Mencerahkan dan Mencerdaskan, Sudahkah?
Saya berkesempatan untuk mewawancarai 10 mahasiswa yang minimal telah berkuliah selama satu tahun di ITB. 7 dari 10 mengakui belum pernah membaca konten yang dikeluarkan oleh Pers Mahasiswa ITB sama sekali.
Pendapat Soal Persma ITB
Persma ITB kurang publikasi.
Hari Senin, tanggal 3 September 2018, saya mengikuti pertemuan sebuah unit. Di situ, saya mendapat ide untuk menanyakan pendapat dua mentor kelompok saya — yang merupakan mahasiswa Teknik Kimia dan Teknik Fisika — terhadap Persma ITB. Jawabannya mengejutkan, lantaran keduanya sama-sama merasa bahwa mereka tidak begitu sering melihat Persma.
Mentor dari Teknik Kimia menjelaskan bahwa ia jarang sekali melihat Ganeca Pos — media cetak keluaran Persma — di lingkungan KM ITB. Sekalipun ia cukup mengerti apa itu Persma ITB — bagaimana peran, posisi, dan segala macam lainnya — ia sendiri mengakui kalau ia tidak pernah melihat gerakan yang cukup nyata dari Persma. “Persma masih kurang publikasi,” katanya. “Mungkin bisa diakali dengan menyusupkan anggota-anggota Persma ke grup-grup Line mahasiswa TPB atau massa kampus lain untuk menyebarkan pos-pos dari OA Line Persma ITB — Ganeca Pos,” usulnya.
Lain hal dengan mentor dari Teknik Fisika. Ketika saya menanyakan pertanyaan tersebut, kepalanya sontak menggeleng. “Saya sama sekali enggak ngerti soal Persma.”
Ketika saya mewawancarai 6 mahasiswa lain yang memiliki latar jurusan yang berbeda-beda, jawaban yang saya dapat nyaris serupa. Mereka hanya tahu bahwa Persma adalah unit pers atau media yang dimiliki oleh ITB. Namun mereka nyaris tidak pernah melihat konten yang dikeluarkan oleh Persma. Seorang di antaranya bahkan benar-benar tidak tahu apa itu Persma. Kesimpulan mereka sama: Persma kurang publikasi.
Gagalkah Persma ITB?
Untuk menggiring isu-isu kampus dan membedahnya, Persma-lah ahlinya.
Gandhi Mardiansyah, mahasiswa Planologi’17, yang juga menjabat sebagai Staf Kementerian Relasi Masyarakat 2018/2019, menyatakan bahwa dirinya puas dengan tulisan-tulisan yang digodok oleh Persma. Menurutnya, konten Ganeca Pos menarik untuk dibaca dan cara penulisannya pun bagus. Ia menyukai cara Persma dalam menggiring pembacanya dan tetap mempertahankan kenetralannya. “Keren lah,” ungkapnya.
Menurutnya, kekurangan Persma yang mungkin turut andil dalam kurang terkenalnya Persma dan Ganeca Pos karena Kerabat (red: anggota Persma ITB) kurang eksis di KM ITB. Sehingga, Persma ITB belum berhasil untuk menyentuh elemen KM ITB secara menyeluruh.
Namun faktor utamanya adalah minat dari mahasiswa terhadap media mengenai isu-isu kampus memang rendah. “Mahasiswa ITB itu sangat kurang jiwa eksplorasinya,” jelasnya. “Banyak dari mereka yang lebih terpaku pada hal-hal yang sifatnya rutin — ya kuliah, mengerjakan tugas, dll.”
“Persma mungkin bisa coba untuk membuat video-video singkat seperti Kumparan maupun Opini. Karena media pers kan tidak selalu koran dan video jelas lebih menarik,” usulnya.
Pendapat nyaris serupa pun diutarakan oleh Eko Fajar Setiawan, mahasiswa Planologi’14, yang menjabat sebagai Menteri Relasi Masyarakat 2018/2019. Ia menyatakan kepuasan yang sama soal tulisan-tulisan Persma ITB. “Untuk menggiring isu-isu kampus dan membedahnya, Persma-lah ahlinya,” pujinya. “Misalnya saat perilisan Bacalon K3M ITB mendekati Pemira. Ini satu contoh yang paling berpengaruh di lingkungan KM ITB.”
Sama seperti pendapat stafnya, ia menyatakan bahwa Kerabat Persma kurang pendekatan ke internal kampus, bisa dibilang asyik dalam dunia sendiri. Selain itu, ia berpendapat bahwa kurang populernya Persma maupun Ganeca Pos disebabkan oleh metode yang diterapkan kurang atraktif. Ia melihat bahwa Persma kurang beriklan untuk memasarkan publikasi Persma.
“Untuk mengatasinya, bisa dicoba dengan mengadakan roadshow ke himpunan-himpunan atau unit-unit. Bila perlu, ajak mereka untuk berkontribusi dalam konten terkait keprofesian atau acara mereka,” sarannya. Ia juga menyarankan untuk melakukan periklanan layaknya di koran-koran besar.
Tanggapan Persma ITB
Ketidaktahuan mahasiswa soal Persma ITB, Ganeca Pos, maupun isu-isu hangat kampus, bersumber dari mahasiswa itu sendiri. Banyak yang memilih untuk tetap apatis.
Senapati Sang Diwangkara, mahasiswa Sistem Informasi’16, yang menjabat sebagai Kepala Divisi Informasi dan Teknologi Persma ITB 2018/2019, mengakui bahwa publikasi Ganeca Pos oleh Persma ITB belum menyeluruh ke semua elemen KM ITB. Walau begitu, ia lantas menyatakan bahwa ketidaktahuan massa kampus soal Persma maupun Ganeca Pos bukanlah kesalahan Persma ITB.
Ia mengungkapkan bahwa ketika Persma merilis sebuah berita maupun mencetak Ganeca Pos, mereka sudah berusaha semaksimal mungkin untuk membagikannya kepada seluruh massa kampus. “Buktinya, OA Line kami (red: Ganeca Pos) belum lama ini tembus 7000 adders.” Ia pun lalu mengungkapkan bahwa ketika koran Ganeca Pos telah siap edar, Persma selalu membagikan koran-koran tersebut ke tiap himpunan dan tiap unit. Mereka pun menaruh beberapa koran-koran tersebut di kantin-kantin yang tersebar di ITB. “Tujuannya agar ketika ada yang tertarik langsung bisa membacanya.”
Ia lantas berkomentar bahwa ketidaktahuan mahasiswa soal Persma ITB, Ganeca Pos, maupun isu-isu hangat kampus, bersumber dari mahasiswa itu sendiri. “Seperti contoh gampangnya adalah soal referendum. Walaupun Persma atau media lain seperti milik kesenatoran sudah berusaha untuk mempublikasikan soal referendum tersebut seluas mungkin, masih banyak mahasiswa yang tidak tahu. Banyak yang memilih untuk tetap apatis,” jelasnya. “Karena ITB itu institut yang prestisius, istilahnya. Jadi memang banyak orang yang masuk ke sini, ya, tujuannya memang untuk semata-mata fokus akademik dan tidak mau memberi waktu untuk hal-hal lain, seperti peduli dengan isu kampus.”
Menurutnya, Ganeca Pos sebenarnya sudah terpublikasi dengan sangat baik, terutama dalam lingkaran yang memang simpati dengan keadaan kampus. “Bila ingin dibandingkan dengan media lain, Ganeca Pos sebenarnya lebih populer,” ungkapnya.
Mengenai metode, Diwang mengaku bahwa ia adalah salah seorang Kerabat yang menentang keputusan Persma ITB untuk membuat koran sebagai media utama. Ia berpendapat bahwa di zaman sekarang yang serba digital, menggunakan web jauh lebih efisien. Keuntungannya adalah lebih cepat, tidak perlu rapat redaksi yang berlarut-larut, tidak perlu untuk mengurusi percetakan, dan bisa dilaksanakan secara berkelanjutan. Namun koran tetap menjadi media yang terpilih karena stigma masyarakat. Banyak orang berpikir bahwa konten koran jauh lebih ‘berbobot’ dibandingkan berita elektronik. Berita yang beredar secara daring dianggap hanya sebagai flashnews, walaupun pada kenyataannya tidak semuanya demikian.
Namun, Persma sudah mengimbanginya dengan membuat infografis yang dibagikan lewat OA Line Ganeca Pos. Persma pun kadang-kadang membuat video singkat yang dibagikan lewat kanal Youtube milik Persma ITB. Meskipun rata-rata pengunggahan video hanya dua video pertahun, Persma mengaku terus berusaha untuk membuat video sebanyak mungkin. “Masalah kami sebenarnya adalah kekurangan tenaga. Yang bisa mengedit video hanya dua orang, saya dan rekan saya satu lagi,” katanya.
“Tapi sekarang kanal Youtube Persma sedang tidak bisa diakses, sih,” tambahnya sambil tertawa. “Lagi bermasalah dengan copyright.” Namun ia mengaku sudah menghubungi pihak Youtube untuk memproses masalah tersebut lebih lanjut.
Tindakan Persma ITB
Yang bisa dilakukan Persma mungkin menambahkan konten yang lebih menarik dan memperbanyak berita daring.
Menurut Diwang, hal yang bisa dilakukan mungkin dengan menambahkan konten yang lebih menarik dalam wujud tajuk hiburan. “Karena selama ini, hal-hal yang sering dimuat di Ganeca Pos adalah hal-hal serius seperti sosial politik Indonesia maupun isu-isu panas di dalam kampus,” jelasnya. Hal kedua adalah dengan memperbanyak berita daring. Karena jangkauan berita daring tentu jauh lebih luas dan bisa disebarkan dengan mudah serta cepat.
Menurutnya, penambahan jumlah eksemplar dan edisi penerbitan Ganeca Pos tidak akan terlalu efektif. “Pasti, sih, akan semakin populer, akan semakin dikenal,” katanya. “Namun perkembangannya tidak akan cepat. Tidak akan terjadi penambahan jumlah peminat yang signifikan, tidak akan secepat kalau kita lebih fokus di web atau OA Line.”
Perubahan bentuk media dari koran menjadi majalah pun juga sama sekali bukan pilihan. “Ya, karena itu tadi. Orang-orang berpikir kalau tempat untuk mencari berita, ya, koran, bukan majalah.” terangnya.
Soal periklanan, ia mengungkapkan bahwa sebenarnya Persma membuka lowongan iklan secara manual yang bisa dilihat di akun Instagram Persma. “Namun memang kurang berjalan,” tuturnya. Ia juga mengungkapkan kalau sponsor yang bersedia untuk bekerja sama dengan Persma pun pada akhirnya kurang mempublikasikan soal Persma. “Jadi cara yang kami sering lakukan untuk mempublikasikan Persma adalah lewat media partner. Contohnya adalah media partner dengan kabinet, himpunan, serta unit lain. Ketika mereka ada acara, terkadang kami liput. Dan hasil liputan biasanya akan kami pos di OA Line, tidak kami masukkan ke dalam Ganeca Pos cetak, kecuali acara-acara besar milik kabinet seperti OSKM,” jelasnya.
Jadi, mencerahkan dan mencerdaskan, sudahkah?
Farah Kartika Dewi
16318190
