak hanya akan dapat berpengaruh pada pemilih UKM tersebut namun juga ke negara. Menurut M. Rizal yang merupakan wakil Ketua umum Kadin (kamar dagang dan industri) Jatim bidang UMKM ini mengemukakan jika kendalanya adalah pembiayaan, teknologi, inovasi produk serta riset pasar, dan inferensi.

Tidak dapat dipungkiri jika biaya adalah faktor utama yang menjadi penghambat bagi berkembangnya UKM bahkan untuk memulai UKM. Pembiayaan yang sulit dapat disebabkan karena persyaratan untuk mengajukan kredit usaha tidak hanya di perbankan namun juga di kreditor yang lainnya. Menurut M. Rizal, banyak bisnis yang feasible akan tetapi dianggap tidak bankable karena masalah agunan ataupun lamanya bisnis tersebut berjalan sehingga menghambat peminjaman atau pemberian kredit.

Kedua adalah teknologi dan inovasi produk. Walaupun saat ini sudah banyak yang menggunakan internet sebagai salah satu media untuk berjualan namun masih banyak orang yang tidak mengetahuinya terutama yang berada di desa sehingga kalah daya saing jika dibandingkan dengan UKM yang ada di kota ataupun inovasi produk yang dikeluarkan oleh pabrik. Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah harus menjadi salah satu pihak yang membantu memberikan pelatihan praktis wirausaha agar para pebisnis UKM di desa dapat mengetahui dan mengikuti perkembangan teknologi dan inovasi.

Kendala lainnya dalam pemberdayaan UKM di Indonesia adalah:

  • Riset pasar dan banyak pebisnis UKM yang tidak mendukung adanya riset pasar seperti peluang pasar, model promosi, barang substitusi dan komplementer serta pesaing yang mengeluarkan produk yang tidak jauh berbeda dengan yang dihasilkan pebisnis UKM. Minimnya riset tersebut akan membuat pengusaha UKM terutama yang pemula tidak mengetahui apa yang dibutuhkan pasar.
  • Inefisiensi yang kurang optimal sehingga tidak mampu untuk menciptakan tingkat skala ekonomi yang cukup baik yang menimbulkan pendapatan yang kurang namun tidak sebanding dengan penyerapan tenaga kerja serta jumlah unit usaha.
Like what you read? Give fresha simy a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.